Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
27 | Kepergianku


__ADS_3

Aku menyerah dan memilih pergi bersama dengan luka dalam hati. Meskipun menikah denganmu bukanlah keinginanku, tetapi aku berusaha untuk menerima dan membuka pintu hatiku untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Namun nyatanya sedikitpun kamu tak pernah menganggap aku ada. Kamu hanya memperalat diriku untuk melahirkan anakmu. Aku ikhlas jika kamu menikahi kekasihmu, tetapi aku tidak akan ikhlas jika harus menyerahkan anak ini kepada kalian. maafkan aku mas Alzam. Aku memilih pergi darimu, karena aku sudah tidak sanggup lagi bertahan. Aku sadar tidak ada yang aku pertahankan dalam pernikahan ini. Maafkan aku telah pergi membawa anak kita. Sampai kapanpun Kamu adalah ayah dari anak yang sedang berkembang dalam rahimku. Terima kasih telah memberikan luka yang mendalam. semoga kedepannya pernikahanmu dengan mbak Aira menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Aku pergi Mas.


^^^~Zahra^^^


****


Aku sengaja meninggalkan sebuah surat untuk Mas Alzam agar dia tidak panik saat melihatku sudah tidak ada di rumahnya lagi. Aku memilih pergi meninggalkannya, karena aku benar-benar sudah tidak sanggup untuk bersama dengannya.


Atas bantuan mas Kanna aku bisa keluar dari belenggu pernikahanku. Meskipun saat ini aku juga belum tahu kemana langkah kakiku ini akan melangkah.


"Gimana kalau sekarang kamu tinggal di rumah saudaraku yang ada di luar kota?" tawar mas Kanna.


Aku mendongak dengan mata yang berkaca-kaca. "Apakah itu tidak akan merepotkan mereka, Mas?" tanyaku untuk memastikan.


"Tenang saja, mereka baik semua. Nanti kalau aku libur kuliah aku akan jenguk kamu. Kamu yang kuat ya," hibur mas Kanna.


Tak bisa lagi ku bendung air mataku. Aku benar-benar merasa bersyukur saat mas Kanna begitu tulus untuk membantuku.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang ya," katanya.


Aku hanya mengangguk pelan. "Iya Mas. Makasih banyak ya udah mau membantuku."


Mas Kanna hanya mengangguk pelan dan menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Ternyata tempat yang dituju lumayan jauh. Bahkan aku sampai tertidur di mobil. Setelah ku buka mata, ternyata mobil mas Kanna sudah berhenti di depan sebuah villa. Ternyata mas Kanna membawaku ke Villa.

__ADS_1


Namun, saat aku menoleh tak ada mas Kanna di sampingku. Aku merasa panik dan takut. Pikiranku pun menjadi kacau. Aku takut jika mas Kanna sengaja meninggalkanku di tempat ini. Namun, detik kemudian aku melihat mas Kanna dari kaca spion. Dia sedang berbicara dengan seseorang.


Segera ku lepas stafety belt dan langsung menghampiri mas Kanna.


"Nah, ini orangnya pak Dhe," kata mas Kanna menunjuk ke arahku.


Aku menundukkan kepalaku sambil memberikan salam kepada lelaki yang dipanggil pak Dhe oleh mas Kanna.


"Oalah ini toh, cantik ya," ucap pak Dhe dengan menyambut tanganku.


"Zahra," kataku pada pak Dhe.


"Iya, pak Dhe sudah tahu. Panggil saja aku pak Dhe. Ya udah ayo masuk. Kalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh ini," kata pak Dhe yang sudah menyeret koperku.


"Mas Kanna bohong! Mas Kanna bilang ingin membawaku ke tempat saudara mas Kanna, tetapi mengapa malah membawa aku ke Villa?" tanya aku langsung padanya.


"Aku tidak bohong, Ra. Meskipun ini adalah Villa milik keluargaku, tetapi yang menunggu adalah saudaraku," balas mas Kanna dengan santai. "Sudahlah gak usah kamu pikirkan. Ayo masuk," lanjut mas Kanna lagi.


Aku mengikuti langkah Mas Kanna untuk masuk ke dalam Villanya. Baru saja kakiku melangkah ke dalam, seorang wanita paruh baya menghampiriku.


"Wah, ternyata kedatangan tamu agung," sambutnya dengan senyum yang memerkah.


Kembali ku ulurkan tanganku untuk menyalaminya. "Zahra," kataku ramah.


"Panggil aja Bu Dhe. Bu Dhe juga sudah menyiapkan wedang jahe untuk kalian."

__ADS_1


Tanganku di tarik untuk mengikuti langkah Bu Dhe ke sebuah sofa. "Pak, bawa sini wedangnya!" teriak mbok Dhe.


"Bu Dhe sangat terkejut saat Kanna mengatakan ingin kesini. Bagaimana keadaan bapak sama ibu kamu, Le," tanya Bu Dhe pada mas Kanna.


"Alhamdulillah mereka sehat semua Dhe," balas mas Kanna singkat.


Aku merasa sangat bersyukur saat ditemukan oleh orang-orang baik seperti mas Kanna dan keluarganya.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuan yang mas Kanna berikan. Tanpa mas Kanna, aku gak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi," ucapku dengan kesungguhan hati.


"Selagi aku bisa membantu, aku pasti akan membantu mu, Ra. Tapi, berjanjilah padaku jika kamu tidak akan pernah kembali lagi kepada suami breng*sek* seperti Alzam."


Aku yang sudah menyerah hanya bisa mengangguk pelan. "Aku janji," kataku dengan mantap.


Saat ini aku memang harus melupakan semua kenangan yang menyakitkan, meskipun terasa sulit. Menutup luka itu tak segampang seperti menutup pintu. Aku percaya jika aku bisa melewati semua ini.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terimakasih atas kesetiaan dan dukungan kalian semua. Terima kasih juga yang udah memberikan VOTE, bunga dan kopinya untuk novel ini. Mulai bab selanjutnya, novel ini akan berpindah menjadi POV Author, dimana Author bisa leluasa untuk bercerita wkwkw

__ADS_1


__ADS_2