
"Sampai kapan kamu akan terus bersembunyi seperti ini?" tanya dokter Mada kepada Alzam. Dokter sekaligus sahabatnya itu baru memeriksa keadaan Alzam.
Ternyata operasi yang dilakukan oleh Alzam berjalan dengan lancar, dan kini ia masih bisa bernapas untuk menghirup udara segar, tetapi ia belum berani untuk menunjukkan diri di hadapan Melani. Namun, bukan ia tak peduli. Diam-diam Alzam memantau keadaan Melani dari jarak jauh. Tanpa pengetahuan dari siapapun, Alzam telah mengirimkan seorang mata-mata untuk memantau lebih dekat. Beruntung saja kemarin Alzam datang tepat pada waktunya. Semua itu hanya sebuah kebetulan karena Alzam memang tinggal di apartemen yang sama dengan nilai. saat ia hendak keluar, tak sengaja ia mendengar Naura sedang menelepon Arya dan mengatakan jika Melani sedang sakit.
Dengan cepat Alzam segera mengecek sebuah CCTV yang dipasang secara diam-diam di kamar Melani. Ternyata saat itu Melani sedang merintih kesakitan.
Meskipun dengan keadaan yang masih kurang stabil, Alzam nekat mengangkat tubuh Melani untuk keluar dari kamarnya dan membawanya ke rumah sakit.
"Lihatlah apakah kamu tidak merasa kasihan kepadanya? dia benar-benar tulus mencintaimu, Zam. Cobalah buka sedikit hatimu untuknya! Berikan kebahagiaan kecil disisa akhir hidupmu. Aku percaya mereka tidak akan larut dalam kesedihan saat dirimu telah pergi nanti, karena kamu telah meninggalkan sebuah kenangan yang manis. Mereka hanya akan menangis ketika tidak mengetahui fakta yang sebenarnya. Bahkan itu akan berdampak buruk, Zam. Please, jadilah pria yang sejati agar kamu tak menyesal!" Panjang lebar dokter Mada memberi pencerahan kepada Alzam, berharap sahabatnya itu mengakui perasaannya kepada Melani.
"Tapi aku belum siap."
"Sampai kapanpun kamu tidak akan merasa siap jika kamu tidak bisa membuka hatimu dan mengakui perasaanmu. Aku harap masa lalu memberikan pelajaran untukmu. Jangan sampai kamu menyesal untuk ketiga kalinya."
Alzam menunduk sambil melihat rekaman di dalam ponsel yang memperlihatkan jika saat ini keadaan Melani sedang menangis di atas tempat tidur.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Alzam dengan bibir yang bergetar.
"Cih, percuma punya istri banyak sih tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saran aku kamu temui Melani dan meminta maaf padanya. Ungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya dan aja dia pulang setelah itu baru kalian cetak generasi baru agar hubungan rumah tangga kalian tidak terasa hambar!" saran dokter Mada.
Alzam terdiam untuk merenung. Ia memikirkan cara bagaimana untuk menemui Melani secara terang-terangan setelah dua bulan ya pergi tanpa kabar. Mungkin memang benar pencerahan dari dokter Mada, ia harus menjadi pria sejati dengan mengutarakan perasaannya pada Melani secepatnya, jika ia tidak ingin menyesal. Terlebih saat ini ada sosok Arya di samping Melani.
"Baiklah aku terima pencerahan mu. Aku akan menemuinya sekarang," kata Alzam dengan tekad yang bulat.
🥕🥕🥕
Saat ini tangan Alzam bergemetar hanya untuk mengetuk pintu kamar Melani, meskipun ia tahu passwordnya.
TOKK ... TOKk ....
Dua ketukan pintu membuat dada Alzam berkerumuh dengan kuat. Bahkan hal seperti ini belum pernah ia alami sebelumnya. Ia memunggungi pintu untuk menetralkan detak jantungnya. Tak lama pintu terbuka dan terdengar suara Melani sedang menyapanya.
__ADS_1
"Maaf, ada apa ya?" tanya Melani.
Dada Alzam kian berdebar lebih kencang. Tetapi ia harus memberikan diri untuk menatap Melani secara langsung.
"Maaf Anda siapa ya?" tanya Melani lagi.
Saat itu juga Alzam memutar tubuhnya untuk menunjukkan kepada Melani setelah dua bulan menghilang tanpa kabar.
Saat mata Melani telah menangkap wajah seseorang di depannya, ia langsung menangkup bibirnya dengan kedua tangan. Bahkan ia kesulitan untuk menelan salivanya. Dadanya sesak dan naik turun, berharap ini bukan halusinasinya saja.
"Pak Alzam," liriknya pelan.
Dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya, Alzam mencoba untuk menyapa Melani. Sebenarnya dia sangat gugup. Untuk kali pertama tubuhnya bergetar hanya untuk mengutarakan perasaannya.
"Bisakah aku masuk ke dalam?" tanya Alzam ragu.
Melani mengangguk pelan. "Silakan!" katanya.
Sesampainya di dalam, Alzam segera dipersilahkan untuk duduk. Keadaan begitu canggung, membuat Melani hanya bisa menggigit bibirnya saja. Bahkan keadaan hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya Alzam memutuskan untuk membuka pembicaraan.
"Aku baik-baik saja, Pak. Bagaimana dengan kabar Pak alasan sendiri?" Melani pun melemparkan pertanyaan kepada Azzam.
"Maaf jika aku tak pernah memberikanmu kabar. Keadaanku baik-baik saja," ucap Alzam sedikit gugup.
Entah ke mana semua keberanian yang dimiliki oleh Alzam. Semua itu hilang begitu saja. Otaknya menjadi blank ketika ia menatap wajah Melani yang sedikit sayu. Mungkin karena kesehatannya belum sembuh total.
"Oh iya aku sampai lupa Pak Alzam mau minum apa biar aku buatkan?" tawar Melani untuk menghilangkan rasa canggung mereka.
"Nggak usah Mel! Kedatanganku ke sini hanya untuk—" Alzam menjeda ucapannya karena bibirnya sangat berat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Melani sudah bersiap untuk mendengarkan kata selanjutnya dari bibir Alzam.
__ADS_1
Dengan perlahan azan mengambil nafasnya dalam dan mengeluarkan dengan kasar. Berharap ia bisa lancar untuk mengutarakan perasaannya.
Tiba-tiba Alzam mendekat ke arah Melani, lalu ia berlutut di depannya. Melani tidak mengerti dengan sikap Alzam yang tiba-tiba bersimpuh di pangkuannya.
"Pak Alzam, apa yang bapak lakukan? Jangan seperti ini, Pak." kata Melani yang berusaha untuk mengangkat tubuh Alzam. Namun, pria dingin itu menolaknya untuk bangkit.
"Mel, aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan kepadamu selama ini. Aku sadar sikapku selama ini telah menyakiti hatimu. Maka hari ini izinkan aku untuk meminta maaf," kata Alzam dengan membuang nafas beratnya.
"Tanpa Pak Alzam meminta maaf kepadaku, aku sudah memaafkannya. Jadi sekarang bangkitlah!" pinta Melani yang merasa tidak enak dengan sikap Alzam.
"Mel, maukah kamu kembali pulang ke rumah dan memulai pernikahan kita dari nol?"
Melani terbelalak dengan permintaan Alzam. Tanpa angin dan hujan tiba-tiba Azam datang dan memintanya untuk memulai pernikahan dari nol. Apakah itu artinya jika Alzam ingin mempertahankan nasib pernikahan mereka?
"Maksud Pak Alzam?" Melani mengernyit berharap ia tidak salah mengartikan ucapan pria dingin itu.
"Mel, aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku untuk membuatmu bahagia, karena aku sadar jika aku telah jatuh cinta padamu. Selama ini aku berusaha untuk menepis perasaanku, tetapi seiring berjalannya waktu aku tidak bisa menghapus bayanganmu, Meskipun aku telah menjauh darimu. Bahkan rasa itu malah kian berkembang di hatiku. maukah kamu memaafkan kebodohanku dan menerima perasaanku?" tanya Alzam dengan kesungguhan.
Melani benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar langsung dari bibir Alzam. Tak dipungkiri olehnya, hatinya mereka tersentuh dengan pengakuan Alzam. meskipun pria itu telah menggoreskan luka di hatinya, tetapi Melani tidak bisa menolak perasaan Alzam padanya, karena ia pun juga masih menyimpan perasaan untuk Alzam.
Dengan senyum yang mengembang di bibir Melani mengganggu pelan. Bagaimana dirinya bisa menolak jika doa yang ia panjatkan telah didengar oleh Tuhan? Tak terasa air matanya pun jatuh begitu saja. Namun, kali ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia.
"Iya, aku mau," ucapnya.
.
.
.
Selamat akhirnya Alzam menjadi pria sejati. semoga kelak menjadi keluarga yang bahagia 🥰 Mon maap belum sempat diedit ya.
__ADS_1
Selagi menunggu bab selanjutnya mampir dulu yuk ke novel teman aku, dijamin suruh ceritanya. CEO AND THE TWINS karya kak Ingflora, mampir ya