
Dengan hati yang terasa nyeri Melani tetep menemui kakaknya. Dia harus memastikan bahwa semua itu hanya prasangkanya saja. Dia tak akan membiarkan sang kakak menjadi benalu dalam rumah tangga kakaknya sendiri.
Helaan napas ia hempasan begitu saja sebelum menuju kesebuah meja dimana Naura berada. Hatinya sendiri saja sedang patah, tetapi sok-sokan ingin memberi penerangan untuk kakaknya.
"Kamu kenapa loyo gitu, lagi sakit ya?" tanya Naura saat Melani sudah menarik sebuah kursi didepannya.
"Mbak Na udah lama nunggunya?"
"Belum. Baru aja kok. Ada apa? Apakah ada masalah dengan Alzam lagi?"
Melani menunduk untuk sejenak menyembunyikan perasaannya yang sedang hancur. Niatnya bertemu bukan untuk mengadu akan nasib rumah tangganya, tetapi untuk menyadarkan Naura jika memang sang kakak berada di jalan yang salah.
"Mending tinggalkan saja pria seperti itu, Mel! Kamu masih muda, masih banyak pria yang mau menerimamu apa adanya. Apa sih yang kamu harapkan dari pria itu?" geram Naura.
Dia sudah bisa menebak jika saat ini Melani ingin mengadu akan sikap Alzam padanya.
"Mbak, jawab dengan jujur apakah Mbak Na punya mempunyai niatan untuk menjadi benalu dalam rumah tangga mbak Zahra dan juga mas Kanna? Jika ada, tolong buang jauh-jauh rasa itu, Mbak!"
Naura yang mendengar ucapan adiknya hanya bisa menelan kasar selesai. Entahtah mengapa tiba-tiba sang adik bisa memberikan kesan seperti itu, meskipun benar apa adanya.
"Ka-mu ngomong apa sih, Mel? Jangan ngaco, deh!" sanggah Naura dengan gugup.
Mata Melani menatap Naura yang semakin gelisah. Dari sini dia tahu bahwa sang Kakak sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tolong buang jauh rasa itu, Mbak! Jangan menjadi duri dalam pernikahan Mbak Zahra!"
Dada Naura sudah naik turun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa? Aku juga ingin bahagia, Mel!"
"Tapi cara Mbak Na itu salah!" tegas Melani. "Mbak Na bisa bahagia tanpa harus menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik mas Arkanna, Mbak!"
"Kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu sudah mendapatkan orang yang gadis kaya Kanna. Meskipun pria itu sama sekali tidak mencintaimu, tetapi kamu rela bertahan dengannya, karena pria itu kaya, Mel."
Melani menggeleng tak percaya dengan pandangan sang kakak saat menilai pernikahannya. Semua itu tidak benar. Melani hanya ingin menjaga sebuah ikatan pernikahan yang suci, sama sekali tak tertarik dengan kekayaan yang dimiliki oleh Alzam.
"Astaghfirullahaladzim, Mbak! Sejak kapan Mbak Na mempunyai pemikiran seperti itu? Jangan mempunyai sifat seperti bapak yang gila harta, Mbak!"
__ADS_1
"Sudahlah jika pertemuan ini hanya untuk mengguruiku, aku tidak tertarik!" ujar Naura yang memilih meninggalkan Melani.
"Mbak Na!" teriak Melani yang membuat beberapa pasang mata mengarah padanya. menyadari jika saat ini dia menjadi pusat perhatian, akhirnya Melani meminta maaf dan segera mengejar Naura.
Naura tak peduli dengan teriakan Melani yang terus memanggil namanya. Ia menertawakan nasib yang selalu mempermainkan dirinya. Saat dirinya belum sanggup menanggung beban, Ia sudah harus memikul beban yang begitu berat. Sang ibu yang pergi meninggalkan dirinya serta Ayah yang hanya bisa berjudi dan bermabuk-mabukan. selain menjadi seorang kakak, Naura juga harus berperan menjadi seorang ibu untuk Melani.
"Kenapa? Kenapa hanya kalian yang selalu merasakan kebahagiaan, sementara aku harus terus-menerus berjuang sendirian!" teriak Naura yang menyeka jejak air matanya.
Melani tak tahu apa yang sedang terjadi pada kakaknya sehingga dia bisa berubah. Saat ini Naura bukan seperti Naura yang dia kenal.
"Ya Allah ... apa yang sedang terjadi kepada Mbak Naura? Mengapa dia tiba-tiba berubah menjadi egois seperti itu?" Melani tak sanggup lagi mengejar Naura ketika sang kakak sudah berhasil menyetop sebuah taksi.
Belum selesai masalah, kini sudah datang lagi masalah baru lagi yang yang harus dihadapi.
🥕🥕🥕
Setelah bertemu dengan Naura pikiran Melani merasa tidak tenang. Dia tidak bisa membiarkan Naura lebih lama tinggal bersama dengan Zahra. Karena jika itu berlarut bisa saja Naura akan merencanakan sesuatu yang tidak diinginkan. Bukan ingin suudzon, tetapi jika Naura mewarisi darah dari ayahnya, maka apapun akan dilakukan untuk mencapai keinginannya.
Didalam kamar Melani mencoba untuk mencari jalan keluar bagaimana Naura bisa menjauhi keluarga kakaknya.
"Mela!" sebuah panggilan membuat Melani bergegas untuk segera turun lantai.
"Pak Alzam mau kemana?" Melani memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan," ujar Alzam dengan tatapan kosong pada Melani.
"Berapa hari, Pak?" tanya Melani dengan bibir yang bergemetar.
Hanyalah helaan napas panjang. Alzam kembali menarik nafas dalam sebelum dihempaskan.
"Aku tidak tahu akan berapa lama. Duduklah aku ingin berbicara sebentar denganmu!"
Melani mengikuti langkah Alzam ruang tengah. Saat ini dia benar-benar pasrah dengan nasib pernikahannya. Matanya sudah mengembun, tetapi dia berusaha untuk menahan agar tak jatuh.
"Saat aku tidak ada, kamu jaga diri baik-baik!" ucap Alzam saat ia sudah mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa.
"Iya, Pak. Aku sudah biasa menjaga diriku dengan baik, Anda tak perlu mengkhawatirkan akan hal itu," balas Melani dengan sesak.
__ADS_1
"Bagus! Satu lagi, ini ada sejumlah uang yang cukup untuk membiayai hidupmu selama beberapa tahun ke depan. Aku tidak peduli akan kamu habiskan dalam waktu 1 minggu, yang penting kamu bahagia." Alzam menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Melani.
Melani masih membeku dan enggan untuk menerima benda yang disadarkan kepada dirinya. Sambil menyeka jejak air matanya Melani berkata, "Sepertinya itu sangat berlebihan, Pak."
"Tidak. Ini tak seberapa. Setelah perceraian kita nanti aku akan memberikan lebih dari ini untukmu. Terimalah agar aku bisa melakukan perjalanan dengan tenang!" paksa Alzam.
Dengan tangan yang bergetar akhirnya Melani mengambil ATM dari tangan Alzam.
"Sudahlah, jangan menangis! Bukankah aku sudah mengatakan berulang kali kepadamu agar jangan menjatuhkan air mata di depanku? Aku paling tidak menyukai air mata!"
"Iya Pak, maaf," cicit Melani.
Alzam membuang napas beratnya dari mulut. Terasa berat, tetapi dia harus pergi.
"Baiklah, bisakah kamu mengatakanku ke bandara?" pinta Alzam.
Sebuah anggukan kecil dari kepala Melani sebagai tanda persetujuan. "Iya, Pak. Aku ganti baju dulu."
Sepeninggal Melani yang menuju kamarnya, Alzam mengajak kasar wajahnya. Lain di mulut lain di hati, tetapi dia harus tetap ada benderanya untuk tidak memberikan harapan kepada Melani.
Sementara itu di dalam kamar Melani menumpahkan segala kesedihan. Meskipun Alzam tak mengatakan akhir dari pernikahannya, tetapi Melani menganggap jika ini adalah salah satu cara Alzam untuk menghibur dirinya.
"Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa?" Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah ruah begitu saja dengan isak yang menggema di ruangan. Ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Selamat pagi, selamat akhir pekan. Aku mau kasih kejutan, tapi nafkah dari yang punya kontrakan belum turun wkwk.
selagi nunggu novel ini up lagi mampir dulu yuk ke novel teman aku judulnya SAGA ANTARA CINTA DAN EGO
__ADS_1