Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
122 | Melepaskan Alzam


__ADS_3

Entah mengapa hati Melani terasa berat saat melepaskan kepergian Alzam, padahal dia tahu bahwa pria itu sama sekali tak memiliki perasaan kepadanya. Lalu mengapa dia harus mengkhawatirkan kepergian Alzam?


Tubuh Melani mendadak membeku, saat tangan Alzam menariknya untuk masuk ke dalam pelukannya. "Izinkan aku memelukmu untuk sebentar saja," bisiknya.


Pelukan yang sangat erat bisa Melani rasakan. Bahkan ini adalah pelukan pertama yang diberikan Alzam padanya. Tiba-tiba saja hati Melani berdesir, seakan tak mengizinkan Alzam untuk pergi. Namun, dia tak memiliki kuasa untuk menahannya.


"Selama aku tidak ada, jangan berbuat bodoh dengan menangisiku setiap hari, karena aku paling tidak suka melihat air mata," pesan Alzam sebelum melepaskan pelukannya.


"Iya. Aku pasti akan mengingatnya, Pak. Asalkan Anda segera pulang," balas Melani datar.


"Jangan larut dalam kesedihan saat aku tak kunjung pulang, karena aku pasti membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaanku di sana."


Dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, Melani melepaskan kepergian Alzam yang begitu sangat berat. Dalam hati dia meminta agar Alzam bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan segera pulang.


"Aku akan selalu menunggumu, Pak," ujar Melani berat.


Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir Alzam. Hanya sebuah senyuman yang membalas ucapan Melani.


'Ya Allah lindungilah dimanapun pak Alzam berada. Jaga dia agar bisa segera kembali pulang, karena di sini ada hati yang akan menunggunya.' batin Melani.


๐Ÿฅ•๐Ÿฅ•๐Ÿฅ•


Karena tak memiliki tujuan lagi, akhirnya Melani memutuskan untuk mengunjungi rumah Zahra. Terbesit dalam pikirannya untuk menasehati kakaknya agar tak memberikan hati lebih kepada Naura.


Zahra merasa terkejut melihat kedatangan Melanie yang secara tiba-tiba. Ia mengernyit dan mengira jika sedang ada masalah dengan Alzam.


"Kamu kenapa Mel? Ayo masuk!" kata Zahra saat melihat seseorang di balik pintunya.


"Mbak Na dimana, Mbak?" tanya Melani langsung.


Zahra hanya mengembangkan senyum di bibir sebelum menjawab pertanyaan Melani. "Seperti biasa kalau pagi dia menunggu Deena di sekolahan. Ada apa?" tanyanya.


"Mas Arka dimana?"


"Jam segini mas Kanna lagi ngajar, Mel. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang sangat penting?"


Melani hanya tersenyum tipis. "Gak ada, Mbak. Aku hanya ingin minta maaf untuk masalah hari itu. Aku tidak bermaksud untukโ€”" ucapan Melani terpotong.

__ADS_1


"Yang lalu biarlah berlalu. Semua terjadi begitu saja. Aku tahu bagaimana watak bapak," ujar Zahra.


Melani tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Zahra jika saat ini dia sedang menampung seorang kenal di rumahnya, terlebih benalu itu adalah adiknya sendiri. Namun, Melani harus memberi peringatan kepada Zahra agar tetap berhati-hati kepada Naura.


"Mbak, aku tidak ingin menjadi kompor dalam rumah tangga Mas Arka dan juga Mbak Ara, Tapi alangkah baiknya jika Mbak Ara bisa menjaga jarak dengan Mbak Na. Meskipun dia adalah adik Mbak Ara, tidak ada salahnya untuk memberikan jarak dengan mas Kanna," ujar Melani dengan tangan bergemetar. Jadi takut jika Zahra akan menganggapnya sedang memprovokasi dirinya.


"Maksud kamu apa Mel? Naura baik kok. Nggak mungkin dia mau nusuk kakaknya sendiri," kata Zahra yang meyakinkan dirinya.


Namun siapa yang menyangka jika perbincangan keduanya didengar oleh ibu Kanna. Karena ia juga memiliki perasaan yang sama dengan, ya pun langsung menghampiri mereka. "Nggak ada salahnya untuk mencoba jarak, Ra. Kita tidak akan tahu bagaimana sifat asli seseorang. Kamu jangan pernah lupa banyak di sekeliling kita yang memakai topeng, sehingga kebusukannya tak terlihat. Sebaik apapun mereka, kita wajib menjaga jarak agar tak terperosok dalamnya. Bukankah hal seperti ini sudah sering terjadi kepada keluarga kita?"


Zahra dan Melani sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh ibu Kanna. Melani yakin jika mertua kakaknya itu lebih peka daripada kakaknya.


"Apakah ibu juga merasakan apa yang mereka rasakan?" tanya Melani kepada ibu Kanna.


"Ya aku merasakannya. Karena saking baiknya kakakmu tidak peka dengan keadaan yang sebenarnya," balas ibu Kanna.


Zahra yang memang tidak mengetahui arah pembicaraan hanya mengernyit. "Sebenarnya apa yang sedang kalian bahas?" tanya Zahra dengan heran.


Kali ini Melani memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya agar Zahra lebih berhati-hati kepada Naura. Melani juga mengatakan jika Naura sedang ingin menjadi duri di dalam rumah tangganya.


Merasa sok tak percaya, sejarah hanya bisa menghilangkan kepalanya seraya berkata, "Tidak mungkin Naura akan menusukku dari belakang."


Zahra membuang kasar nafasnya. dia benar-benar tidak menyangka jika Naura akan menusuknya dari belakang.


"Sebaiknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mulai saat ini Mbak Sarah harus memberi jarak antara Mas Kanna dengan Na. Bisa saja Mbak Na merencanakan sesuatu sehingga membuat rumah tangga kalian berantakan," saran Melani.


"Benar itu, Ra. Sebelum Naura bertindak nekat sebaiknya kamu mengambil keputusan untuk menjauhkan Naura dengan Deena. Karena saat ini kunci utamanya adalah Deena," saran ibu Kanna.


Meskipun merasa tidak percaya tetapi, Zahra tetap menerima saran dari kedua orang yang telah memberinya pencerahan. Memang tidak ada salahnya untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.


"Ya udah, nanti aku bicarakan sama mas Kanna," ujar Zahra.


"Gimana kalau Mbak na tinggal di rumah pak Alzam. Kebetulan aku juga sedang di rumah sendiri karena pak Alzam sedang melakukan perjalanan ke luar negeri," saran Melani.


Zahra mengernyit heran. "Mengapa kamu gak ikut?"


Melani menarik tipis kedua garis simpul bibirnya. "Aku gak mau merepotkan pak Alzam, Mbak. Kalau aku ikut yang ada nanti pak Alzam gak fokus sama pekerjaannya," kilah Melani.

__ADS_1


Setelah puas berbincang akhirnya Melani memutuskan untuk pulang. Ada rasa tidak enak saat berlama-lama di rumah kakaknya sendiri. Sebelum pergi Zahra bertanya kepada Melani apakah Alzam memperlakukannya dengan baik, mengingat pernikahan mereka yang terjadi secara tiba-tiba.


Sebisa mungkin Melani menyembunyikan perlakuan Alzam padanya, terlebih tentang kontrak 6 bulannya.


"Alhamdulillah, pak Alzam bisa menerimaku dengan baik, Mbak. Ya, Meskipun membutuhkan proses."


"Alhamdulillah kalau begitu. Berarti sekarang Mas Alzam udah bener-bener berubah. Aku sangat bahagia mendengarnya, Mel. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai until Jannah ya."


"Amin. terima kasih doanya, Mbak."


Kini langkah Melanie terlihat sedikit tak bertenaga jika mengingat dengan status pernikahannya dengan Alzam.


"Huh, punya nasib gini amat. Mending aku nongkrong aja deh di cafe sekalian cuci mata," kata Melani dengan kalau napas panjangnya.


Karena tak memiliki banyak teman, Melani hanya duduk seorang diri. Jika dulu dia adalah seorang waiters, tetapi kini ia menjadi seorang. Bahkan ada beberapa waiters yang mengenali dirinya.


"Wah ... Mela? Kamu kemana aja?Tiap hari Adam kesini, katanya lagi nungguin kamu, lho." sapa seorang waiters yang mengenali dirinya.


Melani mengernyit saat mendapatkan kabar terbaru jika Adam masih berharap padanya.


"Coba kamu tunggu aja nanti kira-kira jam 3 sore dia pasti akan datang dan duduk di bangku nomor 3."


Karena masih banyak tamu yang harus layani, akhirnya waitress itu meninggalkan Melani begitu saja.


"Ngapain coba Adam nungguin aku disini? kayak nggak punya kerjaan aja," gerutu Melani.


.


.


.


...๐Ÿฅ•๐Ÿฅ•๐Ÿฅ•...


...BERSAMBUNG...


Coba tebak kemana Alzam pergi. Yang benar aku kasih ๐Ÿ’‹

__ADS_1


Sambil menunggu jawabannya, mampir dulu yuk ke novel temen aku. BACK TO MANTAN, dijamin seru ceritanya, mampir ya!



__ADS_2