Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
96 | Deena Pulang


__ADS_3

Baru kali ini Zahra dan ibunya Kanna merasa kewalahan untuk menenangkan Kala saat menangis. Bocah yang hampir berumur 1 tahun itu terus meronta dan semuanya serba salah. Kedua wanita yang bergelar sebagai ibu itu tidak tahu apa yang diinginkan oleh Kala.


"Ra, coba gendong dulu!" perintah ibu Kanna.


Dengan patuh Zahra segera menggendong Kala. Meskipun sedikit kewalahan, tetapi Zahra berhasil untuk menggendong bocah itu. Semakin lama tangisan Kala itu semakin kencang membuat Zahra semakin panik.


"Bu, ada apa dengan Kala?" Zahra tidak tahu bagaimana caranya untuk mendiamkan anaknya. Ini adalah kali pertama Kala mengamuk.


"Duh ... Ibu juga gak tahu, Ra. Mungkin karena mau tumbuh giginya itu," celetuk ibu mertuanya.


Gigi Kala memang sudah hampir tumbuh. Mungkin itu sebabnya dia terus merengek sepanjang hari. Zahra pun tak hentinya untuk menenangkan anaknya.


Baru saja Zahra hendak membawa Kala keluar, tiba-tiba Zahra diterkejutkan oleh seseorang yang sudah berada di depan pintunya. Dengan mata yang terbelalak, cara menggeleng pelan. Bahkan dia tidak yakin jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Deena, putri sulungnya.


"Mama," ucap Deena dengan senyum lebar di bibirnya.


Mata Zahra sudah berkaca-kaca. Dia hendak menangis karena merasa sangat terharu. Namun, karena Kala rewel sedang rewel, Zahra segera mengusap air matanya yang sudah jatuh. Sungguh Zahra tidak bisa membendung rasa harumnya.


"Deena, kamu pulang, Sayang?" Zahra hanya bisa mengelus wajah Deena. Dengan posisi menggendong Kala dia tidak bisa untuk memeluk Zahra.


Dalam kurun waktu satu tahun Zahra tak melihat Deena secara langsung, ternyata sang anak kini sudah tumbuh besar dan tinggi. Bahkan wajah sudah tidak cuby lagi.


Melihat Zahra yang sedang menggendong anak bungsunya, tiba-tiba Alzam yang berada di belakang Deena maju. Sebelum menawarkan diri untuk menggendong Kala, terlebih dahulu Alzam berbasa-basi untuk menanyakan bagaimana kabar Zahra. Biar bagaimanapun, Zahra adalah ibunya Deena.


"Maafkan jika beberapa bulan terakhir kami tak menghubungi kalian. sebenarnya kami ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun Kala. Namun, karena Deena sudah tidak betah akhirnya kami mempercepat kepulangan kami," jelas Alzam pada Zahra.


mendengar penjelasan dari Alzam, Zahra merasa sangat segar. Akhirnya apa yang dia khawatirkan tidak terjadi. Kali ini Zahra semakin yakin jika Alzam sudah insaf.


"Iya, gak papa."


"Kala kenapa?" tanya Alzam.


"Gak tahu, Mas. Mungkin karena giginya mau tumbuh makanya dia rewel."

__ADS_1


Akhirnya Alzam menawarkan diri untuk menggendong Kala. Semua hidupnya dia belum pernah menggendong seorang bayi. Harapannya dulu dipatahkan dengan Zahra yang pergi meninggalkan dirinya.


"Kamu yakin bisa gendong bayi, Mas?" tanya Zahra aku.


"Coba dulu aja."


Akhirnya Zarah menyerahkan Kala kepada Alzam. Yang membuat Zahra menautkan alisnya adalah saat Kala langsung tertawa saat berada dalam gendongan Alzam.


"Dedek Kala tertawa," ujar Deena.


Zahra tak sanggup lagi untuk tidak memeluk tubuh Deena yang ada depannya. Pelukan yang sangat dirindukan selama setahun terakhir akhirnya bisa dia rasakan. Dengan erat, Zahra memeluk tubuh Zahra untuk melampiaskan rasa rindunya.


"Dee, Mama sangat merindukan mu, Nak."


"Deena juga, Ma."


Suara tawa baby Kala membuat ibu Kanna merasa penasaran dan memilih untuk mengecek keluar. Karena baru saja Kala menangis dan meronta, tetapi saat ini tawa pekerja itu sudah kembali terdengar.


"Apakah Kanna sudah pulang?" batinnya.


Zahra yang sedang memeluk Deena dan juga Kala berada dalam gendongan Alzam.


"Apakah ini mimpi," kata ibu Kanna.


Mendengar suara Ibu mertuanya, Zahra segera melepaskan pelukannya. Dia mau sok kembali jika air matanya. Senyum di bibir pun juga terukir saat dia melihat kearah mertuanya.


"Bu, Deena pulang. Ini bukan mimpi," ujar Deena.


"Uti." Kini Deen berlari untuk menghampiri Uti-nya. Selama satu tahun sang Uti tak melihat langsung, dia merasa terkejut ketika Deena telah bertambah tinggi. Bahkan juga terlihat semakin cantik.


"Deena ... kamu jahat! Satu tahun kamu meninggalkan Uti!"


"Maafkan Deena, Uti. Tapi sekarang Deena udah pulang dan tak akan pergi lagi. Dimana papa Kanna?" tanya Deena yang tak menemukan keberadaan Kanna.

__ADS_1


"Papa mu belum pulang. Ayo, masuk. Kalian pasti lelah kan?" ajak ibu Kanna dengan rasa bahagia. Ternyata apa yang apa yang dia khawatirkan tidak terjadi. Alzam masih membawa Deena pulang.


Sibuk dengan Deena akhirnya mereka melupakan Alzam yang masih menggendong baby Kala yang sudah tertidur dalam gendongan Alzam. Menyadari akan hal itu, Zahra merasa tidak enak dan segera mengambil Kala untuk dibawa ke dalam kamar.


"Maaf ya, Mas. Udah merepotkan."


"Gak papa. Lagian aku juga senang bisa menggendong Kala.


Cukup lama Alzam berbincang dengan Zahra dan ibu Kanna. Karena merasa tidak enak berlama-lama, akhirnya Alzam memilih untuk pamit pulang. Kedatangan ke rumah Zahra hanya untuk mengantarkan Deena.


"Ra, bisakah datang kesini untuk mengunjungi Deena?" tanya Alzam sebelum dia pulang.


Dengan bibir tersenyum Zahra menjawab, "Boleh, asalkan kamu tidak membawanya kabur."


Seketika Alzam menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat dia membawa Deena ke luar negeri tanpa sepengetahuan dari Zahra. Namun, untuk kali ini, Alzam tidak akan mengulangi kebodohannya lagi. Cukup dua kali dia menjadi orang bodoh.


"Untuk kali ini, percayalah padaku. Aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi. Aku hanya ingin hidup tentram disisa akhir hidupku, meskipun tidak bisa bersamamu."


"Aku doakan kamu akan segera mendapatkan jodoh yang terbaik, Mas."


Setelah Alzam berlalu, Zarah segera masuk kedalam. Dia ingin memberikan kabar baik ini kepada Kanna. Namun, Deena melarang namanya untuk memberitahu kepada papanya jika saat ini dirinya sudah pulang. Deena ingin memberikan sebuah kejutan kepada Kanna, pria yang setiap malam dirindukan.


"Dee, maafin mama yang saat itu tak bisa menemani Deena untuk berobat," kata Zahra dengan rasa sesalnya.


"Mama tidak usah merasa bersalah. Yang penting saat ini Deena sudah sembuh dan sudah bisa berkumpul lagi bersama kalian. Sungguh Deena sangat rindu, Ma." Kini Deena kembali untuk memeluk mamanya. Begitu juga dengan Zahra yang memberikan pelukan erat untuk anaknya.


.


.


.


.

__ADS_1


Hayo, siapa kemarin yang meminta Alzam diturunkan jodohnya. Awas aja dah othor kabulin, orangnya menghilang 🔨


__ADS_2