Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
67 | Membawa Ke Neraka


__ADS_3

"Mas Alzam, berapa passwordnya!" teriak Zahra yang semakin panik.


Tak ada jawaban dari Alzam. Namun, Zahra terus berusaha untuk membuka pintu dengan terus menekan sembarang angka. Tiba-tiba Zahra teringat untuk menekan sesuai dengan angka lahirnya.


"Bismillah, semoga bisa." Zahra memejamkan mata, berharap itu adalah passwordnya.


Mata Zahra terbelalak saat dia telah berhasil membuka pintu. "Alhamdulillah."


Zahra segera berteriak memanggil Kanna. "Mas ... pintu sudah dibuka."


Mendengar teriakan Zahra, Kanna menghentikan langkahnya. Terlebih dia melihat jika pintu sudah terbuka.


Kanna segera menelepon seseorang untuk datang.


***


Kanna kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan Zahra yang merasa ketakutan.


"Mas kita mau kemana?" tanya Zahra heran, karena Zahra merasa asing dengan jalan yang ditempuh oleh Kanna.


"Aku akan membuat pria baji.ngan itu mati secara perlahan.


Zahra tidak menyangka jika kemarahan Kanna sangat mengerikan.


Sebenarnya Zahra merasa sangat iba kepada Alzam yang saat ini berada di belakang. Dengan tangan dan kaki terikat, Alzam hanya bisa pasrah. Bahkan dia enggan untuk berbicara, meskipun sejak tadi Kanna melontarkan beberapa pertanyaan kepada dirinya.


Zahra takut jika penyakit yang dikatakan oleh nenek Rose akan kambuh secara tiba-tiba dan Alzam benar-benar akan mati. Namun, Zahra tidak berani untuk mengatakan kepada Kanna. Dia takut jika dianggap sedang membela Alzam.


Mobil yang dikendarai oleh Kanna tak luput dari pengawalan dua mobil orang suruhannya. Meskipun Kanna tak sekaya Alzam, akan tetapi dia masih sanggup untuk menyewa orang.


Mata Zahra kembali terbelalak ketika mobil yang dikendarai oleh Kanna berhenti di depan sebuah bangunan tua. Bangunan yang jauh dari kota dan pasti tempatnya juga sudah tak terawat lagi.


"Ini tempat apa, Mas?"


"Neraka untuk pria itu!"

__ADS_1


Kanna segera membawa Alzam untuk masuk ke gedung tersebut. Sebenarnya Kanna tidak tahu tempat apa itu. Dia hanya mengikuti saran dari orang suruhannya. Tempat yang cocok untuk Alzam.


"Mas, aku tahu kamu sangat marah kepadaku, tapi kalau dia mati beneran gimana? Apakah kamu tidak akan merasa bersalah?"


"Ra, aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada pria baji.ngan ini agar dia tahu bagaimana rasanya terkurung dalam kesendirian," ujar Kanna.


Alzam yang mendengar ucapan Kanna hanya tersenyum getir. Selama ini dia sudah merasakan bagaimana terkurung dalam kesendirian. Tak ada satupun orang yang peduli kepada dirinya selama ini.


"Kamu salah jika ingin membuatku terkurung dalam kesendirian. Aku sudah kebal akan kesendirian," sahut Alzam.


Saat ini Kanna sudah membawa Alzam kedalam sebuah ruangan yang kosong. Dia tersenyum tipis. "Sepertinya ini adalah tempat yang cocok untukmu menuju neraka. Tak akan ada satu orang pun yang bisa menolongmu dari maut. Kamu akan membusuk di sini," ujar Kanna.


"Aku tidak peduli! Jika memang aku akan membusuk di sini, aku hanya ingin satu. Jangan pernah kamu sakiti Zahra dan juga Deena. Aku akui, aku adalah pria bodoh yang sudah menyia-nyiakan bongkahan berlian. Aku sadar, aku tidak pantas untuk menjaga mereka." Alzam tersenyum menatap Kanna dan juga Zahra.


Zahra seperti tak sampai hati saat mendengar ucapan Alzam. Dia tahu jika saat ini Alzam sedang berjuang untuk melawan penyakitnya. Jika Kanna meninggalkan Alzam di tempat ini, Zahra bisa memastikan jika Alzam benar-benar akan mati.


"Mas, apakah tidak ada cara lain untuk menghukum mas Alzam? Tempat ini terlalu jauh. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya? Jika dia benar-benar mati, secara tidak langsung kamu sudah membunuhnya. Aku tidak mau suamiku menjadi seorang kriminal." Zahra mengiba.


Kanna terdiam untuk beberapa saat, lalu menatap tajam ke arah Alzam. "Aku salut setelah kamu menyentuhnya, kamu juga mencuci otaknya. Dasar pria licik!"


"Mungkin ini adalah balasan untukku atas segala perbuatanku. Dan mungkin dengan cara seperti ini kepergianku tidak akan pernah ditangisi oleh siapapun. Aku tidak ingin kepergianku membuat kalian bersedih." Alzam menyadarkan tubuhnya di dinding yang sedikit berdebu.


Sementara itu Zahra masih berusaha untuk membujuk Kanna agar tak meninggalkan Alzam sendirian di gedung tua ini.


"Kamu tak usah khawatir karena ada beberapa orang yang berjaga di tempat ini. Kamu tenang saja dia tidak akan mati!" ujar Kanna.


"Tapi dia sedang sakit, Mas!"


"Ra, apakah malam yang telah kalian lewatkan sangat berkesan hingga kamu terus membelanya? Aku tidak habis pikir denganmu." Kanna berlalu dengan rasa kecewanya.


Zahra tidak tahu harus berbuat apa. Disaat seperti ini Kanna tidak akan pernah mempercayai dirinya. Bahkan jika dia terus memohon untuk mengasihani Alzam, hanya akan menyudutkan dirinya saja. Bisa-bisa karena berpikir jika Zahra masih memiliki rasa kepada Alzam.


"Semua ini salahmu Mas! Jika kamu tidak mengirim video itu kepada mas Kanna, keadaan tidak akan serumit ini. Maaf jika aku tidak bisa membantumu."


Zahra memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Bahkan sepanjang perjalanan, tak ada kata yang terucap dari bibir Kanna. Dia tahu jika saat ini Kanna sedang kecewa dengan dirinya. Namun, semua ini bukan keinginannya.

__ADS_1


"Kamu tunggu saja disini! Aku akan menjemput Deena sebentar," pesan Kanna sebelum dia turun dari mobil.


Zahra hanya mengangguk pelan. Dia menyandarkan kepalanya pada kepala jok mobil.


"Ya Allah, semoga Engkau melindungi mas Alzam. Sejahat apapun dia, dia adalah hamba-Mu."


Tak berapa lama, pintu mobil dibuka dan menampilkan bocah kecil yang sangat kegirangan saat melihat Zahra berada didalamnya.


"Mama," teriak Deena yang langsung memeluk mamanya.


Zahra langsung tersadar dari lamunannya. Bibirnya menyunggingkan dan tak hentinya dia menghujani cium.an ke wajah Deena.


"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Zahra yang selamat merindukan putrinya.


"Deena baik-baik saja, Ma. Deena rindu mama," ujar bocah itu yang tak melepaskan dirinya dalam pangkuan Zahra.


"Papa, terima kasih telah membawa mama pulang."


Kanna menoleh dan memaksakan senyum tipisnya. "Iya, Sayang. Sudah kewajiban papa untuk membawa Mama pulang."


Selama perjalanan pulang hanya suara Deena yang terdengar. Sesekali Zahra dan Kanna hanya menimpali. Zahra mulai merasa jika Kanna sedang tidak ingin berbicara kepada dirinya.


"Ma, apakah papa Alzam, tidak menyakiti Mama?" tanya Deena dengan kepolosannya.


Terasa berat untuk menarik kedua garis simpul bibirnya. Namun, Zahra menunjukkan cinta dirinya baik-baik saja. "Tidak, Sayang. Papa Alzam tidak menyakiti Mama. Kamu tidak usah berpikir berlebihan ya. Mama tidak apa-apa."


Mempunyai anak yang luar biasa membuat Zahra harus tetap bisa menjaga lisannya. Jangan sampai ucapannya membuat sang anak berpikir yang lebih jauh.


.


.


.


Sepi amet sih, apa pada malam mingguan ya? Nongol napa woii aku kasih kiss 😘😘 Temenin aku malam mingguan yok!

__ADS_1


__ADS_2