
"Kamu siapa?" tanya Melani.
Mouza mengernyit saat Melanin tak mengenali dirinya. Baru saja berpisah selama satu tahun, Melani sudah melupakan dirinya.
"Kamu Melani 'kan?" ulang Zahra lagi.
Melani mengangguk karena memang itu adalah namanya. Namun, dia tidak tahu siapa perempuan yang ada di depannya saat ini.
"Iya aku Melani. Mengapa kamu bisa mengenaliku?" tanyanya.
Zahra menyunggingkan senyum di bibirnya. meskipun Melani tak mengenalnya tak lantas membuat Zahra merasa kecewa. Mungkin saja telah terjadi sesuatu dengan Melani sehingga dia tidak mengenalinya.
"Kamu gak ingat aku? Aku Ara," ucap Zahra.
Seketika Melani melihat Zahra dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya tanpa terlewatkan sama sekali. Saat menatap wajahnya, Melani berpikir untuk sejenak. Dia tidak menyangka jika arah yang sangat dikenalnya berubah begitu drastis. Bahkan wajahnya yang semakin glowing membuatnya tak bisa mengenali siapa dia.
"Maksud kamu Zahra anaknya bu Jubaidah?" tanya Melani untuk memastikan.
Zahra segera menganggukan kepala karena memang itu adalah nama ibunya. "Iya. Itu ibu aku," ucapnya.
Melani tak menyangka jika dia akan bertemu dengan kakak tirinya yang pernah dinikahkan dengan pria kaya sebagai penebus hutang keluarganya.
"Mbak Ara ... " Bibir Melani bergetar saat menyebut nama kakaknya.
Begitu juga dengan Zahra yang tak bisa membendung lagi air matanya. Dengan rasa haru keduanya saling berpelukan untuk menambahkan rasa rindunya. Namun, karena saat ini Zahra sedang menggendong Kala, bocah itu semakin merontak saat tubuhnya terhimpit oleh dua orang yang tengah saling berpelukan.
Kanna yang melihat Kala terus meronta, memilih untuk mengambil anaknya. Bahkan Kanna tidak percaya jika Melani adalah adik dari Zahra pernah mereka cari saat itu. Namun, karena Kanna tak mengenali adik Zahra, dia tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya. Saat itu dia hanya melihat dari sebuah foto sehingga tidak terlalu jelas.
"Alhamdulillah, akhirnya kita dipertemukan lagi, Mel. Aku sempat putus asa saat mendengar kabar jika kamu ditelantarkan oleh ibu," ucap Zahra yang masih memeluk adiknya. Meskipun hanya seorang adik tiri, tetapi Zahra sangat menyayanginya layaknya adik kandung.
"Iya, Mbak. Mela juga senang bisa dipertemukan dengan Kak Ara lagi."
__ADS_1
Cukup sudah pelukan kedua kakak beradik itu karena Zahra teringat akan Deena yang masih berada di dalam mobil. Dengan segera Zahra berlari untuk mengeluarkan Deena.
Saat itu tubuh juga tubuh Deena sudah dingin seperti es. Zahra yang panik segera memanggil Kanna.
"Mas ... Deena Mas ..."
Kanna yang masih menggendong Kala pun berlari untuk menghampiri Zahra. Melihat Deena yang terus menggigil membuat Kanna harus segera membawanya ke rumah sakit.
"Astaga ... dingin sekali," ujarnya. "tenang, Sayang. Kita akan ke rumah sakit sekarang."
Melani tak tahu apa yang sedang terjadi. Dia ikut bingung saat dua orang jadi pengen kelihatan nih. "Ada apa, Mbak?" tanya Melani penasaran.
"Tubuh Deena sangat dingin. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Kamu tulis aja nomor kamu nanti setelah urusan ini selesai aku akan hubungimu. Untuk saat ini aku benar-benar minta maaf tidak bisa berlama-lama," kata Zahra yang sudah dilanda kepanikan.
Meskipun Melani tidak tahu siapa itu Deena tetapi dia tidak akan membiarkan Zahra untuk melewati kesulitannya seorang diri lagi. Selama ini sudah cukup beban yang dipikul oleh Zahra untuk keluarganya.
"Aku ikut ke rumah sakit," katanya.
Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di dalam kepalanya. Namun, itu tidak terlalu penting, yang paling penting saat ini dia sudah bertemu dengan Ara.
"Nanti juga akan tahu sendiri apa hubungan mereka berdua. Jika keduanya memang memiliki sebuah hubungan, hancur hatiku yang baru saja akan bersemi. Tidak mungkin aku bersaing dengan kakakku sendiri hanya untuk merebutkan satu burung," gumam Melani sambil mengendarai sepeda motornya.
Tak berapa lama mobil kanan telah sampai di depan sebuah rumah sakit. Dengan cepat karena segera menggendong tubuh denah untuk segera mendapatkan pertolongan medis. Saat itu juga terlihat Zahra juga sedang menangis saat Kanna mengantarnya masuk ke sebuah ruangan. .
"Mbak yang sabar," kata Melani sambil mengelus pundak Zahra.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Deena, Mel. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan dia lagi," ujar Zahra sambil menyeka jejak air matanya. Beruntung saja saat ini Baby Kala sedang tidur dalam dengan Zahra. Jika tidak mungkin saat ini dia akan meronta-ronta lagi, karena baby Kala tak pernah nyaman saat digendong.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Deena, Mbak. Tapi ngomong-ngomong Deena itu siapa?" tanya Melani yang merasa penasaran.
"Deena itu anak pertamaku dan Kala adalah anak keduaku," kata Zahra sambil menepuk Kala yang berada di dalam gendongannya.
__ADS_1
Melani sempat merasa terkejut. Ternyata sang kakak sudah memiliki anak yang sudah besar. Wajar saja karena sudah lebih dari 6 tahun mereka tidak bertemu. Melani tidak bisa berkata apa-apa selain menghibur Zahra dan memberinya kekuatan untuk tetap sabar dan kuat.
"Kita doakan yang terbaik untuk Deena ya, Mbak. Aku hubungi Mbak Naura dulu. Dia pasti akan sangat bahagia jika mengetahui pertemuan ini."
Zahra hanya mengangguk pelan dan membiarkan Melani sedikit menjauh darinya untuk menelepon Naura. Degitu juga dengan Zahra yang akan menghubungi Alzam. Sebagai seorang ayah Alzam juga pada tahu atas keadaan putrinya.
Alzam yang mendapatkan kabar tentang Deena memilih untuk meninggalkan rapat pentingnya. Baginya tak ada yang lebih penting melainkan Deena.
Setelah sampai di rumah sakit, Alzam segera mencari kamar dimana Deena berada. Alzam yang telah merawat Deena selama setahun lebih sudah tahu jika anaknya sedang mengalami trauma. Dia yakin jika tadi telah terjadi sebuah kecelakaan di depan matanya.
"Ra, bagaimana keadaan Deena?" tanya Alzam saat melihat Zahra duduk di ruang tunggu.
"Dia masih diperiksa oleh dokter, Mas."
Alzam membuang kasar napasnya. Berat,tetapi Alzam tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apakah tadi ada sebuah kecelakaan?" tanya Azam.
"Lebih tepatnya kecelakaan kecil. Mobil mas Kanna tak sengaja menabrak sebuah motor," terang Zahra.
Alzam langsung mengacak kasar rambutnya dan membuang kasar napas beratnya. Pantas saja trauma Deena kambuh, ternyata bukan hanya melihat sebuah kecelakaan tapi memang mengalami kecelakaan. Namun, dia terkejut saat mata Alzam menangkap sosok yang sangat dia kenali.
"Kamu!" tunjuk Alzam pada Melani.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1