
Sudah cukup aku menjadi wanita bodoh yang terlalu mudah percaya kepada orang lain. Saat ini aku harus fokus pada anak yang ada dalam perutku, tak peduli siapa itu ayahnya.
Mas Alzam hanya membutuhkan seorang anak, dia sama sekali tidak peduli akan diriku.
Lelaki seperti itu tak pantas untuk ku pertahankan. Untuk apa aku bertahan jika aku terus tersiksa.
Kulihat sosok di sampingku yang masih tertidur dengan pulas. Sudah dua hari ini dia memilih tidur di rumah ini.
"Mas bangun, udah siang."
Meskipun masih dalam keadaan kecewa, tetapi aku tidak melupakan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku masih melayaninya baik lahir maupun batin.
"Hari ini aku libur," balasnya yang kemudian menarik selimutnya lagi.
Mendengar jawabannya, aku pun bangkit dan segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan kami, karena Mbak Hani belum kembali.
"Astaga, aku lupa jika stok sayuran sudah habis," kataku dengan menepuk jidatku.
Mau tak mau aku harus menunggu tukang sayur yang lewat depan rumah.
Saat kembali lagi ke kamar, kulihat mas Alzam sudah rapi dengan pakaian casualnya. Kaos putih dipadukan dengan celana navi membuatnya terlihat seumuran denganku, meskipun usia kami terpaut 10 tahun.
"Kamu mau kemana?" tanya mas Alzam saat aku mengambil beberapa lembar uang di dalam dompet.
"Mau mau belanja sama tukang sayur. Aku lupa kalau stok sayur kita sudah habis."
__ADS_1
"Gak usah! Aku antar kamu ke supermarket aja!" cegah mas Alzam.
"Tapi aku ingin menunggu tukang sayur, Mas."
Mas Alzam yang tak bisa dibantah, segera mengambil kunci mobilnya. Aku hanya berdecak pelan ketika mas Alzam memaksaku untuk naik ke mobil.
"Naiklah keburu siang! Kita juga harus mengurus kartu keluarga nanti," kata mas Alzam yang mengingat janjinya pada pak ketua RT.
Selama perjalanan aku enggan untuk berbicara padanya. Rasa kecewaku masih bersarang dalam dada. Sebenarnya untuk melihat wajah mas Alzam aku ingin memaki, tetapi aku mencoba untuk lebih sabar.
"Ra, kamu masih marah?" tanya mas Alzam.
"Tidak ada gunanya aku marah, Mas," kataku dengan ketus.
"Meskipun kamu sembunyikan, aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi seberapa besar kamu melawan, kamu tidak bisa, Ra! Anak yang ada dalam kandunganmu tetap akan menjadi milikku dan Aira! Semua sudah tertulis di surat perjanjian" jelas mas Alzam.
"Bahkan aku juga tidak mencicipi sedikit pun uang yang kamu berikan kepada ibuku. Lalu apakah aku pantas untuk bertanggung jawab?" lanjut ku lagi.
Mas Alzam tak membuka mulutnya hingga sampai di depan sebuah supermarket terdekat. Aku pun segera turun karena sudah murah muak dengan melihat wajah mas Alzam yang tak berperasaan kepadaku.
Segera pulangkan kakiku untuk masuk ke dalam supermarket. Hawa yang tadinya terasa panas kini mendadak sangat dingin. Mungkin karena suhu AC terlalu tinggi. Bahkan aku tak peduli dengan mas Alzam yang aku tinggal dibelakang.
"Ara?"
Sebuah panggilan menembus ke telinga, membuat jantungku bergerumuh dengan kuat.
__ADS_1
"Mas Kanna," kataku dengan bibir yang sedikit bergemetar. Aku merasa sangat terkejut dengan sosok mas Kanna yang sudah ada di depanku.
"Selama ini kamu kemana? Aku sangat mencemaskankan mu, Ra." tanyanya langsung.
"Maaf Mas, aku .... " Belum sempat aku memberi penjelasan Mas Alzam sudah menarik mundur lenganku.
"Maaf dia sudah menikah," ujar mas Alzam dengan sorot mata tajamnya.
Mas Kanna hanya tersenyum kecil. "Aku sudah tahu. Ra, aku duluan ya," pamit mas Kanna yang segera selalu berlalu.
Aku pun juga ikut betlalu meninggalkan mas Alzam.
"Ra, tunggu!" teriaknya dengan mengejarku.
🍂🍂
Setelah pertemuanku dengan mas Kanna, aku berpikir dia bisa menolongku untuk keluar dari belenggu pernikahan ini. Tanpa sepengetahuan dari mas Alzam, mas Kanna sempat memberikan kartu namanya padaku. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku terima saja.
"Sepertinya Tuhan sedang menujukan jalan keluar," batinku saat melihat kembali kartu yang ku pegang. Dan akupun berencana menghubungi mas Kanna saat mas Alzam tak berada di rumah.
"Ra, aku akan pergi ke rumah pak RT," pamit mas Alzam padaku.
"Iya Mas," jawabku yang hendak menata sayuran ke kulkas.
Ku coba untuk memastikan jika Mas Alzam memang benar-benar telah pergi.
__ADS_1
"Aman," lirihku, sambil mengeluarkan ponsel dan menekan nomor yang tertera di kartu nama.
"Mas Kanna, ayo angkat," kataku dengan rasa was-was. Aku takut jika sewaktu-waktu mas Alzam kembali pulang.