
Zahra terpaksa tak mengikuti acara pemakaman kedua kakak iparnya yang meninggal akibat kecelakaan. Bahkan dia juga tidak bisa berada disamping ibu mertua untuk memberikan dukungan. Bukan karena tidak mau, melamin dia harus menunggu dua orang yang sedang kritis di rumah sakit.
Saat ini hanya ada Alzam yang menemani Zahra di rumah sakit. Alzam tak ingin meninggalkan Deena yang belum sadar.
"Ra, apakah boneka yang sering bersama dengan Deena ada di rumah? Karena aku tak menemukan boneka itu saat mengevakuasi Deena." Suara Alzam membuyar lamunan Zahra.
"Maksud mas Alzam, Calline?"
Alzam mengangguk pelan. "Iya. Jika memang berasal di rumah, bisakah kamu mengambilkannya?"
"Untuk apa?" tanya Zahra penasaran.
"Jika memang ada di rumah, bisakah kamu untuk mengambilkannya? Ini adalah salah sagu cara agar Deena cepat sadar," ujar Alzam.
Saat Zahra mengernyit. Ingin tak mempercayai, tetapi Zahra teringat jika Calline bukan boneka biasa. Siap tahu memang benar ucapan Alzam.
"Aku telepon mbak Ida dulu." Zahra pun langsung menghubungi nomor Art-nya dan menyuruh untuk mengambilkan boneka kesayangan Deena.
Setelah menghubungi mbak Id, Zahra kemudian menatap Alzam dengan dalam. Dia beranikan diri untuk menanyakan dimana dia membuang mbak Yani, pengasuh Deena.
Alzam sedikit gelagapan saat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Namun, Alzam memberikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Zahra.
"Maafkan atas kebodohanku, Ra. Mbak Yani telah pulang kampung dan tak akan kembali lagi ke kota ini," ujar Alzam.
"Apakah mas Alzam mengancamnya?"
"Iya. Aku telah memberikan kompensasinya agar dia meninggalkan kota ini. Sekali lagi maafkan aku, Ra," sesal Alzam dengan tulus.
Zahra memejam matanya pelan. Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Alzam tak pantas untuk mendapatkan kata maaf, tetapi Allah saja maha pemaaf, lalu mengapa sebagai seorang hamba-Nya tak bisa untuk memaafkan kesalahan orang lain yang benar-benar sudah bertaubat.
"Aku tahu aku salah. Jika kamu menginginkan dia untuk kembali, aku akan memanggilnya," tambah Kanna lagi.
"Gak usah! Gak perlu!"
__ADS_1
Zahra merasa ada perubahan dari pria yang ada didepannya saat ini. Mulai dari gaya bicaranya dan juga sikapnya. Mungkin saat ini Alzam sudah mendapatkan hidayah? Semoga saja hidayah ini tak akan luntur.
15 menit kemudian ....
Mbak Ida menyerahkan boneka Calline kepada Zahra. Saat boneka itu ingin diletakkan disamping Deena, Alzam berpapasan agar sang boneka juga ikut mendoakan untuk kesembuhan Deena.
"Tahu apa kamu tentang boneka ini, Mas?" tanya Zahra heran.
Alzam tersenyum tipis. "Tanpa kalian katakan, aku juga tahu kalau boneka ini bukan boneka sembarang. Tak akan ada satupun toko yang menjual boneka seperti ini sekalipun ke ujung dunia. Boneka ini adalah milik keluarga. Karena Deena didalam tubuh Deena mengalir darahku, berarti dia berhak mewarisi boneka itu," jelas Alzam.
Zahra masih belum bisa memecahkan tentang boneka misterius yang selalu bersama dengan anak anaknya.
"Apakah itu sejenis boneka kutukan? Denna pernah bercerita jika didalam boneka itu ruh yang sedang mencari raganya."
Alzam mende.sah pelan. Sebenarnya dia enggan untuk bercerita. Namun, sorot mata Zahra yang sayu membuatnya tergugah untuk bercerita mengapa boneka yang selalu bersama dengan Deena itu bisa berbicara.
Dia adalah Calline. Anak hasil hubungan gelap ayahnya dengan wanita lain. Bahkan hingga belasan tahun ibu Alzam tak mengetahui jika suaminya mempunyai hubungan gelap dengan wanita lain. Rahasia itu terbongkar saat Calline mengalami kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah. Satu-satunya orang yang bisa menolong Calline adalah ayah Alzam.
Istri mana yang tak sakit hati jika mengetahui suaminya diam-diam mempunyai hubungan gelap dengan wanita lain hingga belasan tahun? Hingga suatu saat ibu Alzam membawa pergi tubuh Calline yang sedang koma. Sejak saat itu ibu Alzam menghilang tanpa jejak.
"Tidak, Ra. Calline sudah ikhlas jika tidak bisa menemukan raganya asalkan dia bisa bersemayam dalam boneka keluarga kami," jelas Azlam lagi.
"Tapi mengapa saat berada di Paris Calline tak bisa berbicara dengan Deena?" tanya Zahra yang masih ingin tahu lebih dalam.
"Itu adalah kelemahan Calline. Dia tidak akan bisa berkomunikasi saat melihat salah satu dari keluarga kami yang mempunyai hati dan pikiran kotor."
"Jadi mas Alzam juga bisa berkomunikasi dengan Calline?"
Lagi-lagi Alzam tersenyum tipis saat melihat Zahra mengajukan banyak pertanyaan kepada dirinya.
"Tergantung hatiku. Jika hatiku kotor dan buruk dia tidak akan bisa berkomunikasi denganku. Namun, ketika hatiku bersih aku bisa berkomunikasi dengannya."
Zahra terdiam untuk beberapa saat. Detik kemudian dia menatap Kanna. Saat ini hatinya benar-benar remuk.
__ADS_1
Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk anak dan suamiku. Tanpa mereka aku tidak sanggup melewati hari-hariku. Ya Allah ya Rob, sesungguhnya Engkaulah pemiilik setiap nyawa. Aku tidak bisa melawan setiap kehendak-Mu. Namun, jika aku bisa meminta, aku ingin anak dan suamiku tetap berada di sampingku.
Zahra menyeka jejak air matanya. Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit seperti ada sesuatu yang sedang.
"Aduh ...." Zahra mengaduh sambil memenuhi perutnya.
Alzam yang duduk di seberang, segera menghampiri Zahra. "Kanapa, Ra?" panik Alzam.
"Gak tahu, Mas. Perutku sakit. Aduh ...." Zahra menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang menyerang perutnya.
Alzam tak punya banyak pilihan. Dia segera membopong tubuh Zahra untuk keluar dan dan memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Zahra.
Rasa yang terus melilit perut membuat Zahra semakin mengeratkan tangannya di leher Alzam. Dia tak peduli dengan siapa yang sedang menggendongnya. "Aduh ... sakit, Mas."
Alzam berusaha tetap tenang, meskipun sebenarnya dia sangat panik.
Sesampainya di sebuah ruangan, Zahra segera diperiksa oleh seorang dokter. Alzam mengira jika Zahra sudah waktunya untuk melahirkan. Dia pun hanya bisa modar banjir di depan pintu ruang periksa, berharap tidak akan terjadi sesuatu dengan Zahra.
Pintu dibuka, Alzam segera menodong sang dokter yang baru saja memeriksa Zahra.
"Bagaimana dengan keadaan Zahra, Dok? Apakah dia sudah akan melahirkan?"
"Anda tenang dulu, Pak! Pasien tidak apa-apa, dia hanya mengalami stres yang berlebih. Jadi saya sarankan jangan biarkan dia mengalami stres, karena itu akan mempengaruhi kandungannya. Apalagi waktu HPL sudah hampir dekat," jelas sang dokter.
"HPL?" cicit Alzam.
"HPL itu Hari Perkiraan Lahir. Mungkin sekitar dua bulan lagi waktu persalinannya. Anda tenang saja pasien tidak apa-apa, hanya saran saya, jangan biarkan pasien mengalami stres lagi."
.
.
.
__ADS_1
Satu Bab lagi ya menuju End