
BRRAAKK!
Kanna mendobrak sebuah pintu. Tanpa mengucapkan salam dia langsung berteriak memanggil nama Dayat. Isi kepala Kanna rasanya sudah mendidih. Jika sampai benar Dayat juga terseret dalam hilangnya Deena, Kanna tidak akan pernah untuk memaafkan Dayat, meskipun dia adalah kakaknya sendiri.
"Ternyata kalian disini!"
Dayat dan juga Shena sangat terkejut dengan kedatangan Kanna yang secara tiba-tiba. Beruntung saja istri Dayat sedang bekerja.
"Kamu ngapain ke sini?" Shena bertanya sambil menatap Kanna dengan tajam.
Kanna berdecih dengan sambutan Kakak perempuannya. "Apakah aku tidak boleh mengunjungi rumah kalian? bahkan kalian saja boleh mengunjungi rumahku," cibirnya.
"Tapi yang sopan! Ada apa?" timpal Dayat.
Kanna yang tidak mau terbelit-belit, segera langsung kepada intinya. Kanna menatap kedua kakaknya secara bergantian. Matanya terlihat sangat tajam dan menusuk.
"Katakan dimana Alzam membawa Deena pergi!"
Dayat dan Shena saling melempar pandangan. Entah darimana sumbernya sehingga Kanna langsung melayangkan tuduhan kepada mereka.
"Kamu ngomong apa sih, Kan?" tanya Shena dengan gugup.
__ADS_1
"Gak usah mengelak lagi! Aku sudah tahu semuanya. Kalian juga dalang dibalik hilangnya Deena, 'kan? Jika kalian tidak mau mengaku, aku akan membawa masalah ini kepada pihak yang berwajib!" ancam Kanna.
Dayat merasa sangat gugup dengan ancaman Kanna. Namun, sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu jangan sembarangan menuduh, Kan! Kamu sudah sangat keterlaluan menuduh kakakmu sendiri adalah dalang di balik hilangnya anak haram itu!"
Mata Kanna membulat lebar saat Dayat menyebut Deena anak haram.
"Jaga mulut mas Dayat! Deena bukan anak haram! Dia lahir dari hubungan yang sah. Dia punya ayah!" bentak Kanna.
Dayat hanya tersenyum tipis menatap adiknya yang bodoh. Demi rasa iba dia mau menikahi wanita yang masih bersuami. Bukankah itu sama saja Kanna adalah seorang pembinor? Bahkan keduanya hanya menikah sebatas hitam diatas putih yang belum di sahkan oleh negara.
"Kanna ... Kanna. Kamu memang seorang dosen tetapi kamu itu sangat bodoh! Jangan lupa jika kamu sudah merebut istri orang, aku harap tak ada yang tahu jika kamu itu seorang pembinor!" cibir Dayat yang berusaha untuk memancing emosi Kanna.
"Dan kamu juga Kanna ... kamu jangan asal nuduh! Kami tidak tahu apa-apa tentang hilangnya Deena. Kamu pikir kami ini punya banyak waktu untuk mengurusi hal semacam itu," tambahnya lagi.
Sedikitpun Kanna tidak percaya akan ucapan Shena yang dia akui adalah ratu drama.
"Aku tidak peduli! Semua itu karena perilaku kalian sendiri! Cepat katakan dimana Deena sekarang!" tekan Kanna.
"Tapi kita gak tahu apa-apa, Kan!" bentak Shena.
__ADS_1
Feeling Kanna yang sangat kuat membuatnya tetep kukuh akan tuduhannya kepada kedua kakaknya.
Sudah tiga bulan Zahra tersiksa karena kehilangan Deena. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk melihat kesedihan istrinya.
"Oke, jika kalian tidak akan mengaku. Jangan salahkan aku jika aku akan menggunakan ibu untuk membuat kalian berterus!" ancam Kana lagi. Hanya sang ibu yang membuat kedua kakaknya tunduk, karena sang ibu mempunyai senjata ampuh untuk melumpuhkan mereka.
"Tidak ada yang mau berterus terang?" tanya Kanna dengan senyum tipis.
Karena kedua kakaknya tidak mau memberikan keterangan, akhirnya karena memilih untuk meninggalkan rumah kakaknya.
Saat langkah Kanna hampir saja berada di ambang pintu, dengan cepat Dayat berlari untuk menahan Kanna.
"Tunggu! Kita bisa bicara baik-baik!"
"Kanna, kita ini saudara. Apakah kamu tega melihat kami menjadi gelandangan?" timpal Shena yang juga menahan salah satu lengan Kanna. "Kita bicara baik-baik ya," bujuk Shena.
Akhirnya umpan yang diberikan oleh Kanna membuahkan hasil. Sebenarnya karena hanya mengancam saja. Namun siapa yang menyangka jika kedua kakaknya segera menyerahkan diri.
Kanna tidak habis pikir jika kedua kakaknya memiliki pikiran yang kotor, dengan menyimpankan Deena dari keluarganya. Bahkan mereka sampai rela menggunakan Alzam sebagai alat untuk menyingkirkan Deena.
"Kalian sudah sangat keterlaluan! Deena itu anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Yang dia butuhkan bukan harta, tetapi hanya kasih sayang dari kedua orang tuanya. Harta memang membuat mata dan hati kalian gelap. Aku tidak mau tahu, kembalikan Deena kepada ibunya!"
__ADS_1
Dayat dan Shena hanya bisa saling melempar pandangan. Mereka tidak akan mungkin bisa mengembalikan Deena karena saat ini Alzam telah membawa keluar negeri dan besar kemungkinan tidak akan pernah kembali lagi.