Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
73 | Kritis


__ADS_3

Zahra tidak tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya, mengapa wajah Kanna begitu setelah mendapatkan mendapatkan telepon. Bahkan tak peduli dengan keadaan jalan yang ramai.


"Mas, sebenarnya ada apa?" tanya Zahra yang ingin mendapatkan sebuah jawaban.


"Pria itu kritis," jawab Kanna seraya menoleh kebelakang.


"Apa?!" Zahra menutup mulutnya dengan rasa terkejut. Tak perlu ditanya lagi mengapa Alzam bisa sampai kritis. Mungkin karena fisik yang lemah serta penyakit yang sudah menyebar keseluruhan tubuhnya.


Meskipun merasa sangat khawatir, tetapi Zahra mencoba untuk biasa saja agar tak membuat Kanna salah paham. Zahra tak ingin menimbulkan salah paham lagi dengan Kanna.


Karena laju mobilnya yang tinggi, akhirnya sampai juga mereka ke sebuah Rumah sakit terbesar di kota Paris.


Kanna membukakan pintu untuk Deena yang masih merasa marah. Bahkan Deena menepis tangan Alzam saat hendak menggandeng tangannya.


"Ini bukan rumah papa Alzam! Ini rumah sakit!" teriak Deena membuat beberapa orang tertuju pada dirinya.


"Kita kedalam dulu liat papa Alzam yang bobok didalam," bujuk Kanna.


Deena hanya mengernyit. Darimana dasarnya Rumah sakit untuk tempat bobok. Yang Deena tahu Rumah sakit tempat berkumpulnya orang sakit.


"Rumah sakit bukan tempat orang bobok, tapi tempat orang sakit, Pa," protes Deena. Detik kemudian dia berceloteh lagi "memangnya papa Alzam sakit?"


"Bisa jadi," jawab Kanna santai.


Untuk menuju ke kamar Alzam, mereka harus menggunakan lift. Kamar Alzam adalah kelas VIP dan tak sembarang orang bisa mendapatkan layanan VIP.


"Ma, apakah papa Alzam sedang sakit?" tanya Deena pada sang mama.


"Mungkin dia hanya kelelahan saja. Kamu jangan berpikir macam-macam!" tegas ibunya.


Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai di kamar inap Alzam. Dengan beberapa alat bantu pernapasan yang telah terpasang di tubuh Alzam, membuat Kanna sangat prihatin.


"Dia kenapa?" tanya Kanna pada salah satu orang suruhannya untuk menjaga Alzam.

__ADS_1


"Papa Alzam kenapa, Ma?" tanya Deena yang penasaran.


"Dia sakit, Sayang." jawab Zahra dengan pelan.


Sejahat apapun Alzam, jika melihat keadaannya saat ini pasti akan merasa sangat kasihan. Tak ada satu pun anggota keluarga yang dimiliki disisa akhir napasnya.


Rasa kebencian yang dimiliki oleh Kanna tiba-tiba berubah menjadi rasa bersalah. Seharusnya Kanna mendengarkan ucapan Zahra jika Alzam sedang sakit. Namun, karena sedang keadaan panas, Kanna malah menuduh Zahra sedang membela Alzam.


Karena waktu melihat Alzam dibatasi, akhirnya Kanna keluar dengan tetapan kosong. Dirinya benar-benar merasa bersalah.


"Ra, maafkan aku yang tak mempercayaimu. Maafkan aku jika telah membuat keadaan Alzam kian memburuk. Semua itu salahku, Ra!"


Zahra tak ingin melihat sang suami mengalah dirinya sendiri. Semua itu sudah takdir. Bisa saja ini adalah karma atas perbuatan Alzam selama ini yang telah mendzolimi dirinya.


"Mas ... kamu salah jika menyalakan dirimu sendiri atas kondisi mas Alzam. Semua ini terjadi karena takdir, bukan karena kamu!" tegas Zahra.


"Tapi aku telah mengirimkannya ke gedung itu, Ra. Jika aku tak membawanya kesana, mungkin keadaan Alzam tak separah ini."


Dada Zahra terasa sesak. Dia berusaha untuk menguatkan Kanna dan meyakinkan jika semua yang terjadi adalah karena takdir, bukan karena dirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Pa? Mengapa papa menyalakan diri papa sendiri?"


Zahra menarik pelan tubuh mungil agar masuk kedalam pelukannya. "Kamu jangan berpikir macam-macam, ya! Papa Kanna hanya sedang bersedih karena papa Alzam sedang kritis. Deena doakan saja agar papa Alzam bisa segera sembuh," nasehat Zahra.


"Tapi dia udah jahat, Ma. Dia juga sudah mengambil Mama dari Deena malam itu. Biarkan saja dia sakit agar dia tidak bisa berbuat jahat lagi," ujar Deena.


Zahra tak percaya jika Deena mampu mengucapkan kata seperti itu. Padahal tak sedikitpun Zahra mengajarkan pada Deena untuk membalas kejahatan seseorang.


"Deena gak boleh berbicara seperti itu, Nak! Sejahat apapun dia, kita wajib mendoakan kebaikan untuknya, terlebih disisa akhir napasnya, Sayang. Saat ini papa Alzam sedang kritis dan kecil kemungkinan dia bisa sembuh seperti dahulu, Nak. Jadi Deena sebagai anak yang baik dan berbakti kepada orang tua, wajib untuk mendoakan pala Alzam agar cepat sembuh," jelas Zahra.


Deena terdiam untuk beberapa saat. Matanya pun segera mengarah kepada Kanna yang masih tetap menyerahkan dirinya sendiri. Dengan lembut, tangan kecil itu membelai bibi Kanna dan berkata, "Pa, maafin Deena. Tadi Deena udah marah sama Papa. Jangan bersedih, ada Deena disini."


Kanna mengangkat sudut bibirnya. "Iya, Sayang. Papa juga sayang Deena."

__ADS_1


Bersama Zahra dan Deena, Kanna menemui dokter yang menangani Alzam. Kanna merasa sangat penasaran dengan penyakit yang diderita olehnya, mengapa dia sampai kritis. Mendengar penuturan sang dokter, Kanna merasa sangat terkejut. Ternyata Alzam mengidap penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Jikapun sembuh, itu adalah campur tangan Tuhan.


"Sangat kecil kemungkinannya, pasien bisa sembuh. Jikapun sembuh kemungkinan juga dia akan mengalami kehilangan sedikit memori ingatannya," jelas sang dokter. "tapi kami akan usahakan yang terbaik untuk pasien."


"Semua ini adalah salahku. Aku yang sudah membuatnya kritis seperti ini. Jika aku tidak memberikan pelajaran kepadanya, mungkin dia tidak akan seperti ini," ujar Kanna penuh sesal.


"Mas, kamu nggak boleh nyalahin diri kamu sendiri. Mas Alzam kritis karena penyakitnya sendiri, bukan karena kamu!" tegas Zahra.


"Tapi kalau aku nggak bawa dia ke gudang tua itu, dia nggak akan kritis, Ra!"


Zahra tidak tahu lagi bagaimana cara dia meyakinkan suaminya jika apa yang terjadi kepada Alzam bukan salahnya.


Setelah cukup banyak mendapatkan penjelasan dari dokter, akhirnya memilih undur diri. Kini rasa penasaran sudah terjawab.


Seharusnya Kanna bahagia karena Alzam hukuman langsung dari Tuhan. Namun, sebagai manusia biasa Kanna merasa sangat kasihan. Apalagi Kanna sempat mengurung Alzam di gedung tua jauh dari kota. Hal itu membuat Kanna merasa sangat bersalah.


"Pa, Papa gak lupa 'kan kalau kita mau ambil Calline di rumah papa Alzam?"


Seketika Kanna mendongak dan menatap bocah kecil yang berada dihadapannya. Dengan memaksakan senyum, Kanna mengangguk. "Gak lupa kok. Ya udah kita kesana sekarang ya."


Sepanjang perjalanan Kanna mende.sah mengeluarkan napas beratnya. Jika sampai sesuatu yang tidak diinginkan kepada Alzam, Zahra yakin jika Kanna akan semakin menyalahkan dirinya sendiri.


"Mas Kanna harus tahu, sejatinya manusia itu memiliki takdir yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyalahkan diri kita, ketika Allah sudah menentukan takdirnya. Sakit yang mas Alzam derita itu adalah pemberian dari Allah, jadi ketika dokter tidak bisa menyelamatkannya, itu sudah kehendak dari Allah."


"Tapi tetap saja aku merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkan ucapanmu dan membiarkan Alzam terkurung dalam kesendirian yang di sana."


"Stop menyalahkan diri kamu sendiri Mas!" Zahra semakin geram dengan kebodohan Kanna yang terus menyalahkan dirinya sendiri. Bukan Zahra merasa kasihan, tetapi semua ini sudah jalan dari Tuhan.


.


.


.

__ADS_1


.


Gak tahu mau kasih pesan apa. Selamat pagi ajalah


__ADS_2