
Air mata Zahra membasahi pipinya. Bahkan salah satu jarinya ada yang bergerak. Itu menandakan jika saat ini Zahra sudah sadar. Sang dokter segera memeriksa keadaan Zahra untuk memastikan lebih lanjut. Tak berapa lama kelopak mata yang tertutup itu perlahan mulai membuka. Samar-samar dia melihat bayangan seseorang yang ada di depannya. Masih terlihat samar-samar karena kesadaran Zahra belum terkumpul semuanya.
"Alhamdulillah," sering seseorang yang ada di depan Zahra.
Suara yang tak asing baginya. Suara yang mampu mengantarkan detak jantungnya. saat mata itu sudah mulai membuka dengan sempurna, Zahra terdiam untuk beberapa saat. Matanya fokus menatap pada seseorang yang tengah menatapnya.
"Apakah ini mimpi?" gumam Zahra dengan pelan.
"Tidak! Kamu tidak mimpi. Kamu sudah terbangun dari mimpi panjang mu."
"Kamu masih hidup, Mas?" tanya Zahra dengan pelan. Saat Zahra belum mendapatkan Sebuah jawaban, tiba-tiba dia diterkejutkan oleh tangisan suara bayi. Mata Zahra langsung mengedarkan kesekitar.
Lagi-lagi dia hanya terdiam menatap bayi mungil yang ada di dalam keranjang bayi. Tangannya meraba ke perut untuk memastikan sesuatu. Saat merasakan perutnya sudah datar dia menatap lagi arah pria yang ada di depannya saat ini.
"Apa yang sudah terjadi kepadaku? Apakah itu anakku?" tanya Zahra dengan heran.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Dia anak kita."
Kanna langsung memberikan sebuah pelukan kepada Zahra yang baru saja tersadar dari komanya. Zahra jatuh koma, setelah dia berhasil melahirkan anak keduanya. Hampir dua bulan Zahra berada di alam bawah sadarnya.
"Kamu beneran masih hidup 'kan, Mas?" tanya Zahra untuk kedua kalinya.
Karena tertawa pelan dan melepaskan pelukannya. Senyuman yang selalu menggetarkan pada Zahra itu terlihat sangat jelas di bibir Kanna.
"Kamu ini ngomong apa sih, Ra? Aku masih hidup, Sayang."
Kanna mende.sah pelan. Mungkin ini adalah salah satu efek dari koma yang menimpa Zahra. Koma selama dua bulan bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin saja di alam bawah sadar sana Zahra menganggap jika Kanna sudah meninggal. Namun pada kenyataannya, Kanna masih hidup.
Saat Kanna masih koma, samar-samar dia mendengar suara tangisan bayi di telinganya. Tangisan yang terus-menerus dia dengar mampu menuntunnya untuk keluar dari alam bawah sadarnya. Namun, saat dia terbangun dari tidur panjangnya, dia mendapatkan jika sang istri mengalami koma pasca melahirkan. Bahkan saat itu dokter juga sudah juga sudah angkat tangan dengan kondisi Zahra yang semakin memburuk. Namun, sebagai seorang suami, Kanna bersikukuh untuk tidak melepaskan alat-alat medis dari tubuh. Kanna masih yakin jika Zahra mampu untuk bertahan.
Kanna tak putus asa untuk terus membersihkan kata semangat untuk Zahra, meskipun Zahra dalam keadaan koma.
__ADS_1
Karena merasa haru, Zahra meneteskan air matanya kembali. Bener-bener sebuah mimpi buruk untuknya. Zahra tidak tahu apa yang harus dilakukan jika semua itu bukan mimpi. Dia tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan seorang suami yang sangat mencintainya dengan ketulusan. Zahra pun menarik tubuh karena untuk dipeluknya.
"Mas ... aku kira kamu beneran meninggalkan aku dan anak kita. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika itu benar terjadi. aku benar-benar tidak sanggup untuk kehilanganmu, Mas." Zahra menangis dalam pelukan Kanna.
Tangan Kanna mengusap pelan rambut Zahra dan menge.cupnya pelan. "Tenang, semua mimpi buruk itu sudah berakhir. Aku ada di sini, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai aku benar-benar bisa membahagiakanmu," ujar Kanna.
.
.
.
selamat selamat selamat selamat ternyata semuanya mimpi buruk 🙈🙈 novel ini tetap lanjut ya guys, karena yang punya kontrakan sedang berbaik hati kepada othor receh ini 🥰 Yuk selagi nunggu bab-bab selanjutnya yang akan membuat hati berbunga-bunga, mampir dulu ya ke novel baru Author, judulnya Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu, mampir ya 🙏🙏
__ADS_1