Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
37 | Zahra Yang Penasaran


__ADS_3

Entah mantra apa yang dibisikkan kepada Deena sehingga bocah itu sangat patuh kepada Kanna. Bahkan setiap kata yang diucapkan oleh Kanna selalu dituruti oleh Deena.


Seperti malam ini saat Kanna menyuruh Deena untuk tidur di kamarnya. Tanpa banyak memprotes, Deena mengiyakan saja perintah Kanna.


Zahra sebagai ibunya saja merasa heran mengapa Deena lebih patuh kepada Kanna ketimbang dirinya. Padahal selama ini Zahra juga memberikan perhatian lebih kepada Deena. Namun, nyatanya Deena lebih memilih Kanna sebagai panutannya.


"Mas, kamu kasih janji apa kepada Deena sehingga dia mau nurut sama kamu?" tanya Zahra setelah Kanna berhasil membuat Deena mau tidur di kamarnya.


"Tidak ada. Mungkin karena dia sangat mencintai papanya jadi dia nurut dengan ucapanku," kata Kanna santai.


"Bohong! Aku ibunya, Mas. Jadi aku tahu bagaimana sifat Deena. Ngaku deh, kamu kasih iming-iming apa sama Deena!" desak Zahra dengan penuh rasa penasaran.


Kanna masih enggan untuk memberitahu janji apa yang telah dia berikan kepada Deena. Kanna tidak tahu bagaimana ekspresi Zahra jika dia tahu iming-iming apa yang telah dia berikan kepada Deena.


"Ya ampun, Ara. Aku serius. Aku hanya mengatakan jika akan mengajaknya jalan-jalan Minggu depan."


Zahra masih tak mempercayai ucapan Kanna. Dia yakin jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan.


"Sudahlah, yang penting Deena sudah mau tidur di kamarnya sendiri. Itu artinya kita bisa ... " Kanna menjeda ucapannya sambil melirik kearah Zahra.


Zahra hanya bisa menelan kasar salivanya. Dadanya kian bergerumuh saat Kanna mulai mendekat.


"Kamu mau apa, Mas?" tanya Zahra saat melihat Kanna melepaskan satu persatu kancing bajunya.


Zahra bukan tidak tahu apa yang sedang diinginkan oleh Kanna sebagai seorang suami. Selama ini Kanna selalu sabar untuk menghadapi dirinya. Empat tahun menjalani hubungan jarak jauh dan Zahra tak pernah memberikan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika sudah siap untuk menjadi istri yang sempurna? Ra, apakah kamu belum bisa menerimaku?" tanya Kanna dengan tatapan mendalam.

__ADS_1


Melihat Zahra masih terdiam, Kanna membuang napas beratnya. Dia tahu jika Zahra belum juga siap untuk menerima dirinya. "Baiklah, lupakan saja," kata Kanna dengan lesu. Dia pun mulai mengancing kembali bajunya.


Ada rasa kecewanya, tetapi Kanna tidak akan pernah untuk memaksa diri. Baginya bisa berada disamping Zahra sudah lebih dari cukup, karena kebahagiaan Zahra lebih penting daripada nafsunya.


Hati Zahra mendadak teriris saat melihat Kanna yang memilih menjatuhkan kasar tubuhnya diatas tempat tidur. Ada rasa sesal dalam hatinya karena tidak pernah bisa peka akan keinginan Kanna.


"Mas," panggil Zahra pelan.


"Kamu marah?" tanyanya lagi.


Kanna membuang jauh egonya. Sesuai dengan janjinya dahulu, dia tidak akan pernah memaksa Zahra untuk melakukan hubungan yang semestinya.


"Tidak. Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri. Aku tidak akan memaksamu jika kamu masih ragu," ucap Kanna.


Zahra semakin merasa sangat bersalah. Kemana saja dirinya selama empat tahun tak pernah peka dengan perasaan Kanna.


Mata Kanna menatap dalam kearah Zahra yang sudah duduk di bibir tempat tidur.


"Apa kamu yakin ingin menyerahkan diri sekarang?" tanya Kanna memastikan.


"Insyaallah, Mas. Aku sudah siap."


🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️ ( Kabur ah ... 🤣 )


Senyum dibibir sepertinya tak akan bisa sirna dari bibir Kanna. Semenjak bangun tidur tak hentinya Kanna menyunggingkan senyumnya saat mengingat Kembali malam panas yang telah dia lewati bersama dengan Zahra setelah menunggu 4 tahun lamanya.


"Papa kenapa tersenyum terus? Apakah Papa sudah berhasil membuat adik?" tanya Deena dengan kepolosannya.

__ADS_1


Zahra yang mendengar celotehan anaknya segera menghampiri dan bertanya apa maksud dari pertanyaannya.


"Maksud Deena apa, Mas?" tanya Zahra pada Kanna yang penuh rasa penasaran.


"Memangnya kamu ngomong apa, Dee?" tanya Kanna pura-pura pada Deena yang kelepasan berbicara.


"Deena gak bilang apa-apa, Pa. Memangnya Deena bilang apa, Ma?" tanya Deena kepada mamanya.


Zahra memijat pelipisnya yang berdenyut karena anak dan suaminya malah saling melemparkan pertanyaan.


"Mama tahu kalian sedang menyembunyikan sesuatu. Deena, jawab Mama! Janji apa yang telah diberikan Papa sama kamu?" tanya Zahra dengan wajah serius.


Deena masih terdiam. Matanya mengarah kepada sang papa, seolah meminta pendapat dari papanya. Kanna yang mengerti tetapan Deena memilih menggelengkan kepalanya pelan, sebagai isyarat jika Deena tidak boleh memberitahu namanya.


"Papa cuma mau mengajak Deena jalan-jalan Minggu depan, Ma," jawab Deena bohong.


"Mama gak percaya! Mama dengar kamu tadi bilang apakah Papa sudah berhasil membuat adik. Maksud kamu apa itu, Dee?"


"Mas, jelaskan!" tambah Zahra lagi.


"Sepertinya aku sudah hampir terlambat. Aku berangkat dulu ya." Kanna memilih mencari jalan aman agar tidak bisa kabur dari Zahra.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2