
[ Nah gini dong, ramekan kolom komentar biar lancar up nya ] wkkww .
****
Kanna yang mendapatkan kabar jika ada yang membawa Zahra ke gudang langsung bergerak cepat untuk menuju gudang. Liona yang mengadu semakin yakin jika Kanna memang mempunyai hubungan dengan Kanna.
"Tuh kan bener," batin Liona.
Sesampainya di gudang, dua orang yang ditugaskan untuk menjaga Zahra langsung bersiap untuk melakukan tugasnya lagi.
"Wi, itu pak Kanna," ujar Diana seraya menunjuk kearah Kanna.
Dewi dan Diana segera berteriak meminta tolong dan menggedor pintu, seolah mereka ingin menolong Zahra yang berada di dalam.
"Ada apa?" tanya Kanna dengan kekhawatirannya.
"Ada mahasiswa baru didalam sini, Pak," jelas Dewi.
"Siapa yang melakukannya? Awas!" Dengan sisa tenaga yang dimiliki oleh Kanna, dia berusaha untuk mendobrak pintu menggunakan tubuhnya. Terasa sakit, tetapi Kanna tidak peduli. Yang ada dalam pikiran saat ini adalah kesempatan Zahra. Jika sampai terjadi sesuatu kepada Zahra, Kanna tidak akan melepaskan pelakunya.
"Liona yang melihat pengorbanan Kanna merasa tidak terima jika Kanna lebih mengkhawatirkan mahasiswa baru itu.
"Pak Kanna, anda jangan memaksakan diri. Tubuh anda akan sakit," kata Liona yang tidak tega saat usaha Kanna belum membuahkan hasil.
"Aku tidak peduli! Aku harus segera mengeluarkan Zahra. Siapa yang sudah berani melakukan ini pada Zahra?!"
Liona dan kedua temannya saling bertukar pandangan. Saat ini juga rasa penasaran yang mengganjal di hati mereka terjawab sudah.
"Pak, mending kita minta bantuan pak Satpam," saran Liona.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!"
Kanna menarik panjang napasnya sebelum mendobrak pintunya kembali.
BRAAAKK!!
Mata Kanna langsung tertuju pada tubuh seseorang yang sudah tergeletak dilantai. Kanna segera menghampiri Zahra.
__ADS_1
"Ra, bangun, Ra!" Kanna menepuk pelan pipi Zahra. Namun, tak ada pergerakan dari Zahra. Mata Kanna kembali tertuju pada cairan warna merah yang mengalir di kaki Zahra.
"Darah?" gumam Kanna yang telah memastikan jika itu adalah darah.
Tanpa berpikir panjang, Kanna segera membopong tubuh Zahra untuk keluar dari gudang. Rembesan darah pun membungkam ketiga orang yang sudah mengerjai Zahra. Bahkan tubuh Liona bergemetar saat melihat rembesan warna merah yang tertinggal di lantai.
"Wi, itu kenapa ada darah? Padahal aku hanya mendorongnya pelan," ujar Liona dengan gugup.
"Aku gak tahu, Li."
"Keluar aja yuk!" ajak Diana yang tak kalah takut.
Tak ada pilihan lain, Liona pun mengikuti ajakan Diana keluar. Niat hati hanya ingin memberikan peringatan malah mendapatkan masalah.
"Duh ... moga aja tuh cewek gak kenapa-napa," ucap Dewi yang sudah bercucuran keringat dingin.
Berita tentang Zahra yang mengalami pendarahan menyebar begitu cepat hingga membuat menghebohkan satu kampus. Pasalnya karena sosok Kanna yang membawa Zahra untuk rumah sakit. Bahkan beberapa dosen juga merasa heran dengan Kanna yang begitu sangat mengkhawatirkan Zahra.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, tak hentinya Kanna berdoa agar tidak terjadi sesuatu kepada calon buah hatinya. Kanna tidak tahu lagi apa yang akan terjadi jika sesuatu buruk terjadi kepada Zahra.
"Ra, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit."
"Nak, papa tidak mau terjadi sesuatu kepadamu. Bertahanlah demi mama dan papa, sayang."
Kanna tidak peduli lagi dengan laju mobil yang dia kendarai. Karena saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah, segera bisa sampai di rumah sakit agar Zahra segera mendapatkan penanganan medis.
Sesampainya di rumah sakit, Kanna segera berteriak meminta tolong untuk menangani istrinya. Beruntung saja seorang penjaga keamanan membantu Kanna untuk mengambilkan brangkar.
"Dokter ... suster! Tolong istri saya!" teriak Kanna saat mendorong brangkar menuju kedalam.
Teriakan Kanna mendapatkan perhatian dari seorang dokter dan beberapa suster yang melihatnya. Dengan cepat mereka membawa Zahra ke sebuah ruangan untuk mendapatkan penanganan.
"Maaf, anda tunggu di sini saja kami akan memeriksa istri anda!" cegah seorang dokter.
Kanna tidak bisa berbuat apa-apa. Harapannya hanya satu, anak dan istrinya selamat.
Kanna menyadarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Saat ini pikirannya kacau, bahkan dia sampai tidak terpikir untuk menghubungi orang tuanya.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu dibuka dan seorang dokter menghampiri Kanna.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Kanna dengan cepat.
"Maaf Pak, kami harus segera mengambil tindakan. Anak anda tidak bisa diselamatkan dan kami harus melakukan operasi," kata dokter itu dengan berat.
"Apa? Operasi?!" Kanna terkejut.
"Iya. Istri anda mengalami pendarahan yang hebat sehingga tidak bisa mempertahankan janinnya. Untuk itu kami akan mengambil tindakan operasi untuk pembersihan."
Tubuh Kanna terasa lemas dan luruh ke lantai tak berdaya. Kepalanya terasa berat bahkan bayangan kunang-kunang hampir menutupi penglihatannya. Beruntung ada dokter yang segera membantu Kanna untuk bangkit.
"Pak, anda tidak apa-apa kan?" Tubuh Kanna segera dibawa ke sebuah tempat duduk. "Anda harus kuat. Ini adalah ujian," hibur sang dokter.
Sebuah penantian panjang harus sirna dalam sekejap mata. Bahkan disaat Kanna belum bisa melihat dan menyapanya, dia harus pergi untuk selamanya. Ingin memakai, tetapi Kanna sadar, hidup dan mati adalah milik sang pencipta. Manusia hanya bisa berencana, tetapi kuasa sang pencipta yang menentukan.
Terpuruk dalam kesedihan, tetapi Kanna tetap berdoa untuk kelancaran operasi Zahra. Hatinya hancur seperti tak bersisa. Setelah Deena, kini calon anaknya yang baru meninggalkan mereka untuk selamanya.
Mata Kanna terus tertuju pada sebuah pintu ruang operasi. Sudah satu jam Kanna menunggu pintu itu dibuka. Namun, nyatanya hingga sampai saat ini pintu itu belum juga terbuka.
"Kanna apa yang terjadi?" tanya ibunya dengan panik. Satu jam yang lalu, setelah Zahra masuk ke ruang operasi, Kanna segera memberitahu ibunya. Namun, saat itu karena tidak mengatakan jika Zahra telah kehilangan anaknya.
"Zahra, Bu." lirih dengan mata yang tetap fokus pada pintu ruang operasi.
Mata ibunya pun langsung melihat kemana mata Kanna tertuju. "Katakan, ada apa dengan Ara!"
"Kanna, ada apa?" tanya bapak Kanna yang turut hadir.
"Zahra sedang berada di dalam sana."
Tubuh sang ibu melemas. Beruntung saja sang suami segera menangkap istrinya.
"Jangan bilang kalau Ara kehilangan bayinya!" tebak sang ibu dengan tubuh yang masih bergetar. "Kenapa dia, Kanna? Bukankah Ibu sudah mengatakan kepadamu, agar kamu menjaganya dengan baik?" Isak tangis sang ibu pecah saat mengetahui jika cucu yang telah dinantikan selama bertahun-tahun itu telah pergi. Terasa mimpi, tetapi itulah kenyataannya. Ibu Kanna hanya bisa menumpahkan kesedihannya di atas bahu sang suami. Satu-satunya harapan telah dipatahkan oleh kenyataan.
.
.
__ADS_1
.
Tahu kan mengapa harus tinggalkan komentar? Jawaban biar Authornya bahagia hehehe.