Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
49 | Belum Juga menemukan Deena


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu tak ada kabar tentang Deena. Bahkan polisi juga sudah turun tangan untuk mencari keberadaan Deena, tetapi sampai saat ini Deena belum ditemukan.


Begitu juga dengan usaha Kanna yang mencari keberadaan Deena ke perusahaan milik Alzam. Namun, dia juga tidak mendapati Alzam. Salah seorang karyawan mengatakan jika saat ini Alzam sedang melakukan liburan ke luar negeri. Kanna semakin yakin jika Alzam sengaja membawa Deena pergi.


"Sial!" umpat Kanna yang kehilangan jejak Alzam.


Entah apa yang akan terjadi kepada Zahra ketika dia mengetahui jika Alzam telah membawa Deena luar negeri. Kanna menatap langit berharap, Tuhan akan membukakan pintu hati Alzam dan mengembalikan Deena kepada Zahra secepatnya. Karena hilangnya Deena membuat Zahra drop.


Berita hilangnya Deena juga sudah terdengar di telinga kedua kakak Kanna. Mereka sangat puas atas hilangnya Deena dan berharap semoga anak itu tidak akan pernah kembali lagi.


"Mas Dayat jangan senang terlebih dahulu. Tidak menutup kemungkinan jika wanita itu akan melahirkan anaknya Kanna, Mas," ucap Shena yang merasa belum puas.


"Belum tentu juga. Karena pasca melahirkan wanita itu mengalami penurunan imun dia tidak akan bisa hamil dalam waktu dekat. Jadi untuk saat ini posisi kita masih aman," ujar Dayat.


Shena mengulum senyum dibibirnyanya. Tidak sia-sia dia mengancam Alzam agar membawa anaknya pergi


"Bagus deh, Mas. Untung saja kita bisa meyakinkan pria itu untuk membawa anak pergi," lanjut Shena sambil menyesap kopinya .


****


Sebagai seorang ibu Zahra mengalami shock yang luar biasa manakala sang anak menghilangkan dan tak bisa ditemukan dalam waktu hampir satu minggu. Kesehatan pun ikut menurun karena Zahra terus memikirkan Deena. Doa dan usaha sudah dilakukan, tetapi Deena belum juga ditemukan.


"Bagaimana, Mas?" tanya Zahra saat melihat Kanna membuka pintu kamarnya.


Dengan langkah gontai, Kanna menghampiri sang istri dan mengecup keningnya pelan.


"Maaf Ra, aku belum bisa menemukan Deena," lirih Kanna.


Zahra menitihkan kembali air matanya. Hatinya seperti tercabik saat dia Deena belum berhasil di temukan.


"Doakan saja agar Deena segera pulang," tambah Kanna.


Kehilangan Deena membuat dunia Zahra serasa runtuh. Entah apakah Deena baik-baik saja atau tidak. Zahra tidak siap jika hal buruk terjadi kepada anaknya.

__ADS_1


"Mas ... kita harus bagaimana?"


Kanna tidak bisa menjawab. Dia hanya memberikan pelukan agar Zahra merasa lebih tenang. "Kita harus sabar, percaya jika Deena tidak apa-apa. Dia akan pulang secepatnya."


Kanna merasa gagal untuk menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah. Sampai saat ini dia belum bisa menemukan kemana Alzam pergi membawa Deena.


Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan. Kini sudah 3 bulan Deena menghilang tanpa jejak. Meskipun terpukul, tetapi Zahra harus tetap bangkit dari keterpurukannya. Dia harus melanjutkan lagi hidupnya, meskipun dia belum bisa menemukan Deena.


Sudah dua hari Zahra merasakan mual yang hebat saat mencium aroma makanan. Perutnya bergejolak dan langsung mengeluarkan isi dalam perutnya.


"Ra, kita berobat ke dokter, ya!"


Kanna tidak tega saat melihat wajah pucat sang istri. Bahkan setiap kali Zahra hendak makan, dia langsung merasa mual.


"Gak usah Mas. Ini cuma masuk angin biasa kok," tolak Zahra.


"Makanya kita ke dokter biar nanti dikasih obat sama dokter," kata Kanna.


"Nanti juga sembuh kok, Mas. Udah sana berangkat ke kampus, nanti terlambat."


Akhirnya dengan berat hati, Kanna memincingkan Zahra. Dia meminta agar Zahra beristirahat di rumah.


Selama 3 bulan tak hentinya Kanna masih mencari informasi tentang Alzam dan Deena. Tidak mudah bagi Kanna untuk menerima kenyataan jika Alzam benar-benar memiliki Deena sepenuhnya.


"Apakah sudah ada kabar?" tanya Kanna melalui sambungan teleponnya.


Karena tak juga mendapatkan informasi lebih lanjut, Kanna segera mematikan panggilan teleponnya.


"Percuma aku bayar mahal jika sampai saat ini mereka tidak bisa menemukan keberadaan Deena." Kanna membuang kasar nafas beratnya.


.


.

__ADS_1


.


Di ujung sebuah kota, tepatnya di pinggir pantai seorang anak kecil memandang luas pada liburan ombak yang menyapu daratan. sudah 3 bulan dia berada di tempat itu bersama dengan pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya.


Meskipun pada awalnya Deena tak mempercayai ucapan Alzam jika dia adalah ayah kandungnya, tetapi sebuah bukti foto pernikahannya dengan sang mama menjadi bukti nyata. Deena tidak menyangka jika ternyata Kanna bukanlah papa kandungannya.


"Apakah kamu tidak merasa bahagia tinggal disini?"


Deena menoleh. Sebenarnya dia merasa bahagia tinggal bersama ayahnya dengan segala kemewahan. Namun, dia juga merindukan mamanya. Deena tidak tahu bagaimana kabar mamanya. Dia pasti sangat mengkhawatirkannya, terlebih Deena tak diberi izin untuk memberi kabar kepada mamanya.


"Selama lima tahun Papa mencarimu ke sudut kota, berharap bisa menemukanmu dan menemukan mamamu. Namun ternyata mamamu malah bersembunyi di sebuah Villa. Apakah papa salah tidak bisa menemukan kalian saat itu?" tanya Alzam pada gadis kecilnya.


"Lalu mengapa papa berpisah dengan mama?"


Alzam terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan mengapa dia bisa berpisah dengan Zahra. "Panjang ceritanya. Sudahlah yang penting sekarang mama kamu sudah bahagia bersama dengan orang yang tepat. Biarlah papa berada dalam kesendirian ini," kata Alzam dengan iba. "Apakah kamu juga akan meninggalkan papa?"


Bola mata kecil itu menatap pria yang mengaku sebagai papanya. Bahkan dia juga mengajaknya keliling dunia.


"Tidak. Deena akan bersama dengan papa. Tapi Deena juga ingin bersama dengan mama. Deena rindu mama, rindu papa Kanna juga."


Seketika dada Alzam terasa panas ketika Deena menyebutkan nama Kanna. Padahal Alzam sudah membawa Deena untuk keliling dunia agar bisa membuktikan siapa yang paling pantas membuatnya bahagia.


"Apakah mereka lebih penting?" tanya Alzam.


"Mereka adalah keluarga yang Deena miliki. Deena sayang sama mama dan papa Kanna. Bisakah papa membawa Deena pulang?"


"Untuk saat ini kita belum bisa pulang Dee. Papa masih ingin menghabiskan waktu papa yang tersisa untuk bersamamu. Kelak semua ini hanya akan menjadi kenangan untukmu dan untuk papa. Bisakah kamu bersabar sebentar?"


Meskipun Deena tidak mengerti apa maksud dari ucapan papanya, dia hanya bisa pasrah. Percuma saja dia meronta jika pada akhirnya sang Papa tidak akan pernah mengabulkan permintaannya.


Diam bukan berarti bisa menerima. Saat ini Deena hanya bisa pasrah akan keinginan papanya. Mungkin saja benar ucapan papanya jika dia sangat merindukan dirinya sehingga masih ingin menghabiskan waktu bersama dengannya. Namun, dalam relung hatinya dia sangat merindukan Zahra dan Kanna.


"Ma, Pa, maafkan Deena. Deena tidak tahu apa yang harus Deena lakukan. Semoga Papa Al bisa segera membawa Deena pulang." Sebuah doa yang dipanjatkan oleh Deena sebelum meninggalkan pantai.

__ADS_1


__ADS_2