
Saat ini keberadaan nenek Rose memang sudah ditemukan, tetapi wanita tua itu masih enggan memberitahu dimana Alzam pernah melakukan pengobatannya. Orang-orang yang Kanna suruh tidak berani melakukan pemaksaan kepada wanita tua itu
"Ada apa, Mas?" tanya Zahra yang melihat wajah Kanna sedikit lesu.
"Nenek Rose tidak mau memberitahu dimana Alzam melakukan pengobatan saat itu, kecuali kamu yang meminta padanya," ucap Kanna.
Zahra yang mendengar langsung menautkan kedua alisnya. "Kenapa harus aku, Mas? Apa hubungannya denganku?"
Kanna menyendikkan bahunya. "Aku juga tidak tahu."
Zahra menggelengkan kepalanya. Mengapa harus dirinya yang meminta pada nenek Rose? Ia pun terdiam untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya Kanna menyentuh bahunya dan berkata. "Kamu jangan khawatir kita akan datang untuk memohon padanya.
"Maksud Mas Kanna?"
"Lusa kita akan temui nenek Rose. Kita akan terbang ke Paris karena besok aku harus menemui Arya terlebih dahulu."
Zahra tak habis pikir jika Kanna akan mengorbankan hidupnya untuk orang lain. Betapa beruntungnya Zahra memiliki Kanna. Pria yang sangat bertanggung jawab kepada keluarga.
"Makasih ya, Mas." Zahra terharu, kemudian memberikan sebuah pelukan hangat kepada Kanna.
🥕🥕🥕
Sudah ada satu Minggu lebih Melani terus berada disamping Alzam setiap malamnya. Bahkan di sepertiga malam Melani selalu memanjatkan doa untuk kesembuhan Alzam. Melani yakin bahwa penyakit yang diderita oleh Alzam saat ini pasti ada penawarnya.
Menjaga Alzam sendirian setiap malam membuat Melani juga kurang tidur. Padahal dokter sudah menyarankan agar Melani pulang dan beristirahat di rumah. Namun, perempuan itu menolak. Ia takut sewaktu-waktu Alzam tersadar dari komanya dan tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Maka dari itu Melani memilih untuk terus menemani Alzam. Bahkan ia hanya tidur beberapa jam saja, dan akan kembali terjaga untuk menunggu suaminya siuman.
Pagi ini setelah cuci muka, Melani merasa sangat mual. Ia pun mulai mengkhawatirkan dirinya yang akan jatuh sakit karena kurangnya waktu beristirahat.
"Tidak. Aku tidak boleh sakit. Jika aku sakit siapa yang akan menunggu Mas Alzam?"
Melani yang baru saja keluar dari kamar mandi ingin keluar mencari obat. Namun, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah pergerakan dari jari Alzam. Saat didekati, mata Alzam pun perlahan mulai terbuka.
Melani menutup mulutnya tak percaya. Setelah tak sadarkan diri selama satu minggu, pagi ini sebuah keajaiban datang padanya. Alzam membuka mata dan terbangun dari komanya.
__ADS_1
"Mas, kamu sadar?" tanya Melani tidak percaya.
Melani yang merasa sangat bahagia hampir melupakan jika ia harus memberitahu dokter jika saat ini Alzam sudah sadar. Dengan cepat Melani berlari ke depan dan berteriak memanggil dokter.
"Dokter ... suamiku sudah sadar," teriak Melani.
Tak berapa lama, Melani datang dengan seorang dokter untuk mengecek bagaimana keadaan Alzam. Sebuah keajaiban jika Alzam bisa sadar dalam waktu dekat.
"Alhamdulillah kamu udah sadar, Mas. aku kasih tahu Mbak Zahra dulu, ya." Melani segera merogoh ponselnya untuk menghubungi Zahra. Ia ingin menyampaikan kabar bahagia karena Alzam sudah siuman.
Raut wajah bahagia itu tak bisa di disembunyikan. Melani terus mengucap kata syukur atas Alzam yang telah terbangun dari komanya. Meskipun saat ini, Alzam tak bisa banyak berbicara, tetapi setidaknya Alzam telah sadar.
Kabar tentang Alzam yang siuman juga telah sampai di telinga Kanna. Namun karena saat ini ia akan menemui Arya, maka Kanna tak bisa untuk menjenguk Alzam secepatnya. Ia harus segera menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Naura dan juga Arya.
Sebenarnya Kanna merasa penasaran dengan Arya. Nama yang begitu familiar untuknya. Jika betul Arya yang dimaksud adalah Arya rivalnya semasa kuliah, maka Kanna memastikan akan memotong burung Arya agar tak bisa menjelajah lagi. Bisa-bisanya sudah berbuat tetapi tidak mau bertanggung jawab.
Sesampainya di sebuah apartemen yang telah disebutkan oleh Naura, Kanna segera mencari kamar milik Arya. Sepanjang perjalanan ia terus menduga-duga apakah Arya yang dimaksud adalah musuh bebuyutannya saat mereka kuliah dulu atau bukan.
Hanya satu ketukan saja sang pemilik kamar apartemen langsung membuka pintu. Tak ada sedikitpun keterkejutan yang di wajah Kanna saat melihat Arya membuka pintu.
Satu pukulan langsung menghantam wajah Arya hingga membuat bibirnya pecah. Saat hendak melayangkan sebuah pukulan lagi tangannya langsung ditahan oleh Arya.
"Heii ada apa? Kenapa kamu menghajarku?" tanya Arya heran.
"Karena kamu pantas untuk mendapatkannya!"
"Apa maksud kamu, Kanna?"
Tanpa basa-basi lagi, Kanna segera menjelaskan apa maksud dan tujuannya menghajarnya.
"Apa? Jadi wanita itu adalah adik iparmu? Apakah kamu tidak menanyakan uang yang telah aku berikan kepadanya untuk ganti rugi? Aku sudah memberikan uang untuk menggugurkan bayi itu. Lalu untuk apa kamu datang ke sini menuntutku untuk bertanggung jawab, sementara aku sudah memberikannya ganti rugi."
Satu pukulan lagi menghantam wajah Arya. Duda itu hanya memejamkan matanya saat mendapatkan pukulan lagi dari Kanna.
__ADS_1
"Kamu pikir apa yang kamu lakukan itu sudah benar? Aku tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan kepada Naura. Jika tidak, aku akan mengatakan kepada publik jika kamu telah menghamili seorang wanita dan tidak mau bertanggung jawab. Bahkan telah memberikan sejumlah uang untuk menggugurkan kandungannya. Aku yakin dalam hitungan jam, nasib perusahaanmu akan hancur!" ancam Kanna.
Untuk kali ini Arya tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak mungkin membiarkan nasib perusahaannya hancur begitu saja. Perusahaan yang dirintis dengan jerih payah dan keringatnya tidak mungkin hancur sekejap mata.
"Bagaimana aku bisa menikahinya sementara aku tidak mencintainya. Jika hanya ingin memberikan sebuah pengakuan untuk bayi yang dikandung oleh Naura, aku bisa mencarikan penggantiku untuk menikah dengannya," kata Arya dengan santai.
"Bukan masalah pengakuan, tetapi masalah tanggung jawab. Anak yang sedang dikandung oleh Naura itu adalah darah dagingmu sendiri. Apakah kamu akan tega melihat darah daging yang selama ini kamu inginkan kamu bunuh begitu saja? Aku tahu kenapa pernikahanmu bisa gagal, itu karena istrimu tidak bisa hamil, bukan begitu? Baiklah jika kamu memang tidak mau bertanggung jawab aku akan memberitahu masalah ini kepada keluargamu agar mereka yang memberikan pencerahan untukmu!" geram Kanna saat Arya bersikeras enggan untuk bertanggung jawab.
Akhirnya satu masalah telah Kanna selesaikan. Hanya tinggal menunggu hari saja keputusan apa yang akan dibuat oleh Arya. Kanna yakin jika Arya pasti akan menikahi Naura, meskipun dengan sangat terpaksa.
Karena tubuh yang telah lelah, Kanna memutuskan untuk langsung pulang. sepertinya beberapa hari ini ia terlalu memaksakan diri.
Sesampainya di rumah iya langsung disambut oleh Deena, penawar lelahnya. Bocah yang sudah menginjak 5 tahun itu segera menghambur ke dalam pelukan Kanna.
"Papa kenapa lama sekali pulangnya? Deena sudah menyiapkan sesuatu untuk papa," celoteh Deena.
Alis Kanna menaut. "Apa itu?"
"Kata mama itu rahasia. Tapi berhubung mama belum pulang, Deena mau tunjukkan sesuatu itu kepada Papa. Ayo ikut!" Tangan Deena telah menggeret Kanna untuk segera masuk.
Sesampainya di sebuah kamar, Kanna hanya tersenyum saat melihat kamarnya telah di dekorasi. Bahkan dihiasi dengan balon layaknya untuk acara ulang tahun.
"Kata mama hari ini Papa ulang tahun. Mama telah menyiapkan sesuatu untuk Papa. Tadi Mama berpesan kepada Deena jika Papa pulang, Papa tidak boleh masuk kamar. Tapi karena Deena sayang sama Papa, Deena kasih tahu bocorannya," celoteh Deena dengan dengan menggemaskan.
"Kamu memang bisa diandalkan. Terima kasih, Sayang. Kalau begitu, mari kita berikan kejutan untuk mama juga," ajak Kanna pada Deena yang langsung mendapatkan sebuah anggukan kecil.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
Selagi menunggu novel ini update kembali, mampir dulu yuk ke Novel temen aku, judulnya KHAN, KAMULAH JODOHKU mampir ya