Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
91 | Hari Yang Baru


__ADS_3

Mentari menyingsing di ufuk timur, mengusir gelapnya malam. Kicauan burung bersahutan begitu merdu, membangunkan sepasang insan yang masih terlelap dalam mimpinya. Siang dijadikan malam, malam dijadikan siang. Begitu yang dialami oleh Zahra setelah keluar dari rumah sakit.


Mempunyai anak bayi, memang menguji kesabaran. Bagaimana tidak, dia akan tidur sepanjang harinya dan akan bangun sepanjang malam.


Rasanya baru saja terlelap dalam lelapnya, kini Zahra harus bangun lagi karena tangisan sang bayi. Sudah biasa jika pagi-pagi pasti bayinya akan menangis untuk diganti pokoknya.


"Mas, bangun. Udah siang," kata Zahra sambil menggoncangkan tubuh suaminya.


Kanna mengerjakan. Jika dulu bangun tidur dia akan langsung memeluk tubuh istrinya, tetapi kali ini pelukan itu beralih kepada bayi mungil yang berada di tengah-tengah mereka. Bayi laki-laki yang melengkapi keluarga kecilnya.


"Morning, Sayang," sapa Kanna pada sang bayi sambil mencium pipinya.


Saat ini hidupkanlah terasa lebih berwarna


dengan hadirnya seorang bayi mungil di tengah-tengah keluarga kecilnya. Namun, bukan berarti mereka juga melupakan Deena yang sampai saat ini belum pulang ke Indonesia.


Saat ini keadaan Deena juga sudah membaik. Bahkan dia juga sudah sadar. Namun, karena mengalami luka yang serius, akhirnya Alzam memutuskan untuk tidak membawa denah pulang ke Indonesia sebelum Deena sembuh total. Kanna dan Zahra tidak merasa keberatan asalkan itu demi keselamatan Deena.


"Pagi juga, Sayang." Satu kecu.pan juga mendarat ke kepala Zahra sebelum Kana bangkit dari tempat tidurnya.


"Mandi sana biar aku yang menunggu baby boy-nya, sebelum berangkat kerja," ujar Kanna saat melihat Zahra merebahkan lagi tubuhnya ke tempat tidur.


"Bentar dulu, Mas. Masih ngantuk berat," ucap Zahra dengan mata yang dipejamkan lagi.


"Aku tahu kamu pasti ngantuk berat, coba bawa mandi dulu habis itu sarapan, pasti ngantuknya langsung hilang. Nggak bagus untuk kesehatan kalau pagi-pagi tidur lagi."


Zahra menatap malas ke arah Kanna. Ini memang bukan kali pertama Zahra memiliki bayi. Namun, bayinya yang sekarang sepertinya memang menguji kesabarannya. Hampir satu malam bayi itu mengajaknya untuk bergadang.


"Iya aku mandi," ujar Zahra dengan rasa malas.


"Apakah harus aku yang memandikan agar kamu bersemangat?" tanya Kanna sambil menaikkan kedua alisnya.


"Kalau kamu yang mandikan itu lain ceritanya, Mas. Yang ada kamu gak jadi berangkat ke kampus."

__ADS_1


Kanna tertawa pelan mendengarkan jawaban dari sang istri. Padahal dia hanya sekedar bercanda saja. "Tapi sepertinya hari ini aku nggak ada jadwal deh. Aku mandikan ya."


Zahra bergidig geli kemudian bergegas untuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Setelah pasca melahirkan dan Kanna sudah bisa buka puasa, pria itu akan memintanya kapan saja tanpa tahu waktu, asalkan bayi mereka sudah aman.


Saat ini ibu Kanna juga tinggal bersama dengan dengan mereka. Selain untuk membantu mengurus baby boy, karena tak membiarkan ibunya menghabiskan masa tuanya sendirian. Karena saat ini hanya dirinyalah yang dimiliki setelah semua menghadap sang Pencipta.


Setelah selesai mandi, kini giliran Kanna untuk mandi. Untuk hari ini Kanna tak meminta jatahnya, karena dia tahu jika Zahra kelelahan untuk menjaga baby boy-nya sepanjang malam.


"Mas, sekarang hari apa?" tanya Zahra pura-pura tidak tahu.


"Kalau jadi, sekarang hari Selasa. memangnya kenapa?"


"Tanggal berapa?"


"Kalau jadi tanggal 1, kenapa?"


Lagi-lagi Kanna tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Zahra. Padahal Zahra hanya ingin mengingatkan hari ini adalah tepat lima tahun keduanya menyandang status sebagai suami istri. Namun, sepertinya Kanna sama sekali tak mengingatnya.


Karena langsung mengernyit saat melihat ekspresi Zahra yang telah berbeda. hanya dalam hitungan detik saja, seorang wanita bisa berubah 180 derajat.


"Kok gitu? Kamu kenapa? Jangan-jangan lagi datang bulan ya? Aduh ... mana tadi belum minta jatah lagi," ucap Kanna sambil menepuk jidatnya.


Zahra hanya bisa menggelengkan kepala ketika saat ini pikiran Kanna mendadak menjadi mesum.


Baru saja keduanya keluar dari kamar, Ibu Kana langsung menyambut keduanya. Bahkan wajahnya terlihat sangat berseri saat melihat rambut Zahra yang masih basah.


"Kalian pasti sudah lapar kan? Ibu sama Mbak Ida sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Ayo sarapan dulu biar tenaganya pulih!"


Kanna dan Zahra segera mengikuti langkah sang Ibu ke meja makan. Namun, sebelum mereka makan, Ibu Kana memerintahkan Mbak Ida untuk menjaga baby boy.


Kanna merasa lega ketika sang Ibu sudah tidak larut dalam kesedihannya lagi. Dia mencoba untuk membangkitkan semangat ibunya lagi dengan cara mengajak tinggal di rumahnya. Dengan begitu semua kesedihan akan hilang.


"Na, nanti kalau bisa jangan pulang malam ya. Tunda semua kelas malam," pinta ibunya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Bu?"


"Udah nurut aja! Awas aja sampai kamu nggak dengerin kata ibu, ibu suruh kamu tidur di ruang tamu!" ancam ibunya.


"Iya ... iya, Bu. Kanna usahakan akan pulang cepat."


🍂🍂🍂


Tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan anaknya. Terlebih berpisah jauh untuk waktu yang lama. Bagi Zahra 4 bulan itu sudah sangat lama. Namun, meskipun berpisah jauh keduanya masih saling berkomunikasi. bukan Zahra saja yang merasa rindu, tetapi Dina juga merindukan sang mama. Terlebih saat ini adik yang dipesannya sudah jadi. Ingin rasanya Deena pulang, tetapi Deena masih tetap harus menjalankan pengobatannya agar cepat sembuh.


Setiap kali selesai melakukan video call bersama dengan Deena, Zahra tak kuasa untuk menahan air matanya. Rasa rindunya sangat menggebu. Bahkan Zahra tidak bisa berada disamping Deena saat sang anak membutuhkannya.


"Ra, Ibu tahu bagaimana rasanya jauh dari anak. Pasti sangat sulit untuk merasa tenang, terlebih dia berada di negeri orang," kata Ibu mertuanya saat melihat Zahra menangis seorang diri di dalam kamar. Beruntung saja baby boy mereka tidak terusik oleh isak tangis mamanya.


"Iya, Bu. Ara tahu."


"Semoga Deena segera pulih dan kembali bersama dengan dengan kita. Tapi ... perasaan ibu tidak yakin Alzam akan membawa Deena pulang."


Zahra menyeka air matanya, sejenak dia menatap Ibu mertuanya. "Mengapa Ibu bisa berbicara seperti itu?"


"Ibu juga tidak tahu. Mungkin itu hanya sebuah kekhawatiran Ibu saja. Sudahlah tidak usah kamu pikirkan. Semoga Alzam memang benar-benar sudah berubah," ucap mertuanya.


Bukan Zahra jika tidak langsung memikirkan kekhawatiran Ibu mertuanya. Bisa jadi itu memang sebuah firasat. Namun, Zahra berharap jika Alzam benar-bener sudah insaf. Jika sampai Alzam masih memiliki pikiran kotornya, bisa dipastikan Zahra tidak bisa bertemu lagi dengan Deena.


'Semoga saja Mas Azzam tidak memiliki niat buruk lagi. Ya Allah Engkaulah yang maha membolak-balikkan hati setiap manusia. Jika akubisa meminta, aku ingin mas Alzam berada dijalan yang benar'


.


.


.


Bagaimana? Mau dibawa kemana cerita ini? 🙄

__ADS_1


__ADS_2