
Deena cemberut saat melihat papa dan mamanya yang mengunyah sarapannya. Karena papa dan mamanya, dia harus menahan rasa mules dan hampir saja pup di celananya.
"Ayo buruan makan! Hari ini Papa mau ajak jalan-jalan," ujar Kanna yang melihat Deena hanya mengaduk-aduk nasinya.
"Kan tadi Papa sama Mama udah minta maaf," timpal Zahra.
Sejak kejadian tadi, Deena merasa kesal dan enggan untuk berbicara. Namun, Kanna terus berusaha membujuk Deena agar mau berbicara. Bukan Kanna jika tidak bisa meluluhkan hati Deena.
"Gimana mau jadi kakak kalau Deena aja masih suka ngambekan? Pantesan aja dedeknya gak jadi-jadi."
Deena mendengus kasar. Jika sudah menyangkut adik, Deena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Harapannya sangat besar untuk memiliki seorang adik yang lucu agar dia tak merasa kesepian lagi.
"Deena gak ngambek, kok. Deena cuma merasa kesel aja sama Mama dan Papa!"
"Ya udah, Papa minta maaf lagi deh. Tapi asal Deena tahu, di dalam kamar mandi, Papa tuh lagi bantuin Mama memproses agar adik Deena cepat ada."
"Mas!" sentak Zahra.
"Memangnya ada alatnya di kamar mandi?" tanya Deena dengan kepolosannya.
"Ada dong! Tapi jangan tanya bagaimana cara buatnya. Yang penting Deena harus banyak berdoa agar dedeknya cepat jadi. Dan ... satu lagi! Deena gak boleh ngambek lagi kalau Mama sama Papa lagi memproses dedek di dalam kamar mandi, ya?"
"Baiklah! Tapi abis ini kita jalan-jalan lagi, ya!"
"Siap, Bos!"
Kanna tersenyum puas saat berhasil meyakinkan hati Deena dan tersenyum bangga ke arah Zahra. "Kamu harus copy cara ampuh ku untuk menaklukkan Deena!"
"Tapi tidak seperti itu juga, Ma? Deena itu anaknya pemikir keras. Bagaimana jika dia sampai mencari tahu proses pembuatan adik. Bisa-bisa kita yang malu sendiri, Mas!"
"Sudahlah kamu tenang saja. Untuk saat ini dia belum akan memikirkan sampai kesana karena yang dia inginkan hanya satu, ingin cepat punya adik."
__ADS_1
(Sekali-kali mas Kanna lewat ya)
Sesuai janjinya, saat ini Kanna membawa Deena dan Zahra kesebuah Museum terkenal yang ada di kota Paris. Deena yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke sebuah Museum tersebut merasa sangat takjub dengan keindahan dan kemegahannya.
"Wah ... indah sekali," gumam Deena pada beberapa lukisan yang terpajang.
"Papa pastikan kamu akan merasa puas melihat keindahan yang tersimpan di Museum ini," ujar Kanna.
Zahra hanya mengikuti langkah dua orang yang tengah melupakan dirinya. Bagaimana tidak, sejak mulai masuk ke Museum, Kanna lebih sibuk dengan celoteh Deena yang terus bertanya padanya. Namun, Zahra tetap merasa sangat bersyukur karena Kanna sangat menyayangi Deena sepenuh hatinya.
"Pa, Deena jadi teringat sama Calline yang berada di rumah papa Alzam," celetuk Deena tiba-tiba.
Kanna terdiam untuk sejenak, begitu juga dengan Zahra. Keduanya saling melemparkan pandangan.
"Memangnya Calline masih berada di rumah papa Alzam?" tanya Zahra penasaran. Karena selama Zahra berada di apartemen Alzam dia tak melihat boneka milik anaknya.
"Iya, Ma. Tapi Calline gak mau berbicara sama Deena lagi "
"Mungkin baterai Calline sudah habis," celetuk Kanna.
"Gak lucu, Pa!" ketus Deena.
Entah mengapa tiba-tiba Deena merasa sangat rindu dengan Calline. Sudah hampir satu minggu lebih dia tak menyentuh boneka Calline.
"Dee, gak boleh ngomong kasar sama papanya!" tegur Deena dengan pelan. Dia tak tahu mengapa sang anak tiba-tiba kehilangan moodnya.
Hanya dalam hitungan menit mood Deena langsung berubah drastis. Bahkan tak ada lagi senyum dibibir.
"Ma, Deena harus menemukan Calline sekarang juga! Perasaan Deena tidak tenang, Ma. Ayo cari Calline!" rengek Deena dengan menarik lengan mamanya.
"Deez kamu kenapa, Sayang?" tanya Zahra saat melihat Deena semakin merengek.
"Mas .... " Zahra memberi isyarat agar Kanna menenangkan Deena. Namun, tenaga Deena semakin kuat untuk menarik lengan Zahra
__ADS_1
"Deena, sakit tangan Mama!" Zahra berusaha untuk melepaskan genggaman kecil yang melingkar di lengannya.
Melihat ada yang tidak beres, Kanna segera mengambil paksa Deena. "Sayang, tenaga! Oke kita cari Calline sekarang. Maaf papa tadi hanya bercanda!"
Jarak antara tempatnya saat ini dan juga apartemen Alzam lumayan jauh. Jika biasanya Deena akan tertidur saat dalam perjalanan, tetapi tidak untuk saat ini. Bahkan Deena enggan berada dalam pangkuan Zahra. Bocah itu memilih duduk sendiri di bangku belakang.
"Mas ... Deena kenapa?" tanya Zahra yang masih penasaran.
"Aku tidak tahu, Ra. Setelah melihat salah satu patung kecil tadi, dia langsung teringat kepada Calline," ujar Kanna.
Sepanjang perjalanan hati Zahra sangat gelisah. Apakah ini adalah salah satu kontak batinnya dengan boneka Calline?
"Pa, jangan lambat!" protes Deena karena Kanna melajukan mobilnya dengan sedang.
"Tapi jalanan sedikit macet, Dee!" balas Kanna.
Deena kembali mengerucutkan bibirnya dengan rasa kesal. Saat ini dirinya benar-benar ingin bertemu dengan Calline.
"Ada apa, Mas?" tanya Zahra saat Kanna menepikan mobilnya.
"Ada yang menelpon," ujar Kanna.
Kanna segera mengangkat panggilan dari salah satu orang suruhannya yang berada di gedung tua. Kanna sangat terkejut saat mendengar berita yang baru saja diterimanya. Matanya menatap Zahra dan bergantian melihat Deena yang berada dibelakang.
"Ada apa, Mas?" tanya Zahra penasaran.
"Kita harus ke Rumah sakit."
Tak ada lagi kata yang keluar dari bibir Kanna. Dia hanya fokus pada setir kemudinya agar bisa segera sampai di Rumah sakit. Berulang kali Zahra bertanya ada apa, Kanna tak menjawabnya.
.
.
__ADS_1
.
Sepi Woiii. 🙄