
Kanna bergegas ke rumah sakit saat mendengar kabar jika Zahra masuk rumah sakit. Entah apa yang telah terjadi. Kali ini dia harus meninggalkan kelas yang sedang berlangsung untuk memastikan keadaan istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Kanna segera menunju ke sebuah ruangan di mana Zahra beredar. Dengan penuh kekhawatiran Kanna langsung bertanya kepada Zahra, apa yang telah terjadi.
"Dimana Deena? Apakah dia baik -baik saja?" tanya Kanna dengan ekor mata yang meneliti keseluruhan ruangan.
Zahra hanya terdiam. Dia tak tahu apa yang akan dia katakan kepada Kanna jika ternyata Deena diculik lagi.
"Ra, dimana Deena?" ulang Kanna lagi.
Tak ada jawaban, yang ada Zahra malah semakin terpisah. Kanna semakin yakin jika sudah terjadi sesuatu kepada Deena.
"Ra, jangan bilang Deenaβ"
"Deena dibawa pergi sama mereka, Mas."
Kanna langsung mengacak kasar rambutnya. Baru saja dia bisa bernapas lega, kini sudah harus merasa sesak lagi. Sampai kapan semua ini akan berakhir.
"Aku yakin jika ini adalah ulah dua orang itu." Tangan Kanna mengepal kuat, matanya juga memerah. "mereka benar-benar tidak jera."
Karena Kanna juga mengkhawatirkan keadaan Zahra, maka dia memilih menyuruh orang untuk mencari keberadaan Deena. Dia tidak ingin kejadian yang telah berlalu terulang kembali.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, perasaan Kanna sangat gelisah. Satu sisi dia ingin mencari keberadaan Deena, tetapi satu sisi lainnya dia juga tidak ingin meninggalkan Zahra. Kanna takut jika Zahra akan jadi target selanjutnya.
"Mas ... aku tatuk jika mereka sampai melukai Deena lagi. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh mereka? Mengapa mereka mengintai nyawa Deena terus? Apa salahnya?"
Dada Kanna terasa sesak. "Mereka menginginkan semua warisan yang jatuh ke tangan Denna diserahkan pada mereka."
Mata Zahra membulat. "Apa?! Jadi kerena warisan mereka mengintai nyawa Deena?"
"Kamu tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaannya."
Bagaimana seorang ibu bisa tenang ketika nyawa anaknya sedang dalam bahaya.
"Mending kamu serahkan semua warisan itu pada mereka. Aku dan Deena tidak menginginkan harta warisan itu, Mas. Yang aku inginkan hanyalah ketentraman keluarga kita. Tidak ada gunanya kita memperebutkan harta jika keluarga kita akan terus dalam bahaya. Mas, harta itu bisa dicari kapan saja, tapi keluarga? Keluarga tak bisa dicari, Mas."
Tanpa Zahra jelaskan, Kanna pun sudah tahu jika keluarga adalah segalanya. Namun, memberi celah pada orang serakah itu juga baik, terlebih mereka sudah pernah melukai Deena.
πππ
__ADS_1
Untuk kali kedua Deena diculik dengan orang yang sama. Sudah satu minggu Dayat dan Shena kabur dari tahanan dan sedang menjadi buronan polisi. Mereka berdua berusaha mencari celah untuk berbalas dendam. Keduanya sangat tidak terima saat Kanna menjebak keduanya. Kali ini kemarahan Dayat dan Shena tidak main-main. Apapun akan dia lakukan demi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Untuk kali ini jangan gegabah dahulu, Mas!" saran Shena.
Gara-gara masuk sel, Shena harus kehilangan nama baiknya. Nama yang sedang bersinar di dunia entertainment, tiba-tiba harus redup dengan kenyataan dia seorang tahanan.
"Semua ini gara-gara Kanna sialan itu!" geram Shena.
"Gara-gara dia, aku dipercepat dari perusahaan!" timpal Dayat.
Kini mata keduanya menatap bocah yang masih masih memejamkan disampingnya. Semua masalah bermula dari kehadiran Deena yang masuk kedalam keluarga. Bukan hanya harta warisan yang dia ambil, tapi seluruh perhatian orang tuanya juga diambil oleh Deena.
"Kita harus apakah bocah ini, Mas?" tanya Shena.
"Kita buang saja bocah ini," celetuk Dayat. "biarkan saja mau hidup atau mati."
.
.
.
Saat Alzam dinyatakan kritis di rumah sakit, keluarganya segera mengambil sebuah tindakan. Nenek Rose segera membawa Alzam luar negeri untuk berobat. Alhasil dalam waktu 5 bulan Alzam menjalani perawatan, kini dirinya masih bisa bernapas.
Dalam waktu 1 bulan terakhir, Alzam sudah menurunkan anak buahnya untuk memantau Deena. Dan hari ini dia mendengar kabar jika Deena di culik. Tanpa pikir panjang lagi Alzam segera terbang menggunakan jet pribadi untuk menuju ke Indonesia. Padahal sebelumnya Alzam tidak ingin ikut campur lagi dengan kehidupan Kanna dan Zahra. Namun, jika sudah berurusan dengan Deena, dia harus segera turun tangan.
Sesampainya di Indonesia Alzam segera meluncur untuk melakukan pencarian. Menurut informasi yang didapatkan, pelakunya adalah dua orang kakak Kanna memang sedang mengintai Deena.
"Mereka sudah berani bermain-main denganku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada mereka."
Anak buah yang disebar oleh Alzam terus berusaha untuk mencari keberadaan Denna. Salah satu di antara mereka memberikan kabar jika saat ini mobil yang dikendarai oleh kedua kakak Kanna sedang menuju ke sebuah hutan.
Alzam yang tidak sabar dengan mobil yang dikendarai oleh sopirnya meminta untuk bergantian. Saat ini dia harus segera sampai di hutan yang telah diinformasikan kepada dirinya. Tak peduli dengan kecepatan mobil, Azlam menerobos jalanan yang sedikit pada t untuk bisa mengejar mobil kakak Kanna.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Deena, aku tidak akan melepaskan mereka!"
Alzam pun menurunkan pesan kepada anak buahnya untuk mengejar mobil yang membawa Deena. Bahkan Azam juga menyuruh mereka untuk menghentikan perjalanannya. Anak buah yang dimiliki oleh Alzam bukanlah sembarang orang. Alzam sengaja mereka orang-orang yang memiliki hati dingin.
"Mas, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita," kata Shana yang melihat sebuah mobil di belakangnya. "sejak tadi mobil itu mengikuti kita, Mas."
__ADS_1
Dayat merasa ada yang tidak beres. Dia pun menambah laju kecepatannya. Semakin dia cepat, semakin cepat pula mobil yang ada di belakangnya.
"Sial! Mobil itu memang sedang mengikuti kita. Apakah itu Kanna?"
"Kita harus gimana, Mas?" panik Shena saat mobil di belakangnya yang semakin mendekat.
Dayat hanya diam. Dia berusaha untuk menambah kecepatan laju mobilnya. Namun, karena jalanan menuju ke hutan licin dan berliku, Dayat bisa mengendalikan mobil dengan kecepatan tinggi. Tepat di sebuah tikungan sorotan lampu terlihat menyilaukan mata. Dayat benar tidak bisa mengendalikan laju kecepatannya.
BRAAKKKK ....
CIITTTTTT ... BRAAKKK ...
Mobil Dayat terseret oleh sebuah truk kontainer hingga beberapa meter.
Anak buah yang diutus Alzam segera memberitahu jika mobil yang membawa Deena mengalami sebuah kecelakaan. Bahkan bisa dipastikan jika yang berada di dalam mobil itu tidak selamat, karena mobil mengalami kerusakan yang sangat parah.
"Kurang ajar!" Alzam memukul kasar setir kemudinya. "Deena ...."
Disaat yang bersamaan saat Zahra sedang mengambil air minum, tiba-tiba gelas yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.
PRAANG ...
Kanna yang sedang duduk di sebuah sofa langsung bergegas untuk menghampiri Zahra. "Kenapa Ra?" tanyanya lihat serpihan gelas sudah tercecer di lantai.
"Gak tahu, Mas. Tiba-tiba gelasnya terlepas dari tanganku. Mas, ini pertanda jika mereka menyakiti Deena. Ayo kita cari Deena, Mas!" rengek Zahra.
"Kamu tenang ya, aku sudah mengutus orang untuk mencari keberadaan Deena. Kamu harus ingat pesan dokter, Ra. Kamu harus tetap tenang, jika kamu banyak pikiran hanya akan mempengaruhi janinnya. Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan Deena, tapi aku juga tidak mau kamu sampai melupakan bagi kita. Aku akan mencari Deena, tapi kamu harus berada di rumah ibu, agar aku bisa tenang."
Zahra tidak keberatan untuk diantar ke rumah ibu mertuanya. Saat ini dia hanya berharap Deena segera ditemukan.
.
.
.
.
Makasih untuk yang masih setia dengan cerita ini. Kecup basah dulu π
__ADS_1