Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
81 | Menghilang


__ADS_3

Zahra tidak percaya jika kedua kakak iparnya tega untuk melakui bocah yang tidak bersalah. Bahkan Zahra juga tidak habis pikir mengapa keduanya sampai tega untuk mencelakai ayah kandungnya sendiri.


Sudah tiga hari Zahra tidak masuk kuliah lagi. Sepertinya keputusan melanjutkan kuliah di saat dia telah memiliki seorang anak tidaklah tepat. kini Zahra mengambil keputusan terberatnya. Dia memilih mundur tak ingin melanjutkan kuliah lagi demi untuk menjaga Deena. Penculikan Deena saat itu mengisahkan sebuah trauma dalam hati Zahra. Dia tidak ingin terjadi sesuatu lagi kepada Deena.


"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Kanna.


"Iya, Mas. Aku sudah yakin," ujar Zahra dengan mantap.


"Baiklah. Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu."


"Makasih, Mas."


Saat ini keadaan Deena juga sudah mulai membaik. Bocah itu juga sudah ceria lagi seperti biasanya. Namun, Zahra belum mengizinkan Deena untuk kembali ke playgrou. Dia menginginkan Deena benar-benar sembuh dulu baru mulai kembali belajar dan bermain disana.


"Kalau Deena bosan, nanti sore setelah Papa pulang, kita jalan-jalan ke taman, gimana?" tawar Kanna setelah menyelesaikan sarapannya.


Deena hanya mengangguk sebagai tanda setuju. "Iya, Pa."


"Ya udah, Papa berangkat dulu ya."


Setelah kepergian Kanna, cara mengajak Deena ke kamarnya. Saat ini Zahra hanya ingin menjadi teman yang baik untuk anaknya. Mungkin selama ini dia sudah egois dengan tidak memikirkan bagaimana perasaan Deena.


"Dee, Calline itu bisa menerawang masa depan ya?" tanya Zahra tiba-tiba.


Deena yang baru saja naik ke ranjang tempat tidur langsung menoleh kearah mamanya.


"Kenapa, Ma?"


"Mau tahu aja, biar mama bisa lebih berhati-hati," ucap Zahra.


Sebelum menjawab pertanyaan mamanya, Deena terdiam untuk beberapa saat. Seolah dia sedang berbicara dengan Calline. Zahra hanya bisa melihat wajah serius Deena saat melihat memperhatikan bonekanya.


"Ma, Calline itu bukan paranormal ataupun hantu. Dia sama seperti kita, manusia. Akan tetapi, karena sebuah kecelakaan dia harus keluar dari raganya," Deena membuang napas untuk menjadi ucapannya.


"Kalau udah keluar dari raganya berarti udah mati dong, Dee," kata Zahra yang sebenarnya merasa penasaran.


"Tapi raga yang sesungguhnya belum mati, Ma. Ada seseorang yang menyembunyikan raga itu dan berharap Calline bangun. Namun, Calline tak bisa menemukan raganya disini," jelas Deena lagi.


"Terus boneka itu kok bisa sampai ke tangan kamu? Siapa yang ngasih?" tanya Zahra lagi.

__ADS_1


"Yang ngasih itu kakek-kakek tua yang sering lewat depan rumah. Katanya dia merasa kasihan karena Deena tidak memiliki teman dan langsung memberikan bonekanya kepada dia. Setelah itu kakekk itu tak pernah terlihat lagi."


Zahra masih belum bisa memecahkan teka-teki siapa Calline sebenarnya. Namun, Zahra yakin jika semua ini bukanlah sebuah kebetulan. Zahra yakin jika Deena sengaja ditunjuk untuk membantu mencari keberadaan raga Calline berada.


"Baiklah, tapi Mama percaya sama kamu. Tapi jika Calline mengajarkan hal yang tidak baik, jangan kamu ikuti!" pesan Zahra.


"Mama tenang aja karena Calline itu tidak jahat. Sekarang gantian Deena yang ingin bertanya kepada Mama."


Zahra tak keberatan saat Deena mengatakan ingin bertanya kepada dirinya. mungkin dengan cara seperti ini Deena tidak merasa kesepian, karena ada tempatnya untuk saling bertukar cerita.


"Bertanyalah, dengan senang hati Mama akan menjawabnya," kata Zahra.


Zahra berusaha untuk mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir anaknya. Pertanyaan yang sangat menyayat hatinya, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Zahra hanya bisa membuang napas beratnya saat Deena menanyakan bagaimana kabar Alzam. Bagaimanapun Alzam ada ayah kandung Deena, meskipun dia sudah melakukan sebuah kesalahan yang sulit untuk di maafkan.


"Mama kenapa diam?" tanya Deena yang menunggu jawaban dari sang mama.


Dengan bibir yang memaksakan senyumnya, Deena bertanya, "Apakah Deena mengkhawatirkan papa Alzam?"


Kepala kecil itu memberikan anggukan. "Iya, Ma. Deena kasihan, bagaimana jika papa Alzam meninggal seperti kakek? Deena belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Deena juga belum memberitahu kepada papa Alzam jika Deena juga menyayanginya, Ma."


"Sayang, bagaimana kalau Deena bilang sama papa Kanna untuk menghubungi temannya yang sedang menunggu papa Alzam, dengan begitu Deena Deena bisa tahu bagaimana kondisi papa Alzam," saran Zahra.


Terlihat raut wajah kecewa, tetapi Zahra harus apa? Selain tidak memiliki nomor orang-orang suruhan Kanna, Zahra juga tidak berani mengambil keputusan tanpa seizin dari Kanna. Zahra tidak mau menimbulkan salah paham lagi.


Jangan bersedih ya, Sayang. Doakan yang terbaik untuk papa Alzam," kata Zahra dengan meraih tubuh Deena untuk masuk kedalam pelukannya.


"Iya, Ma. Deena juga selalu berdoa agar papa Alzam bisa segera sembuh."


🍂🍂🍂


Sesuai dengan janji Kanna, sore ini dia mengajak Deena jalan-jalan ke taman. Kanna juga sudah mendapatkan aduan dari Zahra jika Deena sempat menanyakan bagaimana keadaan Alzam.


Taman yang selalu ramai dengan pengunjung. Tak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri untuk menghabiskan sorenya bersama keluarga maupun pasangannya masing-masing.


Kanna memilih sebuah bangunan panjang untuk tempatnya duduk. "Kayaknya beli ice cream enak deh," celetuk Kanna.


"Mas Kanna mau ice cream?" tanya Zahra mengernyit.

__ADS_1


"Kamu mau gak Dee?" Kanna malah melemparkan pertanyaan itu kepada Deena. Jangan ditanya, karena pasti jawab iya akan diucapkan oleh Deena.


Deena mengangguk dan menjawab, "Iya, mau."


Setelah mendapatkan jawaban dari Deena, Kanna akhirnya memanggil seorang penjual es krim keliling.


Sambil menunggu Deena dan Zahra menikmati es krimnya, Kanna memilih untuk menghubungi seseorang di layar ponselnya. Setelah panggilan itu tersambung, Kanna terdiam untuk beberapa saat. Bisa dipastikan jika saat ini dirinya sedang terkejut. Hanya dalam hitungan detik, Kanna segera mematikan ponselnya lagi.


"Ada apa, Mas?" tanya Zahra penasaran.


"Sesuatu telah terjadi di sana. Pria itu menghilang," ujar Kanna.


"Apa?!" Zahra terkejut.


Keduanya hanya bisa saling menatap, entah apa yang akan mereka jelaskan kepada Deena jika saat ini Alzam tidak ada di rumah sakit.


"Apakah mereka tidak mencarinya, Mas?" tanya Zahra yang mulia panik.


"Mereka sudah mencari, tetapi mereka tidak menemukan keberadaannya. Mungkin ada seseorang yang sudah membantu pria itu kabur. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaannya 'kan? dia tidak akan bisa pergi tanpa bantuan seseorang."


Tiba-tiba Zahra teringat kepada wanita tua yang dia panggil nenek Rose, yang tak lain adalah neneknya Alzam.


"Sepertinya memang begitu." Zahra membenarkan ucapan Kanna.


Deena hanya terdiam ketika kedua orang tuanya sedang membahas sesuatu yang tidak dia mengerti. Namun, sedikit demi sedikit dia mencerna apa yang dia dengar. Dari kata yang terucap dari bibir Kanna, Deena tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Mereka sedang membicarakan ayahnya.


"Apa yang sudah terjadi kepada papa Alzam?" tanya Deena secara tiba-tiba.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2