Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
24 | Pengakuan Mas Alzam


__ADS_3

Aku sudah yakin jika mas Alzam sudah lupa dengan janjinya. Buktinya saja sampai saat ini belum juga datang. Aku hanya pasrah ketika mendapatkan cemoohan dari warga yang hadir. Air mataku menetes saat tubuh ditarik paksa oleh seseorang untuk meninggalkan kompleks ini.


"Dasar wanita murahan! Pergi dari kompleks ini!" teriak salah satu diantara mereka.


"Huuuuu." sorak beberapa orang yang terdengar keras.


Pak RT tak bisa membantuku karena kesempatan yang diberikan untuk telah habis. Mas Alzam tak kunjung datang.


Langkah kami semua tertahan saat melihat sosok yang sedang menghadang.


"Hentikan!" teriaknya.


Semua mata tertuju pada Mas Alzam yang baru saja tiba. Kulihat ada mbak Hani dibelakangnya yang segera berlari ke arahku.


"Kamu gak papa?" tanyanya.


Ku gelengankan pelan kepalaku sebagai isyarat dari jawabanku.


"Maaf, saya terlambat karena saya harus membawa seorang saksi atas pernikahan kami," ujar mas Alzam.


"Hanya seorang saksi tidak akan memperkuat bukti bahwa kalian telah menikah. Bisa saja saksi itu sudah menerima amplop sehingga dia akan membela kalian," kata Bu Hamidah dengan sinis.


Aku hanya bisa mengelus dada seraya beristighfar. Entah mengapa dia berusaha untuk menjadi provokator.


"Untuk pak Ketua RT beserta jajaran yang ada di lingkungan kompleks ini, saya mengucapkan beribu maaf karena tidak permisi saat kami masuk ke dalam kompleks ini. Terlebih kami tidak memberikan data-data kami kepada pak Ketua RT setempat. saya dan Zahra sudah menikah sah secara agama dan negara. Tetapi kami memang belum sempat untuk mengurus kartu keluarga. sebagai bukti jika kami telah menikah, ini adalah nikah kami dan ini mbak Hani, salah yang menjadi saksi bahwa kami telah menikah," jelas mas Alzam panjang lebar.


Aku tak percaya jika masalah yang akan datang, meskipun sebenarnya sudah terlambat. Namun setidaknya kedatangan mas Alzam mampu membungkam mulut orang-orang yang sempat menyudutkan ku.


Pak RT dan beberapa orang membaca dengan teliti buku nikah yang diberikan oleh mas Alzam. Bahkan mereka juga meminta KTP kami lagi.


Kulihat mereka saling berbisik dan memberikan angkutan kecil. Namun, tidak dengan ibu Hamidah yang masih saja menatapku dengan sinis.


"Ini memang buku pernikahan yang asli. Semua data-datanya pun juga sama. Maafkan kami yang terlalu gegabah untuk mengambil keputusan," ujar pak ketua RT.


"Semua ini adalah salah saya karena saya tidak permisi kepada pengurus setempat, terlebih kami juga belum sempat untuk mengurus kartu keluarga kami," timpal mas Alzam.

__ADS_1


Akhirnya Pak ketua RT dan beberapa orang menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepadaku. Namun, tidak dengan ibu Hamidah yang langsung menolong pergi meninggalkan kami semua.


"Setelah ini silakan kalian mengurus kartu keluarga karena itu adalah dokumen yang paling penting," pesan Pak ketua RT.


***


Jika cinta bisa datang kapan saja, aku ingin saat ini cintaku datang dan membawaku pergi untuk berlayar, meninggalkan beban di pundakku. Rasa sakit yang semakin dalam, membuatku terus merintih kesakitan, meskipun sudah dibalut dengan kata maaf.


Sesampainya di rumah, Mas Alzam meminta maaf karena datang terlambat. Aku terkejut saat melihat beberapa pasang pakaian kerja mas Alzam sudah berada di lemariku. Apakah mas Alzam ingin menginap lagi? Lalu bagaimana dengan mbak Aira?


"Han, untuk beberapa hari ke depan aku memberikanmu libur. Kamu bisa kembali saat aku mengabarimu."


Aku mengernyit saat mendengar ucapan mas Alzam pada mbak Hani.


"Kamu pecat mbak Hani, Mas?" tanyaku langsung.


Mas Alzam pun kemudian menoleh ke arahku. "Siapa yang memecat Hani? aku hanya memintanya untuk berlibur beberapa hari saja."


"Maksud mas Alzam?" tanyaku heran


Lalu juga Mbak Hani diliburkan, siapa yang akan menemaniku di sini?


Mas Alzam hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menyunggingkan senyum dibibirnyanya.


"Mas Alzam punya rencana apa lagi?" tuduhku pada pria yang tak bisa dipercaya ucapannya ini.


"Aku ingin tinggal disini untuk beberapa hari kedepan. Lagian aku juga sudah pernah mengatakan bahwa aku akan bersikap adil pada kalian berdua, terlebih saat ini kamu sedang hamil. Aku ingin berada disampingmu, Ra," ucap Mas Alzam sambil menatap mataku.


"Maaf jika selama ini aku sudah mengabaikanmu. Bisakah kamu memaafkanku atas luka yang telah kuberikan? Aku sadar kesalahanku tak pantas untuk dimaafkan. Tapi setidaknya beri aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku," lanjut mas Alzam lagi.


Tubuhku masih aku tidak tahu apakah yang dia ucapkan itu tulus dari hatinya atau sekedar rayuan belaka.


Rasa sakit yang dia goreskan begitu dalam sehingga kata maaf pun tak akan bisa membalut luka dalam hatiku.


Aku tersenyum getir sambil melihat tatapan mata Mas Alzam. Sudah cukup luka yang dia berikan, untukku. Aku lebih baik membalut lukaku sendiri daripada aku harus memaafkan pria yang tidak bisa bertanggung jawab seperti Mas Alzam.

__ADS_1


"Aku salut dengan pengakuan dan permintaan maafmu, Mas. Tapi luka yang telah kamu berikan kepadaku itu terlalu dalam bahkan sulit untuk aku sembuhkan. Kamu sudah menghancurkan semua impianku, bahkan kamu juga telah menghancurkan hidupku. Aku tidak butuh kata maaf darimu," ucapku dengan ketus.


Segera ku tinggal Mas Alzam yang masih membeku ditempatnya. Untuk apa orang seperti Mas Alzam harus dikasihani? Bisa saja ini hanyalah trik agar aku bisa luluh kepada dirinya.


"Ra, tunggu!" teriaknya Untuk menghentikan langkahku.


"Ra, aku serius dengan ucapanku. Aku menyesal telah menyia-nyiakanmu. Bisakah kita memulai hubungan kita dari nol?"


Aku semakin tersenyum getir ketika mendengar pengakuan mas Alzam yang begitu meyakinkan.


"Sudah lama, Mas. Simpan saja kata-katamu, aku tidak membutuhkannya. Aku tahu apa yang kamu inginkan aku juga tahu jika saat ini kamu sedang bertengkar dengan mbak Aira makanya kamu pulang ke sini."


"Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan kelakuanku. Yang jelas aku bersungguh-sungguh mengatakan kebenaran ini kepadamu," kata mas Alzam yang masih berusaha untuk meyakinkanku.


"Atas dasar apa aku harus mempercayaimu, Mas. Sementara lidahmu terlalu licin. jika kamu memang merasa menyesal dan bersungguh-sungguh ingin memulai hubungan ini dari nol, maka buktikan! Aku tidak butuh janji tapi aku butuh bukti!" ancamku dengan tubuh yang bergemetar.


"Katakan bukti apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanmu?"


Jantungku sangat berdebar. Antara percaya dan tidak. Sebenarnya aku hanya ingin mengetesnya saja tetapi mungkin pacar aku ini salah.


"Ra, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kepadaku?" tanyanya lagi.


Aku berusaha untuk tenang meskipun sebenarnya tubuhku sudah terasa bergetar, bahkan jantungku terus berdetak dengan kencang.


"Ceraikan mbak Aira, jika kamu benar-benar ingin memulai hubungan kita dari nol. Namun jika kamu tidak bisa, aku anggap penyesalanmu itu hanya sebuah topeng," ucapku datar.


.


.


.


BERSAMBUNG


HALO SELAMAT SORE. terima kasih yang masih setia dengan novel ini. Novel ini sedang membutuhkan dukungan dari kalian semua jika berkenan mohon tinggalkan like comment dan vote. Jika tidak memiliki poin kalian boleh memberikan dukungan berupa menonton iklan untuk tetap bisa mendukung novel ini.

__ADS_1



Oh iya beberapa hari terakhir ini ada beberapa komentar yang dihapus otomatis oleh sistem. Yang kontrakan itu lagi sensitif, kata2 kasar akan langsung dihapus otomatis ya, termasuk juga kata bre* ng* se* k. Aku tahu kalian hanya ingin mengungkapkan kekesalan kalian, tapi begitu yang punya Kontrakan terlalu sensitif ☺️


__ADS_2