
Seperti malam sebelumnya, Deena akan menjadi pembatas antara Kanna dan juga Zahra. Selama ini hubungan jarak jauh membuat Kanna ingin sekali menghabiskan waktunya berdua bersama Zahra, tetapi sangat sulit. Ada Deena yang selalu mengacaukan rencananya.
"Ra," panggil Kanna saat Deena sudah terlelap dalam mimpinya.
Zahra yang belum tidur menyahut dan melihat kearah Kanna yang sudah menatap dirinya.
"Ada apa, Mas?" tanyanya.
Kanna terdiam untuk sejenak. Bibirnya kelu saat ingin mengatakan apa yang dia rasakan. Empat tahun Kanna mengambil alih status ayah untuk Deena, tetapi sekalipun Kanna belum pernah melakukan hubungan yang semestinya.
Empat tahun yang lalu saat usia Deena baru menginjak satu bulan, Kanna nekat untuk menikahi Zahra. Meskipun pernikahan mereka belum tercantum dalam catatan sipil, tetapi secara agama, pernikahan mereka adalah pernikahan yang sah.
"Ada apa, Mas?" ulang Zahra lagi.
"Aku tahu kamu masih trauma dengan masa lalu mu. Tapi .... ah, sudahlah, lupakan saja." Kanna merasa sangat berat untuk mengungkapkan isi hatinya.
Kanna takut jika sewaktu-waktu Zahra akan pergi meninggalkan dirinya dan kembali kepada Alzam. Sedangkan dia yang berjuang, dia yang akan ditingkatkan.
"Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dengan pikiranmu. Katakan saja aku akan mendengarkannya," kata Zahra.
"Aku hanya takut jika suatu saat kamu dan Deena akan meninggalkanku dan kembali kepada Alzam, terlebih saat ini pernikahan kalian masih tercatat dalam catatan sipil," ujar Kanna dengan lesu.
Mendengar nama Alzam disebut, Zahra terdiam untuk beberapa saat. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, tetapi luka dihatinya masih terasa perih saat dia mengetahui jika dirinya hanya dijadikan tempat penitipan benih.
Selama lima tahun Zahra berusaha membalut lukanya dan menerima pinangan Kanna agar bisa mengubur trauma dan rasa sakitnya. Namun ternyata Zahra salah. Lukanya masih menganga setiap kali melihat Deena. Bahkan Zahra akan menangis saat Kanna hendak meminta hak kewajibannya sebagai seorang suami.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Aku dan Deena tidak akan pernah pergi meninggalkanmu apalagi sampai kembali kepada mas Alzam. Sudah cukup luka yang kurasakan selama ini. Meskipun pada dasarnya aku juga sangat takut jika sewaktu-waktu mas Alzam akan mengambil Deena dariku. Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri sempurna untukmu, Mas. Tapi mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjadi istri yang sempurna untukmu," ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.
Ada rasa bersalah dalam hatinya ketika dia tidak bisa memberikan kewajibannya sebagai seorang istri. Setiap Kanna meminta, bayangan Alzam akan datang. Seolah Alzam yang ingin menyentuhnya.
"Sudah cukup aku dengan segala kebodohanku, Mas. Aku ingin bangkit kembali asalkan kamu tetap berada disampingku," lanjut Zahra lagi.
Kanna hanya tersenyum melihat Zahra. Mungkin tindakannya menikahi Zahra itu salah. Namun, rasa cinta yang dia miliki pada Zahra membuatnya berani mengambil keputusan yang salah. Terlebih Kanna tidak ingin jika Deena besar tanpa kasih sayang dari seorang ayah.
"Jadi kamu sudah mau ... em ... em." Kanna berdeham dengan menarik kedua garis bibirnya.
Zahra tersipu malu. Bahkan pipinya juga terasa panas.
"Diam berarti tanda iya," lanjut Kanna lagi.
Karena Zahra tidak berbicara apa-apa, Kanna akhirnya menggeser tubuh Deena yang menjadi dinding pemisah. Tak lupa dia juga memasang guling disampingnya agar Deena tak terjatuh.
"Mau tidur peluk kamu aja karena ada Deena disini. Besok aku suruh dia buat tidur di kamarnya sendiri," ujar Kanna sambil menarik tubuh Zahra agar lebih mendekat lagi.
"Ra, makasih." Satu kecu.pan itu mendarat ke pucuk kepala Zahra.
Angin malam kini membawa mereka terjun ke alam mimpi. Bahkan keduanya tidak peduli dengan Deena yang telah disisihkan. Berharap bocah itu tidak bangun tengah malam.
***
Jika Zahra bisa bangun dengan wajah cerah dengan senyum di bibirnya, berbeda dengan Deena yang terus mengerutkan bibirnya.
__ADS_1
Deena yang melihat Mama dan Papanya tidur saling berpelukan, membuatnya merasa kesal. Terlebih posisi tidurnya juga dipindahkan.
"Pagi Sayang," sapa Kanna yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
Dee yang hendak diberikan kecupan menepisnya. "Papa jahat. Cium saja Mama!" ketusnya dengan kesal.
Kanna yang menyadari kekesalan Deena, tak lantas meminta maaf. Dia malah semakin menunjukan kemesraannya pada Zahra.
"Berhubung Deena tidak mau dicium, mending cium kamu saja." Bibir Kanna telah menge.cup kepala Zahra.
"Nyebelin!" Deena yang melihat semakin merasa kesal. Bahkan sendok yang ada ditangannya dia banting pelan.
"Mama sama Papa udah gak sayang Deena lagi," rajuknya.
Kanna tertawa pelan dan mendekati Deena lagi. "Sekarang anak Papa udah bisa ngambek ya?"
"Papa jahat! Papa bilang sayang sama Deena, tapi kenapa Papa pindahin boboknya Deena dan peluk-peluk Mama?" sewot Deena.
"Sini Papa bisikin." Kanna memberi isyarat agar telinga Deena mendekat. Setelah Kanna membisikkan sesuatu, mata Deena langsung membulat lebar. "Serius Pa?" tanya Deena antusias.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG