Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
21 | Sebuah Alasan


__ADS_3

Satu hari ini aku menghabiskan waktuku di rumah Zahra. Saat aku ingin pulang hatiku terasa sangat berat untuk meninggalkan seseorang. Terlebih Zahra yang tampil natural. Aku tak pernah memperhatikan wajahnya dengan jelas. Baru kali ini bisa memandangnya dengan puas.


Malam ini Zahra tidur lebih awal. Mungkin karena bawah ibu hamil yang mudah lelah. Saat aku ingin merebahkan tubuhku di sampingnya, ponselku kembali berdering. Sebuah nama dari Aira mengambang.


"Halo," kataku setelah ku geser tombol warna hijau.


"Mas, kamu gak pulang lagi?"


"Ra, aku masih lembur. Aku lagi kerja," dustaku.


"Tapi ingat waktu, Mas. Kamu kan bisa kerjain di rumah. Aku mau sekarang kamu pulang!"


"Maaf Sayang, tapi aku harus mengerjakannya disini. Aku juga harus memantau orang yang sedang lembur juga. Sekali lagi maaf ya. Kamu beristirahatlah, Jangan tidur malam-malam," pesanku pada Aira sebelum mengakhiri panggilan telepon.


Ku tatap Zahra yang sudah terlelap dalam tidurnya. Sebenarnya aku tidak ingin membawanya masuk kedalam masalahku, tetapi semua ini demi Aira, wanita yang telah berjasa banyak dalam hidupku.


Ku rebahkan tubuhku untuk menyusul Zahra ke alam mimpi. Sebenarnya aku juga tidak tega melakukan ini padanya, tapi apa boleh buat, dia sudah aku beli dengan harga yang cukup malah.


"Ra, maaf," kataku sambil ku kecup kepalanya pelan. Ada getaran yang menjalar dalam aliran darahku saat ku sentuh dia.


Baru kali ini tidak aku menghabiskan waktuku bersama dengan Zahra. Mulai dari pagi hingga malam. Tidak ada yang istimewa, Zahra hanyalah biasa dengan segala kepolosannya. Bahkan terselip rasa penyesalanku saat aku hanya ingin meminjam rahimnya untuk mengandung benihku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kelak jika dia mengetahui aku hanya memanfaatkannya saja. Pasti akan sangat hancur, terlebih aku juga harus melepaskannya setelah anak itu lahir.


Terlalu besar cintaku pada Aira, hingga aku begitu kejam pada orang yang begitu polos. Padahal aku tahu jika Zahra sedang berusaha untuk melanjutkan kuliah. Namun, tanpa perasaan aku menghancurkan semua harapannya demi ambisi ingin memiliki keturunan.


Malam ku saat terasa sangat panjang. Entah mengapa tidur bersama Zahra malam ini aku bisa merasakan semua kesedihan, bahkan kesakitan yang dia alami.


***


Aku terkejut saat cahaya keemasan menyilaukan mataku. Ternyata Zahra menarik gorden jendela. Ku lihat jam yang berada diatas nakas ternyata sudah pukul 7 pagi.

__ADS_1


Aku menggusar rambutku dengan kasar. Ku hembuskan napas berat ku, karena aku telah kesiangan. Semua ini gara-gara aku terlalu banyak memikirkan Zahra.


"Kamu gak pulang, Mas?" tanya Zahra saat melihatku terduduk.


"Sejak tadi ponselmu terus berbunyi. sepertinya Mbak Aira sedang mengkhawatirkanmu, Mas," lanjutnya lagi.


"Aku mau mandi, dulu. Tolong siapkan pakaianku," kataku datar.


Tak ada jawaban iya dari bibir Zahra, tetapi dia langsung melangkah ke lemari untuk segera mencari pakaianku. Saat ini aku memilih mengabaikan Aira. Aku sudah tahu jika apa yang akan terjadi jika aku mengangkat panggilan teleponnya. Sarena aku sudah mengatakan akan pulang, Namun nyatanya aku malah kesiangan.


"Ra," panggilku saat tak melihat Zahra di dalam kamar. "Zahra," ulang ku lagi.


Sama sekali tak ada sahutan. Aku berdecak kesal. Baru juga satu bulan menikah, aku sudah lupa untuk memakai dasi. Bisanya Zahra dan Aira yang akan memakaikannya.


Karena aku juga sedang memburu waktu untuk pulang ke rumah, aku segera keluar kamar untuk mencari keberadaan Zahra. Ku lihat dia sedang menata sarapan diatas meja.


"Ra, tolong pakaikan dasiku! Aku sedikit lupa," kataku tanpa melihat keadaan sekitar.


"Hani," lirihku.


"Lanjutkan saja, aku juga masih ada kerjaan di belakang," ucapannya sambil meninggalkan kami.


Setelah Zahra memasangkan dasi dengan rapi, segera kutarik kursi di sampingku. Menu makanan yang tak asing bagiku.


"Kamu yang masak?" tanyaku.


"Iya," jawab Zahra singkat.


Tak perlu di ragukan lagi masakan Zahra yang lebih enak dari para masakan restoran. Berbeda dengan Aira yang tak sedikitpun pandai untuk memasak.

__ADS_1


"Mengapa juga aku malah membandingkan mereka?" tanyaku dalam hati.


Meskipun tak mengenakan polesan bedak dempul dan gincu merah, wajah Zahra sudah terlihat cantik. Mungkin karena dia adalah gadis yang baru saja lulus dari sekolah dan belum mengenal bedak dan teman-temannya. Mungkin jika sudah tahu, hidupnya juga tak akan lepas dari berhias.


Karena aku yang sedang memburu waktu, aku segera memutuskan untuk pulang ke rumah. tidak tahu alasan apa yang harus aku jelaskan kepada Aira. Padahal niatku, subuh sudah sampai di rumah.


Mobil yang kukendarai dengan cepat, ini telah sampai di pekarangan rumah. Kepulanganku pagi ini disambut oleh Aira dengan wajah dinginnya. Dengan tatapan menusuk, Aira segera menodongku dengan pertanyaan.


"Hebat kamu ya, Mas! Jam segini baru pulang! Bilangnya lembur, gak tahunya malah menghembuskan malam dengan wanita lain! Kamu sudah menikah, Mas!" bentak Aira dengan wajah merah padamnya.


Dia tersenyum getir kearah dan bertanya, "Pulang kemana malam tadi?"


"Sayang, kamu tenang dulu. Kita masuk ya," rayuku pada Aira. Segera ku tuntun dia untuk masuk kedalam. Disana juga ada mbok Inah yang sedang membersihkan rumah. Baru saja ku dudukkan di sofa, Aira sudah melayangkan pertanyaannya lagi.


"Sekarang jelaskan, kamu tidur dimana dengan siapa? Apakah aku tidak cukup untukmu, Mas?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


Aku masih terdiam untuk memikirkan alasan apa yang tepat. Jika aku aku mengatakan tertidur di kantor, Aira tidak akan percaya.


"Sayang, ada kejadian yang tak terduga di kantor. Sewaktu pulang, tak sengaja aku melihat salah satu karyawan mengalami kecelakaan. Aku yang tidak tega segera membawanya ke rumah sakit. Sampai saat ini pun dia belum sadarkan diri. Dia hanya anak rantau yang tidak memiliki sanak saudara di sini. Aku sebagai atasan jelas tidak tega, kalau kamu tidak percaya nanti kita jenguk dia, bagaimana?"


Benar saja, Aira langsung merasa iba dengan ceritaku dan meminta maaf atas segala tuduhan yang diberikan kepadaku. Namun, aku tak berani untuk menatap mata mbok Inah yang sudah menatapku dengan tajam.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2