Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
112 | Perubahan Alzam


__ADS_3

Setelah Deena terlelap, Melani segera membenahkan selimut agar menutupi tubuh Deena dengan baik. Hati Melani sempat insecure untuk berperan menjadi seorang ibu. Dia takut jika Deena tak bisa menerimanya. Namun, nyatanya Deena tak seperti yang dia bayangkan. Bocah itu mau menerimanya dengan baik, meskipun tak banyak kata yang terucap. Sorot mata Deena juga mengatakan jika dia merasa nyaman.


Dengan bersandar di dinding dipan, Melani menahan kantuknya. Dia sedang menunggu Alzam untuk masuk, karena tidak mungkin dia meninggal Deena sendiri didalam kamar.


Saat masuk kedalam kamar Alzam mengernyit saat melihat Mani terpejam dalam keadaan bersandar. Saat melihat jam, ternyata sudah pukul 11 malam.


"Mel, bangun! Benarkah posisi tidurmu!" Alzam mencoba membangunkan Melani.


Gadis itu menggeliat pelan sambil mengerjap. Saat melihat Alzam sudah naik ketempat tidur, Mela segera bangkit untuk keluar. Namun, Alzam mencegah Melani untuk keluar


"Mau kemana? Tidurlah!"


"Iya aku juga mau tidur, Pak "


"Tidurlah disini. Jika kamu tidur di kamarmu, saat Deena bangun pasti dia akan mempertanyakan mengapa kamu tak tidur disini. Aku tidak mau Deena mengadu pada Zahra jika ternyata kita pisah ranjang."


Melani hanya mengangguk pelan. Ternyata hati Alzam sangat keras untuk di lunakkan. Pantas saja dia tinggal sang kakak memilih pergi. Namun, Melani masih tertantang untuk melunakkan kerasnya hati Alzam.


"Sabar Mela, belum waktunya." Mela mendengus pelan sebelum dia memejamkan matanya.


Dalam keheningan malam, Melani selalu meminta agar diberikan suami yang kaya bisa membahagiakan dirinya, karena selama ini hidupnya sudah penuh dengan penderitaan. Namun, dalam keheningan malam ini dia meminta agar kerasnya hati Alzam mampu dilunakkan. Berharap dia bisa membuka hatinya untuk orang baru.


Sepertinya Melani sudah tidak sabar untuk menantikan hari esok, karena dia akan memulai perannya sebagai ibu sambung untuk Deena.


🍂🍂🍂


Sebelum sang fajar menampakkan diri, Melani sudah bangun untuk menjalankan ibadah sholat subuhnya. Dalam sujudnya dia meminta agar hati Alzam melunak dan mampu untuk menerima dirinya.


Alzam yang tak sengaja terbangun melihat melanin dalam balutan mukena putih sedangkan menengadahkan tangannya untuk berdoa. Tiba-tiba hati Alzam berdesir, sudah berapa lama dia meninggalkan sholatnya dan menjauh dari sang pencipta. Tanpa disadari mata Alzam berembun, tetapi sebagai seorang pria dia berusaha untuk menyembunyikan rasa sesalnya. Sejenak dia merenungi waktu yang telah terlewatkan tanpa beribadah kepada sang pencipta.


Saat Melani hendak keluar dari kamar, tiba-tiba suara Alzam menghentikan langkah Melani. "Tunggu, Mel!"


Melani tersentak dan terkejut saat Alzam ternyata sudah jalan kearah dirinya. "Ada apa, Pak?"

__ADS_1


"Tinggalkan alas shalatmu!"


Melani mengernyit. "Maksudnya sajadah ini?" Melani mengangkat sajadah yang ada ditangannya.


"Hm. Letakkan saja di tempatmu tadi!" kata Alzam yang kemudian meninggalkan Melani untuk ke kamar mandi.


Melani masih mematung dengan penuh tanda tanya. Namun, dia tak ingin berpikir lebih keras. Melihat niat Alzam yang hendak mendirikan sholat saja Melani merasa sangat bahagia. Apakah ini adalah sebuah tanda jika hati Alzam sudah mulai dibuka?


"Tauk ah, hanya Allah yang bisa membolak-balik hati setiap manusia," ujar Melani yang kemudian menutup pintu dengan pelan.


Berkutat di dapur adalah pekerjaannya setiap hari, jadi tak ada kesulitan untuk menyiapkan sarapan untuk anak ayah yang sudah kecanduan dengan masakan.


Ditengah-tengah kegiatannya Melani diterkejutkan oleh sosok Alzam yang datang secara tiba-tiba.


"Astaga ... Pak Alzam bikin kaget. Aku pikir setan," ujar Melani asal. Namun, seketika Melani menutup mulutnya karena menyadari tidaknya yang keseleo. Dia takut jika Alzam akan marah pada dirinya.


"Mana ada setan tampan."


Mendengar Alzam tak mengeluarkan kata marah, bibir Melani terangkat tipis.


"Bentar lagi juga siap, tinggal jelaskan dapurnya aja. Kalau Pak Alzam udah lapar tunggu aja di meja makan sekitar lagi aku mau ke sana," ucap Melani.


Alzam menghela napas panjang sebelum pada akhirnya dia mulai berjalan ke wastafel. Awalnya Melani terkejut apa yang akan dilakukan oleh Alzam. Namun, siapa yang menyangka jika pria itu ternyata akan mencuci perkakas kotor yang terkumpul di dalamnya.


"Pak Alzam ngapain?" tanya Melani dengan heran.


"Habis masak kamu mandikan Deena dan bantu dia untuk ke bersiap-siap ke sekolah. Oh iya, hari ini kamu tunggui dia di sekolah daripada kamu di rumah tidak ada kegiatannya, pasti akan merasa bosan."


Lagi-lagi Melani terheran-heran dengan sikap Alzam pagi ini. Apakah ada sosok malaikat yang merasuk ke dalam jiwanya atau memang kunci hatinya telah dibuka.


"Pak Alzam gak lagi sakit kan?" tanya Melani ragu-ragu.


Alzam mengernyit lalu memegang keningnya yang memiliki suhu normal. "Aku gak sakit. Ada apa?"

__ADS_1


Melani menggeleng pelan. "Gak ada apa-apa. Hanya bertanya saja."


Tak hentinya senyum itu mengembang dibibir Melani yang hampir menyelesaikan masakannya. "Kayaknya sarapan pagi ini rasanya lebih enak dari pada hari kemarin deh. Soalnya bumbu cintanya kebanyakan. Kira-kira over dosis gak ya?" batin Melani yang ingin tertawa keras.


Sesuai dengan ucapan Alzam setelah Melani menyelesaikan masakannya Dia segera ke kamar untuk mengurus Deena. Bocah yang masih dalam balutan selimut itu lama-lama memiliki wajah yang mirip seperti Alzam, meskipun matanya yang dimiliki Deena menyerupai Zahra.


"Dee, bangun! Kita mau sekolah, lho!" kata Melani dengan pelan.


Deena mengerjap pelan kemudian membuka matanya. "Udah pagi ya?" tanyanya.


"Iya dong. Mandi yuk!" ajak Melani. Namun, Deena menggelengkan kepalanya.


"Deena mau mandi sendiri," tolaknya. Mendengar penolakan Deena, Melani mengernyit.


"Lho, kenapa?"


"Deena udah terbiasa mandi sendiri, Aunty."


"Karena saat ini Deena berada di rumah papa Alzam, jadi Deena gak boleh mandi sendiri. Biar Aunty mandiin ya."


"Tapi Deena malu, Aunty."


Melani tak peduli dengan penolakan Deena. Dia bersikeras untuk memandikan Deena dan membantu mengenakan seragam sekolahnya.


"Nah, kan cantik," ujar Melani saat melihat Deena dengan telah berhasil didandani. Rambut kepang dua yang dia sukai akhirnya dia terapkan pada Deena.


"Wah ... Aunty hebat. Cantik sekali." Deena merasa puas dengan bayangannya di dalam cermin. "Dulu mama juga sering buatkan seperti ini, tetapi setelah ada Kala dia selalu sibuk dengannya, hingga dia tak pernah ada waktu untukku lagi," adu Deena pada Melani.


Melani yang paham dengan keadaan dan situasi yang sedang terjadi merasa kasian kepada Deena, tetapi dia juga tidak menyalahkan Zahra sepenuhnya. Karena memiliki seorang bayi pasti akan sangat repot luar biasa, terlebih anaknya yang super aktif membuatnya melebihkan perhatiannya kepada Kala.


"Bukan tidak ada waktu, Sayang. Tapi untuk saat ini mama kamu benar-benar sangat kewalahan mengurus dedek Kala, apalagi mama tidak memakai seorang baby sister. Sebagai kakak yang baik Deena harus bisa memahami keadaan mama, ya. Mama dan papa Kanna itu sangat sayang pada Deena. Jangan pernah berpikir jika mereka itu pilih kasih, ya." nasehat Melani sambil merapikan lagi baju Deena.


"Iya Aunty."

__ADS_1


Tanpa disadari ada sepasang mata yang melihat bagaimana sabarnya Melani saat mengurus Deena. Bahkan dia juga tidak meracuni pikiran Deena yang masih polos.


__ADS_2