
"Kamu gila, Mas!" sentak Zahra.
"Iya, aku memang sudah gila semenjak kepergianmu. Takdir Tuhan tidak pernah adil kepadaku. Saat kamu bisa bahagia dengan anakku, aku hancur dalam kesendirian, Ra!"
Zahra tersenyum tipis. Dulu dia pernah mencoba untuk menjadi seorang istri yang baik. Namun, nyatanya semua itu dipatahkan oleh perlakuan Alzam kepada dirinya. Bahkan Zahra juga sudah mengikhlaskan saat Alzam menikahi Aira. Namun, Alzam tidak pernah bisa untuk menghargai dirinya. Lalu salahkah jika Zahra pergi meninggalkannya?
"Bukankah kamu sudah memiliki Mbak Aira dan hidup bahagia dengannya? Lalu untuk apa kamu mengganggu hidupku lagi, Mas? Seharusnya jika kamu sangat mencintai Mbak Aira, kamu bisa menerima kekurangannya termasuk meskipun dia tidak bisa memiliki keturunan, Mas!"
Alzam membuang napas beratnya sebelum dia membalas ucapan Zahra. Kehilangan orang yang sangat dicintai sangatlah menyakitkan, terlebih semua itu karena kebodohannya. Sambil tersenyum tipis Alzam berkata, "Kamu salah besar jika menganggap hidupku bahagia bersama dengan Aira. Mungkin Aira sudah merasa bahagia, tetapi tidak denganku." Alzam tertawa kecil menertawakan kenyataannya.
Zahra yang masih memeluk tubuh Deena merasa terkejut dengan pengakuan mantan suaminya. Dalam hati dia bertanya apakah Aira juga pergi meninggalkan Alzam seperti dirinya?
"Bahagia di alamnya sendiri," sambung Alzam.
Mata Zahra terbelalak saat mendengar kata alam sendiri. "Maksud kamu Mbak Aira meninggal?" tebak Zahra secara asal.
Alzam kembali tertawa kecil menatap ke arah Zahra dan Kanna bergantian.
"Iya. Dia meninggal setelah mengetahui jika aku telah menikah denganmu. Dia merasa bersalah dan depresi. Terlebih dia sangat kecewa padaku. Akhirnya penyakitnya kambuh dan dia memilih kebahagiaannya sendiri," kenang Alzam kala itu.
Hati Zahra tiba-tiba merasa iba dengan nasib yang dialami oleh Alzam. Andaikan saja dulu Alzam bisa menjaga hati dan perasaannya, mungkin Zahra tidak akan pernah meninggalkannya. Namun, semua itu sudah berlalu. Tak ada yang perlu disesali. Mungkin takdir Zahra bukanlah bersama dengan Alzam.
"Aku turut berduka cita dan prihatin atas apa yang telah menimpa kamu, Mas. Meskipun aku tidak bisa mengubah kenyataan jika Deena itu adalah satu-satunya penerus kelak, tetapi cara kamu salah, Mas! Jujur aku tidak akan pernah membatasi hubunganmu dengan Deena asalkan kamu tidak merebutnya dariku. Aku ibunya, aku yang melahirkannya, aku yang membesarkannya. Mas, berdamailah dengan keadaan!" seru Zahra.
Lagi-lagi Alzam hanya tersenyum tipis. "Aku bisa berdamai dengan keadaan asalkan kamu mau kembali lagi padaku. Kita bangun lagi hubungan kita yang sudah hancur. Aku berjanji akan mencintaimu melebihi cintaku pada Aira."
"Kamu memang sudah benar-benar gila Mas! Aku sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Aku tidak mungkin mau kembali membangun serpihan yang sudah kamu hancurkan!" kata Zahra dengan emosi.
Seenak jidatnya Alzam memintanya untuk kembali saat dia sudah menghancurkan impian dan masa depannya. Bahkan dia juga menghancurkan kebahagiaannya.
"Mas Kanna, sebaiknya kamu menghubungi pihak rumah sakit jiwa, karena di sini ada pasien yang harus mendapatkan penanganannya!" ujar Zahra pada Kanna.
"Sudahlah tidak perlu kita hiraukan lagi. Ayo kita pergi."
__ADS_1
Akhirnya Zahra mengikuti saran dari Kanna untuk meninggalkan Alzam yang masih duduk dengan santai.
"Tunggu!" cegah Alzam. "Aku sudah membuat dua pilihan. Aku kembalikan Deena, tapi kamu harus menggantikannya!" lanjutnya.
"Aku tidak butuh pilihan darimu, Mas! Deena itu anakku, Mas!" bentak Zahra.
Karena Zahra tidak mau memberikan pilihan, maka Alzam memilih untuk menggunakan caranya sendiri untuk mendapatkan pilihan dari Zahra.
"Tutup semua pintu!" perintah Alzam pada sambungan teleponnya.
Zahra dan Kanna terkejut saat semua orang menutup akses jalannya untuk keluar. Bahkan terlihat ada beberapa orang berseragam hitam mengepung mereka.
"Ada apa ini, Mas?" tanya Zahra bingung.
"Papa, Deena takut," ujar Deena yang berada dalam gendongan Kanna.
"Deena gak boleh takut. Ada Papa di sini untuk Deena."
Saat ini posisi ketiganya sudah terkepung oleh orang-orang yang tidak dikenali. Derap langkah Alzam pun terdengar mendekat. Zahra berbalik badan untuk melihat ke arah Alzam. Dia yakin jika ini adalah ulahnya.
Alzam tersenyum smirk. "Kamu pilih Deena aku kembalikan atau Deena tetap bersama denganku. Pilihannya ada di tanganmu. Jika kamu tidak bisa memilihnya maka jangan pernah berharap Deena aku kembalikan!"
"Ya Allah .... Mas Alzam. Kenapa kamu semakin gila? Mas, sadar, Mas!"
Zahra tidak akan pernah bisa untuk memilih. Saat ini dia sudah menemukan Deena, tidak mungkin dia menyerahkan Deena pada Alzam yang gila.
"Iya aku memang sudah gila. Kamu yang sudah membuatku gila, Ra! Aku sudah membelimu untuk mengandung anakku, dan sekarang kamu tidak mau menyerahkan Deena padaku?! Apakah aku tidak boleh gila? Kamu yang gila, Ra!" bentak Alzam.
"Ambil Deena!" perintah Alzam pada orang yang sudah mengepung Zahra.
Zahra dan Kanna berusaha untuk tetap melindungi Deena yang hendak diambil paksa oleh orang suruhan Alzam. Bahkan tangisan Deena sudah menjadi-jadi saat tubuh sedang diperebutkan. Sebagai seorang Ibu Zahra benar-benar tidak tega mendengarkan tangisan anaknya.
"Mas Alzam, cukup Mas! Cukup!" bentak Zahra dengan keras.
__ADS_1
Akhirnya tangan Alzam memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menghentikan paksaannya.
"Jadi apa keputusanmu sekarang, Ra?" tanya Kanna dengan sorot mata tajamnya.
"Ra, jangan!" Kanna tidak sanggup untuk mendengarkan jawaban dari istrinya. Susah payah Kanna berusaha menemukan Deena, tidak mungkin hanya dalam hitungan menit saja usahanya sia-sia. Saat ini Deena adalah kekuatan Zahra untuk menghadapi kenyataan.
"Mas Kanna, aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa membiarkan Deena tumbuh bersama pria gila ini. Tolong didik dan rawat Deena seperti anakmu sendiri, Mas. Aku harus mengambil keputusan berat ini, karena aku tidak punya pilihan lain. Aku sangat menyayangi kalian. Deena maafkan Mama tidak bisa bersama dengan Deena. Tapi kamu tenang saja ada Papa dan Uti yang akan menjaga dan menyayangi kamu, Nak. Maafkan Mama, Sayang." Zahra langsung memeluk tubuh Kanna dan Deena yang berada dalam gendongan Kanna.
"Maafkan aku, Mas," lirih Zahra dengan derai air matanya yang tak terbendung lagi.
"Gak! Kamu nggak boleh melakukan ini, Ra! Deena butuh kamu. Kita bujuk Alzam lagi, ya?" bisik Kanna dengan mata yang berkaca-kaca.
Karena tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan Zahra. Akan tetapi dia juga tidak mungkin melepaskan Deena.
"Kamu tenang aja, ini gak lama. Aku akan berusaha untuk menjinakkan pria gila itu. Percayalah padaku bahwa aku mencintaimu, Mas."
Kata yang selalu ingin Kanna dengar dari bibir Zahra akhirnya terucap juga. Namun, semua itu tidak berarti lagi.
"Ra, kamu nggak boleh lakukan ini, Ra!"
"Mama ... Mama jangan mau tinggal bersama papa Alzam. Dia jahat! Biar Deena aja Ma, yang ikut sama papa Alzam. Mama sama Papa Kanna gak boleh pisah," ujar Deena yang masih memeluk Zahra.
"Oke, waktunya sudah habis. Sekarang tentukan pilihanmu!"
.
.
.
.
BERSAMBUNG!
__ADS_1
TINGGALKAN LIKE KOMENTAR KALIAN, OKE!
MUUUAACCHH 😘😘