
Rasa yang mengganjal dalam hati tiba-tiba sirna begitu saja. Rasa cinta yang dimiliki lebih besar daripada egonya, meskipun masih mengedepankan rasa gengsinya.
Suasana yang sudah mulai mencair akhirnya berakhir pada malam yang panas. Dibawah temaram lampu kamar, kedua insan saling berpeluh dalam keheningan malam. Menyatukan hasrat yang tertahan beberapa hari terakhir ini.
Setelah menyelesaikan ritualnya, keduanya langsung menuju ke kamar mandi. Selain untuk membersihkan diri, keduanya juga takut jika Deena akan terbangun. Jika itu terjadi entah jawaban apa yang akan mereka berikan kepada sang putri.
Jangan ditanya berapa lama keduanya berada didalam kamar mandi. Karena rasa yang menggebu telah menguasai diri Kanna sehingga membuatnya khilaf.
Deena yang terbangun sangat panik saat tak menemukan keberadaan kedua orang tuanya. Bahkan dia juga takut saat lampu kamar hanya remang-remang saja.
"Mama ... Papa ...!" teriak Deena "kalian dimana?"
Deena hanya bisa menangis di atas tempat tidur karena merasa ketakutan. Sementara itu di kamar mandi Zahra segera bergegas untuk membersihkan dirinya. Teriakan Deena mampu membuat Kanna frustasi.
"Kenapa kamu malah terbangun sih, Dee?" gerutu Kanna saat melihat Zahra sudah memakai handuk kimononya.
"Kan tadi aku udah bilang, mandi itu jangan lama. Gak percaya sih! Udah ya, kamu lanjutin sendiri aja, aku mau lihat Deena. Kasihan dia," ujar Zahra yang segera meninggalkan Kanna.
"Lanjutkan sendiri?" Kanna mengernyit dahinya. "dasar Zahra!"
Zahra segera menghampiri Deena yang menangis di atas tidur. Tak lupa dia juga menyalakan lampu kamar. "Kamu kenapa menangis, Dee?" tanya Zahra panik.
Dengan sesenggukan, Deena hanya menatap sang mama yang sudah ada di depan matanya. "Mama jahat!"
Zahra sekarang meraih tubuh anaknya untuk masuk ke dalam pelukannya. "Maafkan Mama, Sayang. Mama nggak tahu kalau Deena bakalan bangun."
Deena segera melepaskan dirinya karena tubuh sang mama masih sedikit basah. Mata Deena langsung mengernyit saat melihat penampilan yang berbeda dari mamanya. Handuk kimono dan balutan handuk yang melilit rambutnya.
"Mama abis mandi?" tanya Deena heran.
Zahra nyengir. Dia terpaksa memberikan senyum tipisnya. "Iya, Mama gerah tadi."
"Apakah Papa juga ikut mandi?"
Susah payah cara menelan salivanya. Baru saja Zahra ingin memberikan penjelasan kepada Deena, Kanna pun langsung muncul dibelakangnya.
"Kamu kenapa bangun, Sayang?" tanyanya pada Deena.
Mata Deena tak lepas menatap mama dan papanya bergantian. "Papa abis mandi?" tanya Deena yang masih merasa heran mengapa di tengah malam seperti ini kedua orang tuanya mandi bersama.
"Iya. Kamu nyariin, ya?"
"Mama dan Papa kenapa mandi malam-malam? Apakah tidak kedinginan?"
Kanna yang masih mengenakan handuk kimononya langsung naik ke atas tempat tidur dan memberikan penjelasan kepada anaknya. "Tadi Papa menemani Mama ke kamar mandi. Kata Mama dia gerah. Dan asal kamu tahu, Mama malah ngajak Papa main air. Akhirnya badan Papa basah deh."
Zahra mengernyitkan dahinya. Dia tidak menyangka jika bibir Kanna masih saja licin. Terlebih Kanna lebih menyudutkan dirinya. Padahal yang meminta untuk main air adalah Kanna.
__ADS_1
"Kok jadi aku sih, Mas?" protes Zahra.
"Jadi siapa? Gak mungkin Deena, kan? Udah sana ganti baju, nanti masuk angin!"
Zahra hanya melengos saat Kanna berusaha untuk meyakinkan Deena jika yang mengajaknya main air.
"Gini amat punya anak yang lebih sayang bapaknya," gerutu Zahra dengan tangan yang mencapai baju didalam koper.
Sulit untuk dicerna untuk Deena yang memiliki pikiran dewasa. Dia masih berpikir keras mengapa kedua orang tuanya bisa sampai mandi bersama.
"Papa tahu, kamu terbangun untuk memanjatkan doa 'kan?" tebak Kanna.
Sudah menjadi kebiasaan Deena yang akan bangun tengah malam untuk menyelipkan doa permohonan sang pencipta.
Deena mengangguk pelan. "Iya, Pa."
"Jadi doa kamu selanjutnya apa? Kan mama udah kembali?" tanya Kanna.
"Deena mau berdoa semoga adik Deena segera jadi."
Kanna tak bisa berkata apa-apa lagi selain mengaminkan doa Deena. Dia berharap jika doa tulus dari seorang anak kecil bisa menyentuh langit. Kanna masih sangat berharap jika Zahra bisa mengandung buah hatinya kembali. Dia tidak yakin dengan vonis yang katakan oleh dokter.
"Amin. Semoga Allah mengabulkan doamu, Sayang," ujar Kanna.
Setelah memanjatkan doanya, Deena kembali untuk tidur. Dia tahu jika malam masih panjang. Malam ini dia sangat merasa bersyukur karena bisa tidur di tengah-tengah orang tuanya.
Pagi menyingsing dengan kilauan emasnya. Zahra yang sudah terbangun masih merasa malas untuk bangkit. Tubuhnya terasa pegal, meskipun dia tak mengerjakan sesuatu yang berlebihan. Seketika Zahra teringat akan malam panas yang dilaluinya bersama dengan Kanna.
Kok aneh ya? Kenapa saat mas Alzam menjamah ku, aku tak merasakan apa-apa dan tubuhku juga terasa pegal seperti ini, ya?
"Udah bangun?" bisik Kanna tepat ditelinga Zahra.
Kini posisi tidur yang awalnya Deena berada di tengah, tiba-tiba bocah itu ada di pinggir dengan memeluk guling.
"Mas Kanna," lirih Zahra dengan terkejut.
"Kamu masih punya hutang padaku! Ayo, bayar!"
"Hutang?"
Zahra yang baru saja membuka mata dan masih mengumpulkan setengah nyawanya yang belum sempurna hanya bisa mengernyit.
"Hutang tadi malam," bisik Kanna tempat di telinga Zahra.
"Apaan sih, Mas!"
"Ra, ayo!"
__ADS_1
Kanna seperti anak kecil yang sedang merengek untuk mendapatkan ice cream dari mamanya.
"Gak mau, nanti Deena bangun lagi. Bukankah kita juga aku mau pulang ke Indonesia?"
"Aku sudah memutuskan memperpanjang liburan kita. Kita belum akan pulang sebelum adik Deena jadi." Kanna tersenyum nakal kearah sang istri dan berusaha untuk membawanya ke kamar mandi lagi.
"Mas lepasin!" Zahra memukul pelan bahu Kanna saat tubuhnya sudah dibopong menuju ke kamar mandi.
"Ssstt! Jangan berisik nanti Deena bangun!"
Zahra tak bisa berbuat apa-apa saat Kanna meminta apa yang sudah menjadi memilikinya. Baru saja berpisah beberapa hari, kini Kanna sudah bisa mengajari Zahra berbagai macam gaya.
Namun, di tengah-tengah permainannya, pintu kamar mandi di gedor dari luar.
"Mama ... Papa ...! Kalian ada didalam? Deena mau pup!" seru Deena dari luar.
Mata Kana dan Zahra hanya saling menatap. Karena tak ingin terjadi untuk kedua kalinya, Kanna agar Zahra tak meninggalkannya lagi.
"Mas ... Deena mau pup, Mas!"
Kanna tak peduli, yang dia inginkan adalah dia menuntaskan hingga akhir permainan.
"Sebentar lagi!"
Kanna tak peduli dengan keturunan pintu dan teriakan Deena yang berulang.
"Mereka ngapain sih didalam lama sekali? Duh ... perut Deena sakit."
Dengan memegang perut yang sudah mulas, tak hentinya Deena menggedor pintu agar kata orang tuanya cepat keluar.
"Mama ... Papa ... kalian ngapain sih, didalam? Cepetan dong, Deena udah gak kuat nih!" teriak Deena kuat.
"Tunggu sebentar lagi ya, Dee. Papa masih —"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sambung nanti lagi, dah pegel nih jari. Mata pun butuh kopi wkwkwk