Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
54 | Saran Dokter


__ADS_3

...Jika aku tak bisa menyentuhmu, maka hadirlah dalam mimpiku. Aku sangat merindukanmu, Nak....


Zahra tidak menyangka jika Alzam benar-benar tega mengambil paksa Deena darinya. Ketakutannya selama ini akhirnya menjadi kenyataan.


"Ra, maafkan aku tidak bisa menjadi pelindung untuk Deena," sesal Kanna yang telah bersimpuh dipangkuan Zahra.


"Mas, kamu jangan menanyakan diri sendiri. Aku memang sangat berharap jika Deena bisa kembali pulang. Akan tetapi, jika mas Alzam yang telah membawanya pergi, sulit bagiku untuk mendapatkan Deena lagi. Mas Alzam itu licik. Dia akan menggunakan cara untuk meyakinkan orang lain. Sekarang bangunlah!" Tangan Zahra mencoba untuk mengangkat tubuh Kanna. Namun, percuma saja karena tenaga yang dimiliki Zahra tak seberapa.


"Maafkan aku yang telah memaksa kalian untuk kembali kesini. Andaikan kalian masih di Villa, Kejadian ini tak akan pernah terjadi. Deena masih akan tetap bersama dengan kita."


Kini tak ada lagi yang perlu disesali. Bukan ingin tega, tetapi saat Zahra sudah mengetahui jika Deena sedang bersama dengan Alzam, hatinya sedikit lega. Setidaknya Deena akan baik-baik saja ditangan Alzam. Tidak mungkin Alzam akan berbuat kasar kepada bibit premiumnya.


****


Meskipun sibuk, Kanna berusaha untuk meluangkan waktunya untuk Zahra. Siang dia membawa Zahra untuk cek up ke rumah sakit. Sesuai dengan saran dari dokter, Zahra harus rutin melakukan kontrol agar dokter bisa melihat bagaimana perkembangan janin Zahra.


"Mas aku takut jika tidak bisa mempertahankan calon anak kita." Zahra mengelus perutnya yang masih rata.


"Kamu jangan pesimis seperti itu! Semua akan baik-baik saja," hibur Kanna. "Kamu jangan takut, ada yang akan selalu bersamamu," lanjutnya lagi.


Zahra sangat bersyukur Selama ini Kanna selalu ada untuk dirinya, baik suka maupun duka. Mungkin Kanna diciptakan untuk membalut luka dan kesedihannya.


"Makasih ya, Mas. Kamu selalu ada untukku," ucap Zahra.


"Apakah hanya kata terimakasih saja?" tanya Kanna dengan alis yang menaut.


"Lalu aku harus apa?"


Kanna menarik pinggang Zahra agar menempel pada tubuhnya. "Aku ingin kamu mendengar kata cinta dari kamu. Selama ini aku belum pernah mendengar kata itu dari bibirmu yang seksi ini," goda Kanna dengan tangan yang sudah membelai bibir Zahra.


Zahra terbelalak dengan jantung yang berdebar. Bahkan untuk menelannya terasa susah.


"Mas, ini di rumah sakit. Malu kalau ada yang liat."

__ADS_1


"Memangnya aku mau apa? Aku Hanya ingin mendengar kata cinta saja. Kalau mau minta yang lain nanti di rumah," kata sambil mengeringkan satu matanya.


"Ihh ... apaan sih, Mas." Zahra mendorong tubuh Kanna. Semakin lama dalam posisi seperti itu membuat jantungnya tak beraturan.


Sudah lama Kanna tak melihat senyum dibibir Zahra, terlebih saat hilangnya Deena. Namun, kini dia bisa melihat kembali senyum yang dia rindukan.


"Jadi kamu gak cinta sama aku?"


"Apakah cinta hanya cukup diungkapkan dengan kata-kata? Tidak 'kan? Meskipun aku tidak pernah mengatakan kata cinta dari bibirku, tapi aku sangat mencintaimu, Mas."


Kanna kembali menarik pinggang Zahra, lalu mendaratkan sebuah ke.cu.pan di kepala Zahra. Cintanya pada wanita biasa itu telah mendalam, hingga apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Zahra.


Siapa yang menyangka jika ada sepasang mata yang sedang menyontek keduanya. Giginya menggeretak kuat dengan kepalan tangan yang sudah mengeras.


"Bersenang-senanglah lebih dahulu. Setelah itu air mata kalian akan mengering lagi."


Setelah bayangan Kanna dan Zahra tak terlihat lagi, seseorang yang sedari tadi mengintainya pun pergi begitu saja.


Zahra kembali menitikan air matanya saat sebuah gambar di layar monitor menunjukkan bentuk janinnya. Rasa haru, bahagia juga rasa sedihnya bercampur jadi satu.


Zahra yang baru saja selesai diperiksa langsung membulatkan matanya mengarah kepada Kanna. Sungguh mulut Kanna tidak bisa di perut manis sedikit, terlebih seorang dokter yang menangani Zahra adalah seorang laki-laki.


Sang dokter hanya tersenyum ke arah Kanna dan mengajak Kanna untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


"Sebenarnya masih aman. Namun, berhubung usia kandungan istri anda masih rentan, saya sarankan anda hanya boleh melakukan satu kali dalam seminggu."


"Apa?! Satu kali dalam satu minggu? Kenapa tidak sekalian satu kali sebulan?" Kanna mendengus kesal mendengar saran dari sang Dokter. Dia saja baru tiga bulan terakhir baru bisa menyentuh istrinya, dan kini dibatasi satu kali dalam satu minggu.


"Mas! Apa-apaan sih? Jangan bikin malu!" bisik Zahra dengan kesal.


"Memang agak berat, Pak. Tapi semua ini juga demi calon buah hati anda. Namun, jika semuanya terserah kepada anda. Saya hanya memberi saran saja."


Akhirnya Kanna mengiyakan saja saran yang telah diberikan kepadanya. "Jangankan hanya satu minggu, 4 tahun saja saya sanggup kok, Dok."

__ADS_1


Lagi-lagi Zahra harus menahan rasa malunya karena bibir karena yang sangat licin. Karena pemeriksaan juga sudah selesai, Zahra langsung berpamitan kepada sang dokter untuk pulang.


Zahra yang merasa kesal dengan Kanna memilih untuk mendiamkannya. Bahkan sepanjang perjalanan pulang Zahra membisu, mengabaikan Kanna yang terus berceloteh.


Merasa ada yang janggal dengan sikap sang istri, Kanna hanya bisa membuang napas.


"Ada apa? Apakah ada yang salah?" tanya Kanna tanpa rasa bersalah.


Zahra acuh. Dia memilih untuk membuang muka ke samping.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Kanna lagi. "Kalau gak mau jawab, kita gak pulang. Biarin aja kita muter-muter di jalanan ngabisin BBM," ujar Kanna dengan santai.


Karena Zahra tak mau bersuara, akhirnya Kanna putar balik lagi meskipun sudah hampir sampai ke rumahnya.


"Lho ... Mas! Mau kemana lagi kita?" tanya Zahra bingung.


"Mau ngabisin BBM," celoteh Kanna.


Zahra tak habis pikir dengan pemikiran suaminya. Karena Zahra tidak setuju dengan keinginan Kanna, akhirnya dia mencoba untuk melupakan rasa kesalnya.


"Oke. Kamu mau tahu 'kan ada apa denganku? Baiklah akan aku katakan. Aku tuh malu Mas sama bibir licin kamu didepan dokter tadi yang bahas gituan."


"Gituan gimana? Aku 'kan cuma nanya biar tahu, Ra. Nanti kalau aku pompa tiap malam, terus salah dan berakibat fatal sama calon anak kita gimana? Salah aku dimana sehingga kamu malu, Ra?"


Zahra hanya memijat pelipisnya yang kembali berdenyut. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual dan menyuruh karena untuk memberhentikan mobilnya.


Zahra segera turun dari mobil dan berusaha untuk mengeluarkan rasa mual dari dalam perutnya. Namun, sayangnya tak ada yang keluar.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Kanna dengan panik.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya dan terus untuk mengeluarkan isi perutnya.


Melihat Zahra yang semakin pucat, Kanna merasa kasihan.

__ADS_1


Sebuah air mineral disodorkan untuk Zahra. "Minum dulu!"


__ADS_2