
Malam yang sunyi, hanya suara detak jarum jam yang menggema di ruang tamu. Meskipun Alzam sudah pada Melani untuk tidak menunggunya, tetapi perempuan itu memaksakan diri untuk menunggu Alzam pulang.
Berulang kali Melani menatap jarum dinding yang menggantung, ternyata sudah pukul 11 malam tetapi Alzam belum pulang. Wanita mana yang tak akan khawatir jika suaminya tak kunjung pulang. Meskipun rasa kantuk menyerang, tetapi Melani tetap bertahan untuk menunggu sang suami pulang.
"Apakah pak Alzam benar-benar sangat marah padaku?" tanyanya dalam hati.
Sampai saat ini Melani belum bisa memahami sifat asli dari suaminya. Kadang terlihat hangat, kadang terlihat dingin. Terkadang juga seperti sedang memberikan harapan kepada dirinya, tetapi tiba-tiba hambar seperti sayur kurang garam.
Jangankan Melani, Zahra saja juga tidak bisa memahami bagaimana sifat dari mantan suaminya itu. Dulu dia juga pernah berharap seperti Melani, tetapi kenyataannya dia tidak sanggup untuk bertahan, karena luka yang ditorehkan oleh Alzam begitu dalam. Zahra pun harus mengalami trauma ketika pertama kali bertemu dengan Alzam lagi. Namun, dalam waktu satu tahun terakhir ini Zahra melihat jika Alzam sudah berubah.
"Mel, bangun!" Suara Alzam membuat Melani tersentak. Rasa kantuk yang tak tertahankan, membuatnya malah ketiduran.
"Pak Alzam udah pulang?" tanya Melani sambil mengucek matanya.
"Kalau tidur di kamar jangan di sini!" Alzam pun langsung terlalu untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu Melani masih menatap punggung sang suami yang sejak tadi ditunggu. Hatinya terasa nyeri saat Alzam mengajukan dirinya begitu saja. Ingin menyerah, tetapi Melani sudah terlanjur memiliki perasaan kepadanya. Tak terasa matanya mulai memanas dan mengembun. Sebisa mungkin Melani menahan agar tak membanjiri pipinya.
Ya Allah kuatkan hatiku untuk menghadapi mas Alzam. Melani mengelus dirinya pelan.
Sementara itu di dalam kamar Alzam belum bisa memejamkan matanya. Dia tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Apakah gembok itu sudah bisa dibuka dengan kehadiran Melanie di sampingnya, karena setiap menatap Melani dada Alzam terus berkerumu. Bahkan dia juga sudah menjaga jarak agar hatinya tidak goyah, tetapi aura Melani seperti magnet baginya.
Kini tangannya terulur untuk mengambil sebuah foto yang berada di atas nakas. Foto pernikahannya dengan Zahra yang seadanya. Ternyata dia baru menyadari jika penyesalan itu hanya akan datang di belakang. Sambil mengelus bingkai itu Alzam berkata, "Penyesalanku tidak akan berarti apa-apa. Mungkin mulai saat ini aku akan menyimpan kenanganmu dalam memori saja karena saat ini kamu sudah bahagia bersama dengan pasanganmu. Bukan aku tidak ingin mencari penggantimu, tetapi aku tidak mau ketika telah memberikan harapan pada seseorang pada akhirnya dia akan menangisiku saat kepergianku nanti. Sama saja aku hanya akan meninggalkan luka untuknya. cukup kamu dan Aira yang aku lukai." Alzam mende.sah pelan dengan dada yang kian sesak.
Bukan tidak ingin membuka gembok yang sudah mengunci hatinya, tetapi Alzam berpikir dua kali untuk membukanya, untuk apa dibuka jika pada akhirnya dia hanya akan menanam luka. Tak terasa matanya terasa panas ketika tak bisa membuka hati untuk Melani. Alzam tahu jika dia adalah perempuan yang baik dan tulus. Alzam hanya takut jika sewaktu-waktu dia pergi hanya akan membuatnya hancur seperti hatinya saat itu ketika Aira dan Zahra pergi meninggalkan dirinya.
"Maafkan aku, Me!" ucap Alzam sebelum memejamkan matanya.
🥕🥕🥕
Meskipun sampai saat ini belum ada tanda-tanda hati yang luluh, tetapi Melani terus berusaha untuk mencari celah. Tidak ada yang tidak mungkin jika dia terus berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Ambisi Melani terlalu tinggi untuk menaklukkan hati Alzam, meskipun jarak usia mereka terpaut jauh, tetapi tak membuat Melani malu.
__ADS_1
Pagi ini Melani sudah menyiapkan sarapan untuk Alzam. Tak lupa kali ini dia juga menyiapkan bekal untuknya.
Saat Alzam sudah keluar dari kamarnya, keningnya mengerut saat melihat penampilan Melani yang sudah rapi, padahal saat ini tidak ada Deena di rumahnya. Bahkan aroma parfum membuat dadanya bergetar.
"Tumben udah rapi, mau kemana?" tanya Alzam yang sudah menarik sebuah kursi.
"Aku ingin bertemu dengan teman lama, Pak," ucap Melani dengan tangan lincahnya yang sedang mengambilkan sarapan untuk Alzam.
"Siapa? Laki-laki atau perempuan?"
Mata Melani menatap Alzam yang tengah memperhatikan dirinya.
"Dia ... " Terasa berat bibir Melani untuk membuka.
Sebenarnya pagi ini Melani akan bertemu dengan Adam. Dia sangat penasaran dengan kejadian kemarin, mengapa Deena bisa diambil oleh bapaknya, sementara dia sudah menitipkan Deena padanya.
"Kenapa tidak dilanjutkan? sudahlah aku sudah tahu jawabannya," kata Alzam datar. "Aku tak mengizinkanmu untuk pergi!"
"Tapi Pak, ini penting," kata Melani dengan mengiba.
"Aku tidak peduli. Jika aku katakan tidak, itu artinya kamu tidak boleh pergi!"
Melani mengerucutkan bibirnya sambil melihat Alzam dengan santai menikmati sarapan paginya. Percuma saja dia menyiapkan bekal juga pada akhirnya Alzam tak memberinya izin untuk keluar.
Karena merasa kesal akhirnya Melani mengambil lagi bekal yang sudah dia tak terapi untuk dibawa masuk ke. Alzam yang melihat hanya mengernyit.
"Mau dibawa ke mana?" tanyanya.
"Mau aku tuangkan lagi ke belakang."
__ADS_1
Seketika itu Alzam terseda kdan langsung mengambil air minumnya. Tidak menyangka jika Melani bisa ngambek.
"Bukannya itu adalah bekal untukku?"
"Tadinya begitu, tapi sepertinya gak jadi deh. Aku mau kasihkan sama tetangga aja."
Alzam yang tidak terima langsung menyusul Melani ke. Dia segera merebut bekal yang masih berada di tangan Melani. "Apa yang sudah menjadi milikku, takkan pernah aku berikan kepada orang lain!"
Melani menghela napas kasar. Dia lupa jika Alzam mempunyai kepribadian ganda. Kadang manis kadang asem, kadang kadang hangat kadang dingin.
"Memangnya kamu ingin bertemu dengan siapa? Kekasihmu?" Kali ini Alzam memilih mengalah.
Kepala Melani langsung menggiring. "Bukan, Pak. Hanya teman lama saja karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengannya, ujar Melani.
"Baiklah aku izinkan, tetapi aku juga harus ikut denganmu."
Melani menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak, Pak. Anda tidak boleh ikut!" tolak Melani.
"Baiklah jika aku tidak boleh ikut maka kamu tidak boleh pergi."
.
.
.
...🥕BERSAMBUNG🥕...
Selagi nungguin novel ini up lagi, mampir dulu yuk ke novel temen aku Lena Laiha dengan judul DENDAM CINTA, Mampir ya!
__ADS_1