Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
107 | Fitnah


__ADS_3

Hujan deras mengguyur malam yang gelap. Alzam terpaksa menjalankan mobilnya dengan pelan, karena saking derasnya. Bahkan bisa dilihat dengan jelas sambaran kilat membelah langit yang malam. Melani yang ketakutan memilih untuk meringkuk menekuk kakinya. Dia tak peduli dengan posisinya saat ini. Bahkan dia juga menutup telinganya karena suara kerasnya guntur yang menggelegar.


Alzam hanya melirik sekilas kearah Melani dan membuang kasar napas beratnya. Dia tahu jika gadis yang ada disampingnya itu sedang ketakutan. Namun, Alzam tak bisa berbuat apa-apa.


"Apakah masih jauh?" tanya Alzam memecahkan keheningan didalam mobil.


"Gak juga sih, Pak. Tapi sepertinya mobil Pak Alzam gak bisa masuk gang," ujar Melani.


"Maksudnya?"


"Gang masuk ke rumah kami hanya bisa dilewati sepeda motor, Pak. Kalau mobil gak bisa," jelas Melani yang masih menutup telinganya.


Alzam mende.sah pelan. Jika mobilnya tidak bisa masuk kedalam gang, lalu bagaimana dia akan mengantarkan Melani sampai ke rumahnya, sementara hujan semakin deras. Tidak mungkin dia menurunkan Melani di pinggiran jalan ditengah gelapnya malam dan terjangan air hujan.


"Nah, didepan itu Pak simpangnya," kata Melani menunjukkan arah depan.


Alzam melambatkan mobilnya saat hampir sampai disimpang gang. Terlihatlah sangat gelap karena lampu jalan mati.


"Gimana, Mel?" tanya Alzam.


"Ga tahu, Pak. Mana jauh lagi kedalam," ujar Melani bingung.


"Kita tunggu sampai reda kalau gitu," kata Alzam sambil menghela napas panjang.


Melani mengangguk pelan sambil meringkuk kedinginan. Alzam yang tidak tega pun segera melepaskan jasnya dan menyerahkan kepada Melani.


"Pakai aja biar gak kedinginan," ujarnya.


Melani tak menyia-nyiakannya kesempatan emasnya. Saat ini dia membutuhkan kehangatan. Meskipun bukan tubuh Alzam yang menghangatkan, tetapi dengan jasnya saja sudah cukup membuatnya sedikit hangat.


Lama keduanya menunggu hujan yang semakin lama semakin deras. Sepertinya tak ada kesempatan untuk terang sampai esok pagi.


Melani sudah pasrah ketika nanti hujan tak kunjung reda. Dia juga telah mengirimkan pesan kepada kakaknya jika malam ini dirinya terjebak hujan di jalan depan. Berharap sang kakak tidak mencemaskan dirinya.

__ADS_1


Sudah 2 jam Melani masih sanggup melawan rasakan kantuk yang menyerang. Begitu juga dengan Alzam yang sudah menguap berkali-kali.


"Kayaknya hujan nggak mau berhenti deh. Kita bermalam aja disini ya."


"Kayak juga seperti itu, Pak. Ya udahlah gak papa malam ini didalam mobil aja. Mau jalan males basah kuyup," timpal Melani sambil mende.sah pelan.


Akhirnya keduanya sepakat untuk bermalam di mobil. Melani yakin jika orang yang berada satu mobil dengannya bukanlah orang jahat, terbukti dari raut wajahnya yang teduh. Meskipun baru mengenal Alzam, entah mengapa Melani sudah bisa menilai jika Alzam adalah orang baik.


Tak berapa lama terdengar suara dengkuran dari Alzam. Melani yang masih terjaga malah merasa ketakutan saat melihat Alzam sudah tidur. Dia takut jika sewaktu-waktu datang begal ataupun orang jahat, pasti keduanya tidak bisa melawan.


"Ya Allah, mengapa hujannya tak kunjung reda?" Mata Melani mantap air hujan yang terus berjatuhan di kaca mobil.


"Mudah-mudahan mbak Na tidak mengkhawatirkanku," sambung Melani lagi.


Saat melihat layar ponselnya, ternyata saat ini sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Dia mende.sah pelan saat pesan yang dia kirimkan kepada kakaknya belum dibaca.


Semakin lama dingin semakin menusuk tulang. Rasa kantuk juga terus menyerang. Akhirnya Melani memilih untuk memejamkan matanya.


Rasanya baru sebentar masakan alam bawah sadar, kini sudah terbangun karena Melani merasakan mobilnya bergoyang. Saat melihat kesekitar sudah ada beberapa orang yang mengerumuni mobilnya. Bahkan ada juga yang menggedor kaca. Melani tidak tahu apa yang terjadi akhirnya dia membangunkan Alzam.


Alzam mengerjap pelan sambil mengucek matanya. "Ada apa?" tanyanya.


Mata Alzam langsung membulat ketika melihat apa yang terjadi di luar mobilnya. Lebih dari 20 orang mengarungi mobilnya, bahkan dia juga mendengar sebuah teriakan yang menyuruhnya untuk segera keluar.


Melani merasa sangat panik, ketika suara teriakan itu semakin lama semakin keras dan lantang.


"Pak, ini gimana, Pak?"


"Kamu tenang aja, biar aku yang keluar."


Akhirnya Alzam keluar ingin memastikan apa yang telah terjadi sebenarnya, mengapa mereka mengerumuni mobilnya.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Alzam saat dia sudah keluar.

__ADS_1


"Ada apa, ada apa! Kamu pasti habis bergoyang didalam mobil kan?" tanya salah satu diantara kerumunan.


Alzam tidak apa maksud dari ucapan itu. Detik kemudian ada seseorang yang hampir meninju wajah Alzam, tetapi ditahan oleh yang lainnya.


"Sabar! Ingat, jangan pakai kekerasan. Mending kita bawa ke tempat RT setempat," ujar salah seorang lagi.


"Betul itu! Bikin malu ja!"


"Maaf tapi ini ada apa, ya?" tanya Alzam yang memang tidak paham.


"Masih pura-pura tidak tahu? Kamu ngapain parkir di pinggir jalan jika tidak melakukan apa-apa. Aku sudah melihat mobilmu sejak satu jam yang lalu berada disini. Kamu ngapain di dalam sana?" cecar salah seorang warga


"Semalam hujan deras dan kami berniat untuk menunggu hujannya reda, tetapi hujan semakin deras. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di dalam mobil. Jujur kami tidak melakukan apa-apa," jelas Alzam.


Sekeras apapun Alzam memberikan penjelasan, tetapi tak ada satupun yang mempercayainya. Terpaksa alasan pasrah ketika dia dan Melani diarak menuju ke tempat RT setempat.


Melani merasa syok karena dia dan Alzam tidak melakukan apa-apa, tetapi malah digiring warga. Tak lama kemudian Naura dan juga bapaknya datang untuk melihat Melani.


"Mel, ada apa?" tanya Naura yang telah panik.


"Mela gak tahu, Mbak. Mela hanya bermalam didalam mobilnya pak Alzam, tetapi mereka mengira jika kami melakukan yang bukan-bukan. Mbak, tolong bantuin Mela," rengek Mela saat sang kakak datang.


"Pak Hasan! Lihatlah kelakuan anakmu! dia telah membuat malu warga sekitar. Aku menemukan dia berada di dalam mobil bersama dengan seorang laki-laki," ujar salah seorang warga.


Pria yang dipanggil pak Hasan itu menatap pria yang baru saja berbicara dengannya. "Lalu apa yang telah dilakukan anakku sehingga membuat warga sekitar merasa malu. Bukankah dia hanya bermalam saja di dalam mobil?" tanya pak Hasan pada orang itu.


"Tidak mungkin jika kaki-kaki dan perempuan satu mobil tidak berbuat apa-apa, Pak. Kamu jangan mau dibodohi anakmu!"


Pak Hasan seketika murka pada pria yang mencoba untuk menafitnah Melani. Sebagai seorang ayah Pak Hasan tahu bagaimana sifat putrinya. Dia bukanlah perempuan yang mudah digoyahkan hatinya.


"Kamu jangan sembarangan menuduh anakku seperti itu!" bentak Pak Hasan.


Seketika suasana menjadi riuh akibat dua orang yang saling beradu mulut. Padahal Melani dan Alzam tidak melakukan apa-apa di dalam mobil.

__ADS_1


"Tapi semua orang melihatnya, Pak. Apalagi yang mau dielakkan! Pokoknya kami tidak akan menerima pelaku yang sudah berbuat zina disini! Mereka harus dinikahkan agar kampung kita tidak terkena sial akibat ulah mereka. Bagaimana saudara?" teriak lantang dari seorang yang kukuh dengan tuduhannya.


"Setuju." Suara itu terdengar lebih lantang.


__ADS_2