Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
108 | Terpaksa Menikah


__ADS_3

"Bagus! Ini bayaran mu!" kata pak Hasan pada seseorang yang sudah menjadi provokator untuk menangkap Alzam dan juga Melani. "Sisanya nanti kalau udah keluar uang dari pria itu."


"Siap! Awas aja kalau sampai ingkar. Aku bakalan bilang sama warga jika kamu yang membuat rencana ini!" ancam pria itu.


"Tenang aja. Aku gak bakalan ingkar."


Akibat tuduhan yang tidak benar, Alzam dipaksa untuk menikahi Melani hari itu juga. Entah mimpi apa dia tadi malam sehingga pagi ini dia ke paksa untuk menikahi Melani. Sekuat apapun Alzam membelah diri, tetapi tak ada satupun yang percaya kepada dirinya. Tak ada pilihan lain, Alzam harus menikah dengan Melani saat itu juga.


Dengan berurai air mata, Melani menerima akad yang diucapkan oleh Alzam di depan para saksi. Hatinya hancur saat dihadapkan dengan kenyataan menikah muda.


"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu.


"Sah."


Detik itu juga status keduanya berubah menjadi suami-istri. Siap tidak siap Alzam menerima Melani sebagai istrinya, begitu juga dengan Melani harus menerima jika mantan kakak iparnya adalah suaminya.


Meskipun acara hanya dihadiri dengan beberapa warga, tetapi pernikahan mereka telah sah mata agama dan negara. Sehingga saat ini keduanya bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan.


"Lain kali biar nggak ketahuan sama warga kalian cari tempat yang bagus, di hotel kek!" celetuk salah satu warga.


"Kalau udah sah kayak gini, mudah-mudahan kampung kita tidak terkena sialnya."


"Betul."


Setelah acara selesai, pak Hasan menemui Melani dan juga Alzam. Sebisa mungkin dia memasang wajah sedihnya karena tidak bisa menghentikan keinginan warga.


"Maafkan bapak, Mel! Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Bapak yakin suka kamu dan Alzam tidak melakukan apa-apa di dalam mobil," ujarnya.


"Sudahlah Pak, tidak usah dibahas lagi. percuma dibahas jika kenyataannya Melani sudah menikah dengan pak Alzam."


Saat itu juga mata pak Hasan menatap kearah Alzam. Pria yang 6 tahun lalu dinikahkan dengan Zahra, kini kembali dinyatakan dengan Melani. Sungguh takdir yang begitu sempit.


"Tapi jika kamu tidak mencintai anakku, kamu boleh menceraikannya," ujar pak Hasan dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Dada Alzam terasa sangat berat. Jika ditanya apakah dia mencintai Melani, tentu saja jawabannya tidak. Karena saat ini hatinya telah dia kunci dan hanya ada Zahra yang menempati hatinya saat ini


"Semua sudah terjadi jadi kita jalani dulu seperti apa ke depannya. Jika memang aku tidak bisa mencintai Melani, aku akan melepaskannya," ujar Alzam dengan datar.


"Tidak masalah. Semua keputusan ada di tanganmu dan kamu berhak untuk menentukannya," kata pa Hasan.


***


Tak ada kata yang terucap antara Melani dengan Alzam. Keduanya memilih membisu sepanjang perjalanannya. Saat ini Alzam membawa Melani pulang ke rumahnya. Seharusnya dia bahagia karena mendapatkan pendamping hidup secara dadakan. Namun, nyatanya dia merasa tidak senang, terlebih perempuan yang menjadi istrinya adalah adik dari mantan istrinya dahulu.


Tak berapa lama mobil Alzam telah memasuki sebuah garasi. Dia sudah yakin jika itu adalah rumah Alzam.


"Kamu bisa kan bawa sendiri koper mu?" tanya Alzam sebelum turun dari mobil.


Melani mengangguk pelan. "Bisa, Pak."


Alzam hanya mendengus pelan sambil membuka pintu rumahnya. Semenjak mbok Inah keluar dari rumahnya, Alzam tak lagi memakai asisten rumah tangga tetap.


"Di rumah ini tidak ada pembantu, tapi setiap pagi akan ada mbak-mbak yang datang untuk membersihkan rumah ini. Jadi kamu nggak usah khawatir untuk mengurus rumah ini," ujar Alzam sambil menuntun Melani untuk ke kamarnya.


"Jadi kita tidak tidur bersama, Pak?" tanya Melani dengan heran.


"Jangan bermimpi kamu, Mel. Pernikahan ini terjadi karena salah paham. Toh kita juga tidak melakukan apa-apa, jadi tidak ada alasan untuk kita tidur bersama. Jangan pernah berharap jika aku akan mencintaimu, karena sudah ada seseorang yang mengisi hati ini," jelas Alzam sambil membuang napas beratnya.


Melani tertunduk dengan mata yang telah berkaca-kaca. Seharusnya dia sadar siapa dia sebenarnya. Perbedaan dia dengan Alzam bagaikan langit dan bumi, jelas jauh berbeda.


"Oh iya, satu lagi. Aku hanya ingin memberitahumu jika setiap pagi jangan membuat sarapan untukku. Kamarku ada di bawah, jika kamu membutuhkan sesuatu kamu ketuk saja pintunya."


Alzam menuruni anak tangga dengan gontai. Rasanya baru kemarin dia dan juga Deena membahas tentang kesendiriannya. Siapa yang menyangka jika apa yang diucapkan oleh Deena menjadi sebuah kenyataan. Kini dia tak akan kesepian lagi, tetapi tidak dengan orang yang dia cintai.


"Aku harus bagaimana? Apakah semua akan terulang kembali? Aku sama sekali tidak mencintai Mela. Apa yang harus aku lakukan?" Alzam bertanya pada dirinya sendiri. Apakah saat ini dia masih ingin menjadi orang yang egois lagi?


Saat Alzam ingin masuk kedalam kamarnya, suara bel berbunyi. Alzam mengernyit saat ada seseorang yang yang datang. Karena selama ini tak akan ada satu orang pun yang mau bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


Saat pintu dibuka, terlihat Deena dan juga kedua orang tuanya sudah berada di depan pintu. Wajah mereka terlihat berseri semua tak seperti dirinya yang murung.


"Deena dengar Papa sudah menikah lagi ya?" todong Deena langsung.


"Kamu tahu darimana, Dee?" tanya Alzam yang heran.


"Dari Mama," ujar Deena polos.


Dengan kedua garis simpul dibibirnyanya, Zahra pun tersenyum ke arah Alzam.


"Selamat ya, Mas. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah Wa Rohman. Jaga Melani dengan baik," pesan Zahra ketika melihat Alzam. "Jangan sia-siakan dia," lanjutnya lagi.


Alzam terdiam. Bagaimana bisa menjadi keluarga yang Sakinah saat pernikahan mereka hanya karena insiden salah paham. Sampai kapanpun Alzam tak akan pernah bisa mencintai Melani, karena hatinya telah dia kunci.


"Kalian tahu dari mana?" tanya Alzam dengan heran.


"Tadi mbak Naura yang kasih kabar. Sekarang dimana Melani?"


Alzam gelagapan saat ditanya tentang Melani. Dia tidak ingin Zahra tahu apa yang telah dia lakukan pada Melani.


"Dia ada di kamar. Masuklah aku panggilkan dia dulu."


Dengan berat hati Alzam naik ke lantai atas untuk memberitahu Melani jika Zahra ada dibawah. Namun, sebelum itu Alzam menyuruh Melani tak mengatakan tentang pisah kamar yang merak lakukan. Bisa-bisa Alzam langsung digantung oleh Zahra.


"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"


"Tenang saja, aku tahu, Pak," jawab Melani dengan lesu


.


.


.

__ADS_1


Hal-Halo terima kasih untuk yang masih tetap bertahan di novel ini. Terus ikuti ceritanya ini sampai tamat, ya. 😀


Yang udah aku catat mananya, jangan ngilang ya 😀😀


__ADS_2