
Zahra merasa sangat bahagia ketika mendapat kabar dari Alzam yang mengatakan jika saat ini ia sudah berada di Bandara untuk kembali pulang. Karena terlalu bahagia, Zahra meminta Alzam untuk menunggu saja disana karena ia dsn Kanna akan menjemputnya.
Zahra sudah tak sabar untuk bertemu dengan Melani dan juga keponakan, yang pasti juga sudah besar sekali Khanza. Entah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, Zahra belum sempat menanyakan pada Alzam.
"Mas, ayo cepat!" kata Zahra yang sudah duduk di mobil.
"Sabar, Ra. Ini kancing bajuku sudah tak bisa dikancingkan lagi," ujar Kanna yang sedikit kesusahan untuk mengancingkan bajunya, pasalnya saat ini tubuh Kanna sedikit berisi dan perutnya yang sedikit membuncit. Itu semua karena Zahra yang selalu bisa membuat selera makannya meningkat berlipat kali.
"Makanya diet, Mas!"
"Gimana mau diet kalau tiap hari kamu selalu masak makanan kesukaanku!" protes Kanna.
"Kamunya aja yang nggak bisa nahan diri. Itu kan aku masak untuk anak-anak."
Perdebatan kecil yang menjadi bumbu sebuah hubungan, hingga pernikahan mereka bisa bertahan sampai detik ini. Saling mengalah dan membuang ego untuk tetap bisa menghargai pasangannya. Begitulah cara Kanna dan Zahra mempertahankan hubungan mereka. Terlebih saling percaya adalah kunci utama mereka tetap harmonis, meskipun pekerjaan Kanna yang setiap hari akan menatap para wanita muda.
Tak lama perjalanan mereka telah sampai di Bandara. Zahra benar-benar sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Melani. Namun, pada saat ia telah telah bertemu dengan Alzam, Zahra hanya mengernyit dengan rasa penasarannya.
"Tidak mungkin!" mulut Zahra terasa bergetar saat mendengar penjelasan Alzam. Tubuh Zahra hampir saja terjatuh, beruntung saja Kanna segera menangkapnya.
7 tahun berlalu tanpa kabar, kini tiba-tiba muncul kembali di dengan suasana yang berbeda. Siapa yang akan menyangka jika takdir akan berkata lain.
"Maaf jika selama ini aku tidak pernah memberikan kabar kepada kalian," ujar Alzam dengan rasa sesal.
"Tidak apa-apa. Kami juga turut berduka cita atas kepergian Melani. Seharusnya kamu tidak menyembunyikan semua ini kepada kami agar kami bisa menemani masa-masa sulitmu," ucap Kanna sambil menahan rasa sesak di dalam dadanya saat mengetahui jika Melani tidak bisa bertahan saat sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
Ya, Melani harus menyerah ketika ia sedang berjuang untuk melahirkan malaikat kecil di usianya yang masih muda. Beruntung saja saat itu Alzam telah dinyatakan sembuh dan bisa melewati kenyataan yang begitu pahit.
__ADS_1
Saat baru saja ia ingin merasakan kebahagiaan kecil yang ia bina bersama dengan sang istri dan telah banyak merencanakan masa depan tiba-tiba takdir perkataan lain. Melani mengalami pendarahan hebat ketika sedang berjuang untuk melahirkan Alma.
.
Sepanjang perjalanan Zahra hanya menangis dalam diamnya. Ia masih tak percaya dengan kenyataan jika Melani sudah tiada.
Untuk saat ini Kanna mengajak Alzam untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Biar bagaimanapun Alzam juga ayah dari Deena. bocah itu pasti akan sangat bahagia jika melihat ayah kandungnya muncul secara tiba-tiba dihadapannya.
"Deena pasti akan sangat bahagia jika melihat papanya pulang dengan membawa apa yang pernah ia inginkan, yaitu seorang adik perempuan. Ngomong-ngomong siapa namanya?"
Bocah kecil yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya. "Alma, Om," ucapnya.
"Wah, cantik sekali namanya seperti anaknya," ujar Kanna.
"Kata Papa itu nama pemberian dari mama, Om."
Zahra diam bukan berarti ia tidak peduli, tetapi ia tidak bisa menahan perasaannya. Air matanya terus mengalir, terlebih wajah Alma adalah duplikat Melani sewaktu masih kecil.
Hampir 30 menit menempuh perjalanan, kini mereka telah sampai di rumah Kanna. Di teras rumah telah ada tiga bocah yang sudah menunggu kedatangan orang tua mereka. Mata Alzam terfokus pada bocah remaja yang ia tebak itu adalah Deena, anak kandungnya.
"Apakah itu Deena?" tanya Alzam.
"Iya, itu Deena. Dia sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik, bukan?" Kanna menimpali.
Pertemuan pertama antara ayah dan anak setelah 7 tahun berlalu diwarnai rasa haru. Tak hentinya Deena menitihkan air mata saat memeluk tubuh Alzam, yang sudah tak seperti dulu. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata membuat papanya kandungan terlihat telah menua.
Bukan hanya itu saja, suasana semakin haru ketika Deena menanyakan di mana keberadaan Melani. Sungguh pertanyaan yang membuat Alzam mengorek lagi luka dalam hatinya.
__ADS_1
"Mama sudah bahagia di surga." Tiba-tiba suara Alma membuat Deena menautkan kedua alisnya.
"Apa? Apakah itu artinya mama Mela—"
"Iya, Sayang. Mama Mela sudah berada di Surga," sahut Alzam.
Deena hampir tak percaya dengan ucapan papanya yang mengatakan jika mama sambungnya telah tiada.
"Semua sudah takdir dari Tuhan, Nak," ujar Alzam.
Sulit untuk diterima, tetapi Deena harus mengikhlaskan mama sambungnya karena saat ini ia telah bahagia di surga.
"Jangan bersedih, disini ada Mama Ara yang akan menjadi Mama kamu dan Papa Kanna yang juga akan menjadi papa kamu, karena saat ini kita adalah keluarga." Tiba-tiba rasa canggung itu di pecahkan oleh celotehan Kala untuk menghibur Alma.
"Iya, Kak," ucap gadis kecil itu dengan senyum indah yang mengembang dibibir Alma, begitu juga dengan Kala.
.
.
To Be Continue
Hanya sekedar mengingatkan kembali, untuk nama yang tertulis di pengumuman kemarin, aku tunggu hingga sore nanti ya. Jika tidak ada kabar, mohon maaf dengan berat hati akan di gantikan dengan yang lainya 🙏
Hari ini aku juga mau merekomendasikan novel dari temen aku Judulnya MENJEMPUT KEMBALI HIDAYAH YANG TERHEMPAS, mampir ya
__ADS_1