
Ibu Kanna mendengus pelan saat Zahra keluar dari kamar mandi. Dia tahu apa yang sedang dilakukan anak dan menantunya didalam sana. Apalagi jika bukan mencetak adik untuk Kala.
"Siang-siang begini masih aja kalian sempatkan untuk bermain." Ibu Kanna menggelengkan kepala sambil menyerahkan baby Kala yang masih menangis.
"Lain kali pastikan dulu anaknya udah aman atau belum. Jangan sampai ujung-ujungnya nanggung. Gak enak kan?"
Dengan rambut yang tergulung handuk, Zahra segera mengambil baby Kala dari tangan mertuanya. Malu itu sudah pasti! Semua itu karena Kanna yang terus memaksanya.
"Ya udah, urus dulu Kala! Bobokin dulu baru nanti kalian lanjutin kali," ujar Ibu mertuanya yang kemudian berlalu meninggalkan kamar Zahra.
"Cup ... cup .. cup kamu kenapa, Sayang? Haus ya?" Zahra segera memangku baby Kala untuk diberikan A S I.
Tak lama kemudian Kanna keluar dari kamar mandi. Wajahnya sedikit lesu karena dia harus menelan kegagalannya lagi. Semua itu karena anaknya yang tak bisa mengertikan dirinya. Namun, saat melihat bocah satu tahun berada dalam pangkuan Zahra membuat hati Kanna meluluh dan melupakan rasa kecewanya. Bagaimanapun dia adalah darah daging yang selama ini dinantikan oleh keluarganya.
Memiliki keluarga kecil yang bahagia adalah impian setiap orang, termasuk dengan Alzam. Namun, karena sebuah kebodohan yang telah dilakukan mampu menghancurkan semua impiannya. Saat ini terlambat untuk disesali, karena serpihan kaca yang sudah hancur tidak akan pernah bisa menyatu kembali. Begitu juga dengan pernikahan bersama Zahra.
"Dee, bangun! Kamu harus pergi ke sekolah," kata Alzam membangunkan Deena.
Bocah itu menggeliat sambil mengucek matanya. Rasanya masih sangat mengantuk karena tadi malam sang papa menceritakan kisah kancil dan buaya seperti mamanya saat itu. Namun, setelah kehadiran baby Kala, sang mama tak punya waktu membacakan dongeng untuknya lagi. Dia sibuk untuk mengurus adiknya.
"Masih ngantuk," ujar Deena sambil menguap.
"Apakah kamu mau jika Papa kena marah sama mama kamu karena kamu tidak pergi ke sekolah?"
Deena menggelengkan kepalanya pelan. tentu saja dia tidak menginginkan papanya sampai kena marah mamanya. Bisa-bisa dia tidak diberi kesempatan untuk tidur kembali di rumah papanya. Saat itu pula dia beranjak dari tempat tidur untuk menuju ke kamar mandi. Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, Deena sudah bisa mandi sendiri. Semua itu karena Zahra yang mengajarkan Deena sejak usianya masih 3 tahun.
Hanya butuh waktu 10 menit Deena sudah rapi dengan seragamnya begitu juga dengan Alzam yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Setelah sarapan keduanya langsung meluncur ke tempat masing-masing. Deena ke sekolah, sementara Alzam pergi ke kantornya.
"Ingat, kalau belum Papa jemput jangan pergi ke mana-mana. Siapapun itu yang mengajak nggak boleh ikut, oke?" pesan Alzam sebelum meninggalkan Deena.
"Siap, Pa."
__ADS_1
Setelah memastikan Deena sudah masuk ke dalam kelasnya, Alzam segera meluncur ke kantor. Dia tidak tahu bagaimana kabar rapat yang sempat dia tinggal kemarin. Bahkan sampai saat ini Dafa belum memberikan kabar. Namun, apapun hasilnya Alzam akan menerimanya dengan lapang.
"Pagi, Pak," sambut Dafa saat melihat Alzam masuk kedalam kantor. Dafa sengaja tidak memberikan kabar kepada atasannya, karena dia tidak mau menambah beban pikiran atasnya.
"Bagaimana hasil keputusan rapat kemarin?" tanya Alzam langsung.
"Nanti saya jelaskan di ruangan," kata Dafa yang sudah memencet tombol lift.
Melihat gerak-gerik Dafa, Alzam bisa menebak jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya. Helaan napas panjang dia keluarkan untuk membuang rasa sesak di dalam dadanya.
"Apakah gagal?" tanya Alzam datar.
Dafa terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Alzam, karena memang seperti itu kenyataannya. Dafa tidak tahu bagaimana nasib perusahaan selanjutnya.
"Gak usah kamu jelaskan, aku sudah tahu." Alzam memijat pangkal hidungnya karena kepalanya terasa sakit. Kali ini dia sudah jatuh dan entah akan bisa bangkit kembali atau tidak.
"Anda baik-baik saja?" tanya Dafa saat melihat Alzam hampir terhuyung kebelakang.
***
Siang ini Alzam sengaja menghubungi Zahra jika dia tidak bisa menjemput Deena dengan alasan ada pekerjaan yang tidak bisa dia. Dngan senang hati Zahra langsung bersiap untuk menjemput anaknya. Akhirnya tanpa diminta, Alzam menyerahkan Deena secepatnya.
Zahra tersenyum bahagia, akhirnya doanya langsung terkabulkan. Tanpa pikir panjang dia sekarang berangkat menuju ke sekolah Deena.
"Deena," panggil Zahra saat melihat anaknya duduk di bangku panjang.
"Mama," teriak Deena saat melihat Zahra. "Kita pulang sekarang ya," ajak Zahra.
Deena menggelengkan kepada dengan pelan. "Deena mau menunggu Papa," tolaknya.
"Tapi papa Alzam sedang ada urusan, Sayang. Dia nggak bisa jemput Deena, makanya dia menyuruh Mama untuk menjemput Deena. Kita pulang, ya," bujuk Zahra dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi Deena masih ingin bersama dengan papa Alzam, Ma."
Sebisa mungkin Zahra berusaha untuk sabar. Dia terus membujuk Deena agar mau pulang. Namunz Deena bersikukuh enggan pulang bersama dengan mamanya.
Saat itu juga Zahra segera menghubungi Alzam dan memintanya untuk memberikan penjelasan kepada Deena.
Setelah mendapatkan penjelasan dari papanya, dengan berat hati Deena ikut pulang bersama mamanya. Sepanjang perjalanan tak ada satu kata yang terucap dari bibir Deena. pandangannya lurus ke depan tanpa ingin menoleh ke arah Zahra. Bahkan saat ditanya Deena hanya memberikan jawaban singkat. Hal itu membuat Zahra semakin penasaran, sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada Deena.
"Dee, jangan lupa cuci tangan dan kaki dulu ya!" pesan Zahra saat bocah itu mau masuk ke rumah.
"Iya, Ma."
Zahra hanya mendengus pelan seraya mengelus dadanya. "Tuh anak kenapa ya?"
Jika biasanya Deena akan bermain dengan Kala, kini bocah itu memilih mengurung dirinya di dalam kamar. Semenjak kehadiran sang adik, semua orang selalu menyanjung dan memujinya. Perlahan-lahan mereka mulai melupakan kehadiran Deena di sisi mereka.
Deena mengira jika dia mempunyai seorang adik, dia bisa memiliki teman untuk bermain. Namun, nyatanya sang adik malah mengambil perhatian semua keluarganya. Kini Deena hanya bisa menangis di dalam kamar.
"Kenapa semua lebih sayang kepada Kala? Sekarang mereka tidak menyayangiku lagi."
Deena menumpahkan air matanya dibawah selimut yang menutupi tubuhnya. Saat ini hanya Calline tempatnya mengadu.
"Call, mengapa mereka tak menyayangiku lagi? Mengapa mereka lebih menyayangi Kala? Apakah karena aku bukan anak papa Kanna?" Deena memeluk boneka kesayangannya.
Cukup lama Deena mengurung diri hingga Zahra datang untuk mengajaknya makan siang. Zahra hanya mengira jika saat ini Deena sedang marah karena tidak pulang ke rumah Alzam.
"Dee, papa Alzam itu sibuk jadi gak punya banyak waktu untuk Deena. Kapan-kapan kalau papa Alzam senggang, Deena boleh kok kamu lagi di sana," kata Zahra dengan lembut.
"Sekarang kita makan dulu, ya," lanjut Zahra lagi.
"Deena gak mau! Deena masih kenyang!"
__ADS_1
Zahra mengernyit melihat sikap Deena yang berubah.