Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
43 | Kekhawatiran Zahra


__ADS_3

"Dee, Uti boleh tanya gak?" tanya ibu Kanna.


Deena mendongak untuk menatap wanita yang dia panggil Uti. "Boleh. Uti mau tanya apa?"


"Kemarin kan Uti cuma beliin Deena dua boneka. Seingat Uti, Uti juga gak ada beli boneka itu, deh. Kamu dapat darimana?" tunjuk ibu Kanna pada boneka yang dipegang oleh Deena.


"Oh ini?" Deena mengelus rambut boneka Calline. "Dikasih sama kakek-kakek. Katanya hadiah untuk Deena," jawab Deena jujur.


"Kakek? Kakek siapa? Ketemu dimana?" tanya ibu Kanna dengan sejuta rasa penasarannya. Pasalnya selama dia mengajak Deena ke mall tak sedikit pun Deena lengah dari pengawasannya.


"Kakek yang sering lewat di depan rumah ini, Uti. Tapi semenjak dia kasih boneka ini, kakek itu udah gak pernah lewat lagi, Uti. Kasihan kakeknya udah tua," ujar Deena dengan kepolosannya.


Zahra yang ikut mendengarkan penjelasan Deena merasa merinding. Dia yakin jika kakek yang dimaksud oleh Deena bukanlah dari golongan manusia pada umumnya.


"Bu, jangan-jangan boneka itu dari alam gaib. Gimana ini, Bu? Apa kita cari orang pintar untuk meruqyah Deena saja?" bisik Zahra pada ibu mertuanya.


"Kamu ini ngomong apa sih, Ra. Mana ada boneka gaib di zaman sekarang? Kamu ini terlalu berlebihan."


Ibu Kanna memang merasa penasaran dengan boneka yang bernama Calline dan kakek yang disebutkan oleh Deena. Pasti ada niat dan tujuan kakek itu memberikan boneka Calline kepadanya.


"Memangnya kenapa, Uti? Kata Calline dia baik dan gak jahat kok. Kalian gak usah khawatir," sambung Deena lagi.


"Gimana gak khawatir, Dee. Kamu ngomong sama boneka terus," sela Zahra.


"Sudahlah, Ra. Wajar saja, Deena itu masih anak-anak. Dunia anak itu adalah dunia bermain. Sudahlah, berhubung kamu sudah pulang, ibu juga mau pulang."


🍂🍂🍂


Meskipun Zahra sudah berusaha untuk menepis pikirannya tentang asal-usul boneka Calline, tetap saja ucap Deena terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi masalah Alzam yang meminta pengakuan atas Deena.


"Ada apa?" tanya Kanna tiba-tiba yang mengagetkan Zahra.


"Mas Kanna."

__ADS_1


Seperti bisa Zahra akan menyambut Kanna dengan menyalami tangannya dan mengambil alih tas kerjanya.


"Kamu kenapa melamun? Ada masalah lagi sama Deena?"


Tebakan Kanna selalu saja benar. Perhatiannya pada Deena jauh lebih besar ketimbang kepada dirinya. Sepertinya Deena menjadi prioritas utama untuk Kanna.


"Kamu tahu gak Mas, ternyata boneka Calline itu pemberian kakek-kakek misterius. Aku sudah yakin jika boneka itu adalah boneka kutukan!" adu Zahra.


"Ya ampun Ara, kamu belum bisa juga menerima boneka itu? Selama boneka itu tidak membahayakan Deena tidak masalah. Kali aja itu boneka titipan untuk menjadi temannya. Kamu kan tahu sendiri selama ini Deena merasa sangat kesepian. Sudahlah, kamu gak usah menghawatirkan Deena. Aku yakin semua untuk kebaikan Deena," ujar Kanna meyakinkan Zahra.


Cinta Kanna yang terlalu besar kepada Deena membuatnya selalu mendukung apa yang dilakukan Deena selagi itu berada di jalan yang benar. Terlebih dengan penglihatan yang dimiliki oleh Deena.


"Bukan cuma itu, Mas. Tadi aku tak sengaja bertemu dengan mas Alzam," ujar Zahra dengan lesu.


Kanna terdiam dengan dada yang bergerumuh. "Lalu?" tanya Kanna.


Zahra tak sedikitpun menutupi apa yang terjadi. Dia menceritakan semuanya kepada Kanna.


"Ra, kamu jangan pernah lupa! Darah yang mengalir di tubuh Deena itu adalah darah Alzam. Seburuk dan sejahat apapun Alzam, dia adalah ayah kandung Deena. Sebesarnya cintaku pada Deena tak akan merubah kenyataan jika Alzam adalah ayah kandung Deena. Berdamailah dengan masa lalu. Alzam juga berhak atas pengakuan ayah untuk Deena."


Bukan Kanna tidak khawatir jika sewaktu-waktu Alzam akan mengambil Deena, tetapi Alzam juga berhak pengakuan ayah atas Deena.


"Aku tahu kekhawatiranmu, Ra. Tapi Alzam juga berhak mendapatkan pengakuan ayah. Dia ayah kandungnya Deena, Ra." Tangan Kanna terulur untuk memeluk tubuh Deena.


"Percayalah, Alzam tidak akan mengambil Deena dari kita. Aku akan selalu menjadi gardan terdepan untuk melindungi Deena." Tangan Kanna juga mengelus pucuk rambut Zahra.


"Makasih Mas," ujar Zahra.


🍂🍂🍂


Tidak mudah bagi Zahra untuk bisa bertahan sampai detik ini. Banyak lika-liku yang harus dia lalui. Namun, berkat Kanna dia mampu melewati semuanya.


Jika ditanya apakah Zahra mencintai Kanna, sampai saat ini Zahra tidak tahu. Rasa nyaman yang dia rasakan tak seperti yang pernah dia rasakan pada Alzam, meskipun pria itu menanamkan luka dihatinya.

__ADS_1


Getaran dalam dadanya tak sehebat seperti sedang bersama Alzam. Namun, Zahra selalu berusaha untuk menerima Kanna di hatinya. Zahra mencoba untuk mencintai Kanna seperti Kanna mencintainya. Semua butuh proses. Tidak mudah untuk menerima kehadiran orang lain saat hatinya masih terluka.


Memiliki keluarga kecil yang bahagia adalah impian setiap pasangan suami-istri. Terlebih kehadiran malaikat kecil sebagai pelengkapnya. Meskipun dalam 4 tahun Kanna belum bisa menghadirkan sosok malaikat kecil ditengah-tengah keluarga kecilnya, Kanna mencoba untuk lapang. Dia sadar dengan siapa dia menikah.


Awalnya Kanna hanya merasa iba akan nasib yang sedang menimpa Zahra. Namun, seiring berjalannya waktu, Kanna merasa nyaman dan ingin selalu menjadi penyangga untuk Zahra. Berkat dukungan dan dorongan dari ibunya akhirnya Kanna memutuskan untuk menikahi Kanna, meskipun sampai saat ini pernikahan mereka belum diakui oleh sipil.


Terlebih kehadiran Deena membuat kedua orang tuanya bersemangat lagi ketika semua harapnya dipatahkan oleh kedua kakaknya. Tak heran jika ibunya sangat menyayangi Deena sepenuh hatinya.


"Kita harus melakukan sesuatu, Mas! Aku tidak mau apa yang seharusnya menjadi milik kita jatuh ke tangan anak haram itu."


"Kamu kira aku juga akan setuju begitu saja? Tidak Shen! Sampai matipun aku tidak ridho!"


Dua orang yang sudah mendengar jika Kanna telah membawa istrinya pulang merasa sangat tidak senang, terlebih kepada anak istrinya. Anak kecil yang akan menggeser posisi mereka berdua.


"Jadi apa rencana mu, Mas?" tanya Shena.


"Belum aku pikirkan, Shen. Kamu tahu sendiri kan kalau Maya itu tidak bisa mempunyai anak. Bagaimana jika kamu saja yang hamil," ujar Dayat.


Wanita yang bernama Shena dan tak lain adalah kakak kandungnya Kanna langsung melotot pada pria yang di panggil Mas.


"Enak aja! Aku belum mau punya anak, Mas! Karir aku sedang diatas. Jika aku hamil dan melahirkan otomatis aku akan cuti dari dunia model. Aku sudah susah payah merintis dari nol, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Hamil dan melahirkan hanya bisa merusak karir aku, Mas! Lagian kenapa juga kamu masih bertahan dengan wanita mandul seperti mbak Maya, sih? Heran aku! Coba cari yang lain biar biasa punya anak!" ketus Shena kepada Dayat, sang kakak.


Dayat hanya bisa melihat sang adik dengan acuh. Dia tidak menyangka jika karir akan membuat adiknya kehilangan akal sehat dan menolak untuk hamil. Sedangkan dia dan sang istri sedang berjuang untuk bisa mendapatkan anak.


"Terserah kamu saja, Shen! Tapi jangan menyesal jika apa yang sebenarnya menjadi milik kita dilimpahkan kepada orang lain," ujar Dayat yang kemudian meninggalkan Shena.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2