Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
62 | Alzam Yang Pamaksa


__ADS_3

"Meskipun kamu tak akan menyentuhku, tapi aku tidak mau!" Zahra memilih berjalan ke sebuah sofa. Alzam yang melihat hanya tertawa kecil. "Terserah kamu saja, Ra!"


Alzam tak peduli dengan Zahra yang memilih untuk tidur di sofa. Untuk saat ini Alzam tak ingin memaksakan keinginan untuk tidur satu ranjang dengannya. Namun, tidak untuk malam berikutnya. Alzam sudah menyiapkan rencana selanjutnya.


"Aku tidak terbiasa tidur dengan lampu yang menyala. Tolong matikan lampunya!"


Zahra yang masih merasa kesal enggan untuk mematikan lampunya. "Matikan sendiri!" ketusnya.


Entah apa yang diinginkan oleh Alzam. Sepertinya Zahra kembali pada lima tahun yang lalu saat dia berada dalam satu kamar dengan Alzam. Namun, Zahra segera menepis semua pikirannya. Saat ini Kanna adalah suaminya. Tak pantas bagi seorang istri untuk memikirkan pria lain yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Ra, kamu dengar gak?"


"Aku tidak mau! Matikan sendiri jika mau!" tolak Zahra.


Karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya lampu tetap menyala dengan keadaan dua orang telah berada dalam mimpinya. Zahra yang juga sudah lelah memejamkan matanya begitu cepat, meskipun berada disebuah sofa.


Karena Alzam tidak biasa tidur dengan keadaan terang, dia pun terbangun untuk mematikan lampunya. Saat ingin kembali ke tempat tidur, mata Alzam menangkap Zahra yang sudah terlelap di sebuah sofa.


"Kamu benar-benar nekat dan keras kepala, Ra. Tapi aku suka! Semakin kamu memberontak, semakin aku tertantang untuk melumpuhkan mu," ujar Alzam.


Alzam yang sudah kembali ketempat tidurnya, tiba-tiba tak bisa lagi untuk memejam. Sosok yang ada disampingnya membuat getaran di dadanya bangkit kembali, setelah lima tahun tak bergetar. Hanya Zahra seorang yang mampu menggetarkan hatinya.


"Ra, jika waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah menyakitimu," lirih Alzam dengan membelai pipi Zahra. Usia pernikahan yang singkat membuat Alzam tak bisa banyak mengenang banyak tentang Zahra.


Dengan pelan, tangan Alzam berusaha untuk membuka kancing baju Zahra. "Maafkan aku, Ra."


🍂🍂🍂🍂


Kanna merasa sangat frustasi ketika nomer ponsel milik Zahra tak bisa dihubungi. Karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada Zahra, malam itu juga Kanna menyebar beberapa orang untuk menuju ke alamat yang diberikan oleh Zahra melalui pesan singkatnya.


"Semoga Zahra baik-baik saja," kata Kanna pada layar ponselnya yang masih berusaha untuk menghubungi Zahra.


Sebuah dengkuran kecil membuat matanya kembali sayu. Seharusnya Zahra bisa berada di antara mereka. Jika bisa meminta Kanna bersedia untuk menggantikan Zahra.


Dengan sapuan pelan, tangan Kanna membelai rambut Deena. "Dee, maafkan papa gak bisa jagain kamu dan mama kamu," bisiknya.

__ADS_1


Sulit bagi Kanna untuk memejamkan matanya. Hatinya terus gelisah menanti sebuah kabar baik dari orang suruhannya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Alzam kepada Zahra disana. Kanna hanya bisa berharap jika Zahra bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Papa belum tidur?" tanya Deena saat melihat Kanna masih bersandar di dinding tempat tidur.


Mata Kanna segera menoleh. "Kok bangun, Sayang? Kamu haus?"


Dengan pelan Deena menggeleng. "Deena kalau malam suka bangun, Pa. Dulu kata Calline kalau kita berdoa di tengah malam, doa kita bisa didengar oleh Tuhan dan akan segera dikabulkan. Deena hanya ingin berdoa agar Deena bisa kumpul lagi bersama Mama dan Papa," ucap Deena dengan kepolosannya.


Kanna segera merebahkan tubuhnya disamping Deena dan merangkul tubuh mungil yang dia rindukan selama ini.


"Apakah Papa juga sedang ingin berdoa pada Tuhan?"


"Iya, Sayang. Papa sedang berdoa agar mama bisa segera kembali bersama kita."


.


.


Karena tak memiliki pakaian ganti, akhirnya Kanna mengajak Deena untuk ke toko pakaian. Meskipun berada dalam keramaian, hati Deena tetap lah kosong dan kesepian.


Bersama dengan Kanna membuat Deena nyaman, meskipun dia bukanlah papa kandungannya. Kanna bisa mengerti akan dirinya ketimbang Alzam yang menghapus sebagai papa kandungnya.


"Deena mau makan di kamar, Pa. Tapi Deena gak mau kita ke restoran yang tadi malam. Deena takut, Pa."


Karena Deena menginginkan berjalan sendiri, akhirnya Kanna memilih untuk menggandengnya saja.


"Oke. Lagian tempat itu juga jauh dari sini. Kita cari di dekat sini, pasti ada kok makanan Indonesia."


Hati Kanna seperti teriris ketika Deena merasa trauma atas kejadian tadi malam. Seharusnya sebagai seorang ayah yang baik, Alzam tidak menakuti Deena dengan dengan keegoisannya. Ingatan Deena pasti akan membekas sampai dia dewasa kelak. Bisa jadi setelah ini Deena akan sangat membenci Alzam, terlebih dia telah membawa mamanya pergi.


"Pa, kenapa papa Alzam itu jahat? Dia bilang dia papanya Deena, tapi dia jahat sama Deena. Dia melarang Deena untuk bertemu dengan mama dan papa dan sekarang dia juga mengambil mama?"


Kanna hanya membuang napas beratnya. Yang Kanna tahu Alzam hanya menginginkan Deena untuk menjadi pewarisnya. Namun, dia juga tidak menyangka jika akan mengambil Zahra lagi.


"Dia gak jahat, Sayang. Dia hanya ingin perhatian dari Deena saja, tapi caranya yang salah. Kita doakan saja semoga papa Alzam segera sadar, ya."

__ADS_1


Memang terasa sangat berat ujian yang Kanna hadapi saat ini. Satu persatu cobaan datang menghampirinya. Sebenarnya Kanna tidak kuat, tetapi jika dia terpuruk lalu siapa yang akan menguatkan orang-orang yang dia cintai? Bahu Kanna harus kuat demi keluarga kecilnya.


"Oh iya, Dee. Selama ini papa Alzam membawamu ke mana saja? Mengapa keberadaan kalian susah untuk dilacak?" tanya Kanna yang merasa penasaran.


"Deena dia ajak kemana-mana, Pa. Papa Alzam membawa denah berpindah-pindah tempat. Kata papa Alzam dia hanya ingin membuat kenangan bersama dengan Deena sebelum dia pergi jauh," jelas Deena.


"Pergi ke mana?" tanya Kanna yang semakin penasaran.


"Deena tidak tahu, Pa."


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat penginapannya, Kanna masih memikirkan ucapan Deena. Apakah setelah ini Alzam akan pergi untuk menjauhi keluarganya? Meskipun itu benar, tetapi cara yang dilakukan itu tetaplah salah. Alzam sudah memisahkan anak dan ibu.


"Pa, papa tidak bohong kan kalau kita akan segera melepaskan Mama? Deena tidak mau papa Kanna akan menyakiti mama."


"Memangnya papa Alzam pernah menyakitimu?" tanya Kanna.


Deena menggeleng. "Tidak. Tapi papa Alzam selalu memaksakan keinginannya untuk dituruti. Deena takut jika mama akan dipaksa untuk menuruti keinginan papa Alzam," jelas Deena.


Kanna menghentikan langkahnya. Dia membayangkan jika Alzam akan berbuat macam-macam kepada Zahra.


"Tidak mungkin! Semoga itu hanya perasaanku saja. Aku yakin jika Zahra bisa menjaga dirinya dengan baik," batin Kanna dengan kecemasannya.


Namun, Kanna juga tidak bisa menjamin karena Alzam adalah orang yang sangat licik.


"Ya Allah, semoga Engkau bisa melindungi Zahra."


.


.


.


.


Makasih semuanya atas dukungan yang kalian berikan 😘😘

__ADS_1


( Mau tau apa yang dilakukan sama Alzam gak? Semoga kalian bisa nahan emosi nanti ya 🤣 )


__ADS_2