
Zahra
Hatiku sudah sangat gelisah saat menunggu kedatangan mas Alzam, karena saat ini rombongan pak Ketua RT datang lagi ke rumah. Aku meminta sedikit waktu mereka untuk bersabar, karena mas Alzam masih dalam perjalanan. Dan saat genting seperti mbak Hani pun juga sedang pergi.
"Sudah jelas kan Pak kalau wanita ini adalah wanita simpanan," teriak ibu-ibu yang mengaku sebagai ketua PKK tempo hari.
"Tunggu apalagi, bawa wanita ini keluar dari kompleks ini, Pak! Sebelum para warga yang akan mengusirnya," imbuhnya lagi.
Entah salah apa yang sudah ku perbuat pada ibu itu sehingga dia sangat membenciku luar biasa. Padahal selama aku tinggal disini tak pernah keluar rumah selain hanya jalan pagi dan sore.
"Pak, Bu. Tolong beri sedikit waktu lagi. Suami saya sedang dalam perjalanan," pintaku dengan penuh mengiba.
"Halah, dia hanya alasan, Pak."
Aku hanya bisa mengelus dada agar tetap diberikan kesabaran saat menghadapi ibu-ibu yang sangat keras.
"Sudah setengah jam kami menunggu, tapi suami mbak Zahra tak kunjung datang. Dengan berat hati saya harus membawa mbak Zahra ke kantor," ujar pak ketua RT.
__ADS_1
Aku mencoba untuk memberontak agar mereka tak membawaku pergi. Namun, nyatanya mereka tetap memaksaku dengan paksa. Bahkan ibu-ibu yang mengaku sebagai ketua PKK dengan bersemangat menggiringku untuk ke kantor pengaduan warga.
"Kamu ini cantik, masih muda lagi. Tapi mengapa mau dijadikan wanita simpanan sih? Sebagai seorang perempuan seharusnya kamu itu punya hati. Kamu gak mikirin perasaan istri sahnya jika suaminya kamu ambil? Sakit sampai ulu hati," jelas ibu-ib yang tak kutahu siapa namanya, yang jelas dia adalah ketua ibu-ibu PKK.
"Namanya juga pelakor Bu, mana pandang bulu yang penting barangnya."
"Barang kalau gak berlebel halal ya sama aja, Bu. Barang haram."
Begitu pandangan mereka kepadaku. Hanya karena aku belum menunjukkan buku nikah dan juga belum mengurus kartu keluarga, mereka dengan seenak jidatnya menuduhku sebagai wanita simpanan.
Aku hanya bisa pasrah saat mendapatkan kata-kata kasar dari mereka. Tak ada harapan lagi mengharapkan kedatangan mas Alzam karena nyatanya sampai sekarang dia tak menunjukkan batang hidungnya. Aku sudah bisa menebak jika saat ini mas Alzam sedang bersenang-senang bersama Aira.
"Jadi ini wanita yang sudah mengotori kompleks kita. Gak nyangka kalau masih bau kencur," kata sambutan yang membuat telingaku panas.
Sesampainya di gedung serbaguna, aku dibawa masuk lagi kedalam sebuah ruangan. Di sana juga sudah ada yang menantiku dengan tatapan tajam
"Mana suaminya?"
__ADS_1
"Belum datang. Mungkin malu karena ketahuan berbohong Pak," jawab ibu ketua PKK.
"Jadi bagaimana, apakah sudah bisa kita lakukan interogasinya."
"Silakan, Pak."
Lumayan banyak orang yang ada di ruangan tertutup ini, bahkan aku juga melihat seorang ustadz juga turut hadir dalam persidanganku siang ini.
"Berhubung kalian adalah pendatang baru yang belum menyerahkan data kalian kepada ketua RT saya ingin bertanya, apakah mbak Zahra dan mas Alzam benar-benar sudah menikah atau hanya sekedar rumah singgah saja untuk mas Alzam?" Pertanyaan pertama yang layangkan kepadaku.
"Sebelumnya kami minta maaf jika kehadiran kami di kompleks ini belum meminta izin apapun menyerahkan data-data kami. Kami memang belum sempat membuat kartu keluarga, tetapi kami sudah resmi menikah," jelasku dengan rasa gugup.
"Halah, bohong Pak!" sahut ibu ketua PKK yang terus saja menyudutkan diriku.
"Harap tenang dulu Bu Halimah. Serahkan semuanya ada pak Budi," tegur pak ketua RT.
"Kalau dia tidak mau jujur, mending kita arak saja! Memalukan warga komplek kita," protes bu Halimah, selaku ketua PKK
__ADS_1
Kepalaku sudah berdenyut. Selain menghadapi interogasi berikutnya. Aku juga lelah menunggu kedatangan Mas Alzam..
"Kalau satu jam lagi tak ada tanda-tanda suami datang, jangan salahkan kami jika warga akan sangat marah."