Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
79 | Kemarahan Kanna


__ADS_3

Dilayar ponsel Kanna melihat tubuh kecil Deena sedang diikat di sebuah kursi kecil. Hatinya Kanna teriris saat melihat tangan dan kaki Deena juga ikut ikat.


"Apa yang kalian inginkan?" sentak Kanna.


"Waaoow ... ternyata adikku bisa pintar juga. Aku pikir kamu itu masih bodoh," cibir Dayat dari seberang ponselnya.


"Katakan, kalian mau apa? Jangan sakiti dia!"


Terlihat dari layar ponsel jika saat ini Shena sedang mendekat kearah Deena dan menyentuhkan sebuah pisau kecil ke wajah Deena, tentu saja Deena merasa sangat ketakutan. Dia hanya bisa meneteskan air matanya.


"Kak Shen! Jangan gila!" teriak Kanna.


"Aku tidak akan gila jika kamu tidak ikut campur, Na! Kamu sendiri yang mulainya. Kamu sudah menghancurkan semuanya! Kamu pikir aku tidak tahu warisan itu jatuh ke tangan siapa. Ke tangan bocah ini, Na! Dia bukan anggota keluarga kita, tetapi bapak malah memberikan hampir semua hartanya kepada bocah ini. Kamu pikir ini adil? Tidak! Aku akan membebaskan anak ini asal kamu mau negoisasi dengan kami!" Pisau kecil itu menyayat sedikit kulit Deena, hingga bocah itu menjerit kesakitan.


"Papa ... sakit ...! Tolong Deena, Pa."


Kanna tidak sanggup saat melihat Deena telah disakiti oleh mereka. "Baiklah, kita bertemu. Tapi jika kalian sampai menyentuhnya kembali aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak peduli meskipun kita adalah keluarga."


Sebuah kesepakatan telah tercapai, baru saja Kanna menentukan ponselnya, Zahra masuk ke dalam dan menanyakan mengapa Kanna berteriak.


"Kamu gak papa, 'kan Mas?" tanya Zahra.


Kanna menatap kearah Zahra. Dia tidak ingin membuat Zahra bersedih lagi jika mendengar Deena sedang menjadi seorang tawanan. Lidah Kanna terasa kelu saat ingin mengucapkan kata. Dia benar-benar tidak sanggup untuk bersuara.


"Ada apa, Mas?" tanya Zahra yang semakin penasaran.


Karena sang suami yang tak kunjung memberikan jawaban, akhirnya Zahra memilih untuk melihat ke laptop yang masih menyala.


Zahra melihat dengan teliti setiap peristiwa yang terekam di CCTV. Akhirnya dia tahu apa yang membuat Kanna membeku.


"Jadi mereka menculik Deena," gumam Zahra dengan tubuh yang terhuyung kebelakang. Beruntung saja Kanna segera menangkap tubuh Zahra.


'Belum juga diberi tahu keadaan Deena dia sudah seperti ini, bagaimana aku akan memberi tahu keadaan Deena sekarang?'


"Ra, kamu tenang dulu. Aku akan segera akan mengambil Deena. Kamu tunggu aja di rumah. Nanti aku suruh ibu untuk kesini," kata Kanna yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan kedua kakaknya.


"Tapi Mas ... mbak Ida gimana? Dia masih pingsan."


"Aku akan menelpon dokter. Kami tenang saja gak usah takut. Aku juga akan menyuruh orang untuk menjaga rumah kita."


Setelah berusaha menenangkan Zahra, akhirnya Kanna bisa pergi seorang diri. Bukan dia tidak ingin melibatkan sang istri, tetapi Kanna hanya tidak ingin memperburuk keadaan.


"Mas, berhati-hatilah!" pesan Zahra sebelum Kanna pergi.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja dan akan segera pulang bersama dengan anak kita."


Mobil Kanna segera melesat meninggalkan pekarangan rumahnya untuk menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh kedua kakaknya. Sepanjang perjalanan hati dan pikiran Kanna tidak tenang. Berharap jika kedua kakaknya tidak berbuat gila kepada Deena yang tidak tahu apa-apa.


"Apakah mungkin jika kecelakaan yang menimpa bapak adalah ulah mereka? Jika memang benar seperti itu, aku tidak akan memaafkan mereka. Demi harta mereka sampai tega untuk mencelakai orang tuanya sendiri. Sungguh gila!"


Kanna tak habis pikir dengan jalan pikiran kedua kakaknya. Meskipun terlahir dari benih dan rahim yang sama, tetapi sifat mereka jauh berbeda. Keduanya kakaknya sangat serakah dan gila harta.


Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Kanna telah sampai di sebuah tempat yang telah. Bukan restoran ataupun cafe, tetapi sebuah gedung tua dimana mereka menyekap Deena.


Baru saja Kanna ndak masuk ke dalam gedung itu, dua orang kakaknya telah menyambutnya. Dengan wajah angkuh nan sombong Shena berkata, "Aku salut dengan kegigihan mu memperjuangkan anak sialan itu. Well gak masalah, karena itu ternyata menguntungkan untukku."


Tangan Kanna menghafal erat. Matanya memerah saat melihat dua orang yang tak layak lagi disebut seorang kakak. Bahkan mereka lebih pantas disebut iblis.


"Di mana Deena sekarang?!"


Kedua kakaknya hanya tersenyum smirk melihat wajah Kanna telah memerah.


"Santai dulu! Kita duduk dan bicara baik-baik, setelah itu baru kamu boleh bertemu dengan bocah sialan itu," ujar Dayat.


Kanna hanya pasrah mengikuti langkah dua orang kakaknya yang membawa dirinya kesebuah ruangan. Kaki Kanna tertahan saat hendak melangkah masuk.


"Kenapa? Buruan masuk!" bentak Shena.


"Kamu sangat berlebihan. Oke kita diluar saja," kata Dayat dengan senyum tipis di bibirnya. "Shen, bawa sini dokumen yang kita perlukan!"


Dengan patuh, Shena segera mengeluarkan dokumen yang harus mendapatkan kedatangan Kanna. Namun, sebelum Kanna menandatangani dokumen yang mereka berikan, Kanna membaca dengan seksama lembaran kertas yang ada tangannya.


Kepalanya menggeleng saat mengetahui isi dari kertas tersebut. Lagi-lagi pemindahan harta warisan yang seharusnya menjadi milik Deena menjadi milik mereka. Bahkan bisa dikatakan jika warisan yang diberikan kepada Deena akan berpindah tangan semua ke tangan sang kakak.


"Kalian gila!" ujar Kanna dengan geram.


"Aku heran mengapa hanya ada harta di otak kalian? Mas, Mbak, sadar! Harta itu tak akan dibawa mati dan hanya akan memutus hubungan. Aku tahu jika kalian kecewa kepada keputusan bapak, tetapi perlu kalian ingat, apakah kalian sudah memberikan yang terbaik untuk mereka? Bahkan sampai saat ini kalian berdua menunda untuk memiliki anak. Lalu kalian merasa iri saat bapak dan ibu melimpahkan kasih sayangnya bahkan hartanya sekaligus untuk diberikan kepada Deena? Seharusnya kalian bisa berintrospeksi diri, apa yang kurang dari kalian. Bukan malah merebut dengan paksa seperti ini!" ujar Kanna panjang lebar.


Karena hati dan pikiran manusia telah dirasuki oleh setan dan kebencian, keduanya kakak Kanna bukannya merasa bersalah malah terus mendesak Kanna untuk cepat menandatangani surat pemindahan warisannya.


"Tugas kamu sekarang itu hanya tanda tangan, bukan ceramah!" kata Shena dengan tatapan tidak suka.


"Tapi jika kamu memang tidak mau menandatangani surat itu, jangan salahkan aku jika hanya nama bocah itu yang akan dikenang!" timpal Dayat.


Bagi Kanna harta bisa dicari, tetapi keluarga tidak akan bisa dibeli. Tanpa mendapatkan warisan, Kanna bisa menghidupi anak dan istrinya, bahkan juga ibunya.


"Tenang saja, aku akan menandatangani semua surat ini, tetapi tunjukkan terlebih dahulu di mana keberadaan Deena. Aku tidak mau kalian hanya mempermainkan ku!" kata Kanna dengan sorot mata tajamnya.

__ADS_1


Mungkin saat ini Kanna terlihat bodoh di mata sang kakak. Namun, sebenarnya merekalah yang bodoh. Kanna sudah belajar dari pengalaman, maka dia tidak akan gegabah untuk mengambil keputusan.


"Oke, gak masalah asal kamu tidak lari!" ujar Dayat.


"Tapi Mas ... kamu gak takut jika Kanna sudah mendapatkan anak itu kemudian dia akan menyerang kita? Bisa saja ini adalah sebuah trik dari Kanna untuk membodohi kita," ungkap Shena yang meragukan ucapan Kanna.


"Kamu tenang saja, aku bisa mengatasinya."


Saat ini Kanna mengikuti langkah kakaknya untuk menuju lantai dua. Ternyata mereka menempatkan Deena di lantai atas. Apakah keduanya juga bisa mengapa pikirannya?


"Kamu memang bodoh, tetapi aku tidak bisa meremehkanmu. Kamu pikir aku tidak tahu dengan jalan pikiranmu yang tak akan menandatangani pemindahan warisan itu dan membawa anak ini kabur? Kamu salah besar!" kata Dayat sebelum membuka sebuah ruangan.


"Dia ada didalam!" katanya lagi.


Setelah berhasil masuk, Kanna langsung terperanjat saat melihat keadaan Deena dengan pipi yang mengeluarkan darah. Bahkan sebagian darah itu sudah mengering. Hati Kanna bak tersayat sembilu. Kanna tidak bisa membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan Deena saat sembilu menggores pipinya.


"Sayang," panggil Kanna.


Tubuh kecil itu tak merespon panggilan Kanna meskipun matanya terbuka kecil.


Dada Kanna terasa panas saat melihat keadaan Deena yang tak berdaya.


"Kalian apakan dia? Bukankah sudah kukatakan jangan sentuh dia! Kalian apakan dia?!" bentak Kanna dengan kuat kearah kedua kakaknya.


Dayat dan Shena hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya Shena yang menggores pipi Deena saat mengancam Kanna tadi.


"Kanna, tenang! Kami tidak melakukan apa-apa padanya. Percayalah!" ujar Dayat.


Kanna berdecih kasar. "Lalu apa ini?!" bentak Kanna sambil menunjuk kearah pipi Deena.


"Itu hanya luka kecil, Na! Aku tidak bermaksud untuk meluknya," ucap Shena dengan rasa gugup.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2