Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
55 | Dibawa Ke Gudang


__ADS_3

Setelah beberapa hari izin, kini akhirnya Zahra kembali masuk kuliah lagi. Saat Zahra melewati koridor kampus, dia merasa jika ada yang sedang mengikuti dirinya. Saat dilihat kebelakang, nyatanya tak ada siapapun.


"Apakah hanya perasaanku saja?" batin Zahra.


Zahra akhirnya mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kelas, meskipun masih sepi. Dia melihat sekitarnya yang terasa sunyi hingga memilih untuk menggigit jarinya karena merasa takut.


"Zahra, tenang. Itu hanya perasaanmu saja." Zahra mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Zahra hanya berharap teman-temannya segera datang, agar mengusir rasa takutnya.


Bahkan selama mengikuti materi yang berlangsung, perasaan Zahra masih tidak tenang. Rasanya seperti ada sedang mengintai dirinya. Namun, lagi-lagi Zahra mencoba untuk menepisnya.


"Kamu anak baru itu kan?" tanya seorang perempuan yang telah menghadang langkah Zahra saat hendak ke kantin.


Zahra mengernyit melihat gaya arogant dari perempuan itu. "Maaf, aku gak punya urusan denganmu."


"Tapi aku punya!" Wanita itu mengelilingi Zahra, bahkan meneliti dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ada hubungan apa kamu dengan pak Kanna?" tanyanya dengan sinis.


Zahra menelan kasar ludahnya. Tidak mungkin jika Zahra mengatakan jika dia adalah istrinya Kanna. Zahra berpikir jika perempuan arogan ini adalah salah satu fans suaminya.


"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pak Kanna."


"Bohong! Aku tadi sempat melihatmu turun dari mobil Pak Kanna. Tidak mungkin kamu tidak memiliki hubungan dengannya! Jika sampai terbukti kamu memiliki hubungan dengan pak Kanna, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!" ancamnya.


Zahra masih membeku setelah kepergian perempuan itu. Entah apa yang akan terjadi jika perempuan itu mengetahui bahwa Zahra adalah istrinya Kanna.


Ternyata dugaannya selama ini benar jika banyak perempuan yang menggilainya. Akhirnya Zahra mengurungkan niat untuk pergi ke kantin.


****


Berada dalam kelas yang rata-rata usainya dibawahnya, membuat Zahra memilih banyak diam. Dia sadar akan usainya yang sudah tidak muda lagi. Namun, demi mendapatkan sebuah ijazah, Zahra rela berkutat lagi di dunia pendidikan.


"Hai cewek," sapa seorang pria yang sedang menghampiri Zahra. "Kenalin, Abang Arul." Pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Zahra.


"Sombong amat sih?" timpal Dimas yang melihat Zahra mengabaikan tangan sahabatnya.


"Biasa, anak baru masih malu-malu kucing. Lihat aja besok, pasti malu-malui kalau udah ketemu buaya kampus," celetuk Mail.

__ADS_1


Ketiga pria dari novel IMAM PENGGANTI itu merasa kecewa dengan sikap acuh Zahra dan menganggap jika Zahra adalah perempuan yang sombong.


"Dahlah, besok-besok kalau dia butuh bantuan, gak usah ada yang mau nolongin!" ketus Arul yang memilih untuk meninggalkan Zahra.


"Belagu lo!" cibir Mail.


Zahra hanya bisa mengelus dadanya. Satu hari ini dia harus di uji dengan kesabaran yang luar biasa. Sebenarnya ingin sekali Zahra memiliki teman yang bisa diajaknya berbicara. Namun, Zahra menyadari jika hampir semua perempuan yang satu ruangan dengan dirinya menatapnya dengan tajam. Bahkan tak ada satu yang mau menegur dirinya.


Mata kuliah Kanna adalah yang paling diminati oleh para mahasiswa. Tak heran jika saat Kanna mengajar satu kelas akan penuh. Zahra pun merasa heran karena dia sudah memperhatikan sejak awal dia masuk kuliah.


"Ada pertanyaan?" tanya Kanna saat ingin mengakhiri materinya.


Hampir semua mahasiswa perempuan mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan pada Kanna.


"Pak, bapak itu semakin hari semakin cakep apa sih rahasianya?" tanya salah seorang mahasiswa.


Kanna berusaha untuk menahan tawanya. Menurutnya tak ada yang berubah dari dirinya.


"Mungkin karena istri saya bisa merawat saya dengan baik," jawab Kanna santai.


Seketika semua yang mendengar jawaban Kanna merasa sangat kecewa. Tak menyangka jika Kanna telah memiliki seorang istri.


"Iya Pak. Data bapak aja masih lajang, gimana ceritanya bapak udah menikah?"


Kanna yang tersudutkan oleh ucapannya sendiri memilih segera mengakhiri materi siang ini. Tidak mungkin Kanna membongkar aibnya di depan para anak didiknya.


"Sudah ya, materi hari ini sampai disini saja," tutup Kanna yang segera meninggalkan kelasnya.


Satu persatu mahasiswa juga meninggalkan ruang kelasnya, termasuk juga dengan Zahra. Saat baru saja melangkah keluar, tangan Zahra langsung ditarik oleh seseorang yang tak dia kenali karena tidak satu kelas.


"Ada apa ini? Lepaskan!"


Dua orang yang memegangi lengan Zahra hanya tertawa kecil sambil menyeretnya untuk menjauh.


"Lepaskan aku! kalian mau apa?" Zahra berusaha untuk memberontak, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan kedua perempuan itu.


"Udah diam aja!" bentak perempuan yang ada di sebelah kiri Zahra.


"Kalian siapa dan mau apa?"

__ADS_1


Tak ada yang mau menjawab. Keduanya mempercepatkan langkahnya agar tidak ada yang mengetahui mereka.


Sesampainya di gudang yang kosong, keduanya langsung memasukkan Zahra ke dalamnya. Setelah pintu ditutup, ternyata di dalam sudah ada perempuan yang menyambut Zahra.


"Akhirnya kita bertemu lagi," ujarnya dengan langkah yang mendekat kearah Zahra.


Zahra terbelalak lebar saat melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Dia adalah perempuan arogan yang sempat mengancamnya tadi. Entah apa yang diinginkan perempuan itu.


"Kamu lagi?" kata Zahra saat jarak keduanya sudah dekat.


"Iya. Aku hanya ingin memberikanmu peringatan saja agar tidak mendekati pak Kanna. Aku yakin jika kamu mempunyai hubungannya," ujarnya.


"Sebenarnya kamu siapa dan mau apa? Cepat keluarkan aku!"


"Aku hanya ingin mengetes saja. Seberapa dekat hubunganmu dengan pak Kanna."


Wanita itu langsung mendorong tubuh Zahra hingga terjatuh ke lantai. Saat melihat tubuh Zahra telah terjungkal, wanita itu segera berlari keluar dan menutup kembali pintunya.


Zahra yang terjatuh hanya bisa meringis kesakitan. Dia mengaduh karena perutnya yang terasa sangat sakit.


"Tolong ...," rintihnya.


Zahra hanya bisa meremas perutnya yang terus melilit. Sakit yang luar biasa, seakan datang dan pergi dan pergi. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Zahra mencoba untuk bangkit.


"Tolong!" Zahra menggedor pintu yang telah dikunci dari luar.


"Tolong buka pintunya!"


Tubuh Zahra luruh ke lantai, manakala rasa sakit itu melilit perutnya lagi. Kini Zahra bener-bener tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Dia merintih dalam kesakitan tanpa seseorang yang mengetahui.


Sementara itu, dua orang yang mendapatkan perintah untuk menunggu pintu, mendengar rintihan Zahra. Namun, keduanya merasa takut untuk membantu Zahra.


"Wi, kok aku gak tega mendengar rintihan cewek itu ya," kata Diana pada Dewi.


"Sama. Tapi mau gimana lagi, aku takut sama Liona," ujar Dewi.


Keduanya hanya mendapatkan perintah untuk menunggu pintu untuk memastikan tidak ada orang yang ikut campur untuk membebaskan Zahra.


"Liona mana sih? Aku takut terjadi sesuatu sama cewek itu," kata Diana yang merasa cemas.

__ADS_1


"Tunggu aja bentar lagi dia juga datang. Dia lagi mancing pak Kanna untuk kesini," balas Dewi dengan detak jantung yang berdebar.


__ADS_2