Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
25 | Keputusanku


__ADS_3

...Ketika aku sudah lelah untuk bertahan dan menyerah dengan keadaan. Maka pergi menjauh adalah pilihanku....


...~Zahra~...


Tak ada percakapan antar kami berdua meskipun berada dalam satu ranjang. Setelah mas Alzam pulang kerja aku sengaja mengabaikannya. Sampai saat ini mas Alzam belum memberikan jawaban atas ucapanku tadi pagi. Sudah jelas jika mas Alzam tidak akan pernah memilihku, karena dia hanya mencintai mbak Aira.


"Kamu sudah minum susu?" Suara mas Alzam memecahkan keheningan malam.


"Belum," jawabku datar.


"Aku buatkan ya," tawar mas Alzam. Namun, dengan cepat aku menolaknya. "Tidak usah Mas."


"Kenapa?"


"Aku sudah kenyang," kilahku. Darimana aku merasa kenyang, sedangkan hampir satu hari tak ada nasi yang bisa masuk ke dalam perutku. Semua yang aku makan pasti akan keluar lagi. Seperti ini sakitnya berjuang dan apa yang akan aku dapatkan setelah aku melahirkan kelak? Anak ini akan menjadi milik mas Alzam dan juga mbak Aira. Sungguh aku tidak akan rela.


"Minumlah dulu, selagi masih hangat."

__ADS_1


Aku terkejut dengan ucapan mas Alzam dan juga sebuah gelas yang telah disodorkan ke depanku.


"Bangunlah," ujarnya.


Aku yang mual saat mencium aroma susu segara membungkam mulutku dan segera berlari ke kamar mandi. Sudah dua hari ini rasa mualku kembali meningkat, padahal hari-hari sebelumnya sudah mereda.


"Ra, kamu kenapa?" teriak mas Alzam yang langsung menyusulku ke kamar mandi.


Meskipun kucoba untuk mengeluarkan rasa yang berkejolak di dalam perutku, tetapi tidak ada yang keluar.


"Aku gak papa," jawabku pelan.


Tubuhku telah di papah oleh Mas Ali menuju ke tempat tidur. Sebuah gelas berisi air putih dia sadarkan kepadaku. "Minumlah!" katanya.


"Terimakasih," ujarku.


Hening, tak ada lagi kata yang terucap dari bibir kami. Mas Alzam hanya menatapku dalam kebiasaannya. Aku merasa risih ketika terus menatapku tanpa ekspresi sama sekali. saat aku ingin merebahkan tubuhku kembali, Mas Alzam menahanku.

__ADS_1


"Ra, aku tahu kamu sedang marah kepadaku karena menunggu jawabanku. Aku sudah memikirkan dan mempertimbangkan jawaban apa yang harus aku berikan kepadamu. Jujur pilihan yang sangat berat. Aira adalah orang yang cintai, dan kamu adalah ibu dari anakku. Apakan dengan menceraikan Aira, kamu akan memberikan anak itu padanya?"


Deg!


Jantungku seakan ingin lepas. Mas Alzam gila!


Aku tersenyum getir ke arah Mas Alzam yang sama sekali tak memikirkan perasaanku. "Lebih baik aku yang bercerai denganmu daripada aku harus menyerahkan anakku kepada orang lain. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan anak ini pada siapapun, termasuk kepadamu, Mas! Sudah cukup aku diam untuk menanggung rasa sakit yang kamu berikan. Aku sudah lelah dengan pernikahan ini. Jika kamu memang mencintai mbak Aira, aku ingin kamu menceraikanku! Karena aku tidak akan pernah sanggup hidup bersama dengan orang yang sama sekali tidak mencintaiku bahkan sama sekali tidak peduli dan perasaanku. Aku tidak peduli dengan perjanjianmu bersama dengan ibumu. Untuk masalah hutang aku bisa untuk melunasinya," kataku panjang lebar kepada mas Alzam.


Semakin lama aku bertahan, semakin banyak pula luka yang digoreskan oleh mas Alzam. Aku lelah! Aku ingin menyerah. Aku hanya wanita biasa. Aku bukan wonder woman. Hatiku tak terbuat dari baja yang kuat dengan rasa sakit yang selalu digoreskan.


"Ra, aku bersedia untuk menceraikan Aira dan memulai pernikahan ini dari nol. Namun, satu pintaku, aku ingin kamu memberikan anak kita kepada Aira."


Ya Allah, sebenarnya hati mas Alzam itu terbuat dari apa? Jika niatnya hanya ingin memiliki anak, mengapa dia tidak menyewa wanita lain untuk mengandung bibitnya. Banyak wanita di luar sana yang mau menyewakan rahimnya, tetapi mengapa harus aku yang dipilih. Dan mengapa juga harus ada pernikahan di antara kami?


"Aku tidak akan pernah memberikan anak ini kepada siapapun, bahkan sekalipun kamu yang memintanya, Mas," kataku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tahu cintamu terlalu besar untuk mbak Aira. Kamu hanya menggunakan ku untuk menampung bibitmu agar aku bisa melahirkan anakmu. Jika memang itu adalah niatmu, maka lebih baik kamu ceraikan aku, Mas!"

__ADS_1


__ADS_2