Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
29 | Apakah Aku Egois?


__ADS_3

...Luka yang pernah menggores selamanya akan membekas, meskipun sudah ditimbun dengan waktu bertahun-tahun....


...~Zahra~...


5 Tahun kemudian ....


Seorang anak kecil berlari riang saat melihat siapa yang datang. Meskipun tidak memiliki ikatan darah, tetapi rasa sayang yang diberikan kepada bocah itu sangatlah besar.


"Pa-pa ...," teriaknya.


Pria yang dipanggil papa segera berjongkok dan merentangkan tangannya untuk menyambut sebuah pelukan yang dia rindukan.


"Deena."


Bocah yang di panggil Deena langsung dihujani ciuman bertubi-tubi setelah satu minggu tak bertemu.


"Mama dimana?"


"Mama bobok," jawab Deena dengan kepolosannya.


"Bangunin yuk!"


Deena menganguk pelan, bahkan bocah itu tidak menolak saat tubuhnya sudah di gendong. Tangannya malah mengalung erat dileher pria yang dipanggil papa.


"Bu Dhe aku masuk dulu, ya," kata Arkana yang sudah menggendong tubuh mungil Denna.


"Tapi Le. Ara baru saja tidur."


"Iya Dhe, Kanna tahu."

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Kanna segera menurunkan Deena dan langsung mengecek suhu tubuh Zahra. Sebelumnya Bu Dhe sudah memberi tahu jika Zahra sedang sakit. Namun, karena pekerjaan yang tidak bisa ditingkatkan, Kanna menunda untuk mengunjungi Zahra.


Jarak kota dengan Villa lumayan memakan waktu, sehingga tidak mungkin bagi Kanna untuk pulang pergi. Waktunya hanya akan habis di jalan saja.


"Masih demam," gumamnya.


Mata Kanna kemudian melihat bocah yang terduduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Bibirnya menyunggingkan senyum lalu menghampirinya.


"Hem ... hem." Kanna berdeham disebelah Deena. Bocah itu hanya nyengir tanpa rasa bersalah karena telah memainkan ponselnya.


"Siapa suruh Papa lama pulangnya. Deena kan udah rindu sama permainan di hp Papa," celoteh Deena.


"Oh ... jadi Deena lebih rindu sama hp Papa ketimbang Papa?"


"Dua-duanya-lah Pa," jawab Deena polos.


Padahal Kanna sudah berulang kali membujuk Zahra agar kembali ke kota. Namun, rasa sakit yang pernah dia alami membuat Zahra tak ingin kembali ke kota. Dia takut jika sewaktu-waktu Alzam akan datang untuk mengambil Deena darinya.


Sudah tiga hari demam Zahra tak kunjung turun. Kanna merasa sangat khawatir dengan kondisi Zahra, karena setelah melahirkan Deena, kekebalan tubuh Zahra menurun. Tubuhnya mudah lelah jika dia kurang beristirahat.


"Mas Kanna," lirih Zahra saat melihat Kanna sedang duduk di sofa bersama dengan Deena.


"Kamu udah bangun." Kanna segera menghampiri Zahra dan mengecek suhu tubuhnya kembali.


"Lumayan," kata Kanna setelah melihat termometer ditangannya.


"Kamu habis ngapain lagi? Bukankah sudah ku katakan, kamu itu gak boleh terlalu kelelahan. Tugas kamu hanya mengawasi Deena saja. Apa masih kurang asisten di Villa ini sehingga kamu masih turun tangan?" lanjutnya lagi.


Zahra hanya bisa menyunginkan senyum dibibir manakah mendapatkan peringatan keras dari Kanna.

__ADS_1


"Aku hanya membantu Bu Dhe membersihkan halaman belakang saja. Lagian aku nggak angkat berat kok," jelas Zahra.


Kanna hanya berdecak kecil. "Meskipun nggak angkat berat, tapi kamu terlalu bersemangat. Iya kan?" tebak Kanna.


Lagi-lagi Zahra hanya bisa menyungingkan senyum dibibirnyanya. "Udahlah, Mas. Yang penting sekarang aku udah gak papa."


"Iya, kamu udah buat aku khawatir selama tiga hari ini. Kamu tahu nggak di sana aku nggak bisa tenang sewaktu mendapatkan kabar kalau kamu demam dan tak kunjung mereda. Dan sekarang kamu bilang nggak papa?" protes Kanna.


Percakapan keduanya hanya ditonton oleh Denna, tanpa ingin menyela. Meskipun dalam hati dia ingin mengadu apa yang sudah dikerjakan oleh mamanya sehingga dia kelelahan.


"Iya, iya. Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir," ucap Zahra.


"Aku tidak ingin hal ini terulang lagi dan lagi. Maka aku memutuskan untuk membawamu Kembali ke kota," ujar Kanna meskipun terasa berat.


Wajah yang semula berseri kini mendadak layu setelah mendengar Kanna akan membawanya kembali ke kota. Namun, berbeda dengan Deena yang menyambut gembira ucapan papanya.


"Papa mau bawa kita pulang ke kota?" tanya Deena antusias. "Yes akhirnya Deena bisa lihat keramaian kota." teriaknya.


Tubuh Zahra masih membeku, terlebih saat melihat wajah Deena yang sangat bahagia saat mendengar ucapan Kanna.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku akan menjadi ibu yang egois jika aku menolak untuk kembali ke kota? Tapi aku takut jika mas Alzam akan mengambil Deena dariku. Aku tidak ingin itu terjadi. Tapi aku juga tidak ingin mematahkan semangat Deena yang sangat berharap ingin tinggal di kota."


.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2