
Sepertinya masalah tak hentinya untuk datang menghadang. Sejak kecil sudah harus merasakan sakit tak memiliki siapapun dan setelah tumbuh besar cobaan itu silih berganti menerpanya. Jika dulu harus berseteru dengan ayah kandungnya, kini harus berseteru dengan kakeknya. Tidak semua orang yang ada disekelilingnya adalah orang baik. Terkadang demi sebuah tujuan mereka untuk menyakiti seseorang yang tidak bersalah.
Sekali tangkap dua nyamuk tertangkap, begitu yang sedang dialami oleh pak Hasan. Demi bisa mendapatkan uang, dia rela untuk menyekap anak kandungnya sendiri dan juga cucunya. Dia tahu jika kedua orang yang ada ditangannya pasti akan lebih banyak menghasilkan uang.
"Lepasin!" teriak Deena saat dia dimasukkan kedalam sebuah ruangan kosong.
"Diam saja dulu! Aku tidak akan menyakitimu asalkan kamu dia tidak melawan!" bentak pak Hasan.
Naura yang juga berada didalam ruangan itu sangat terkejut saat melihat Deena yang juga menjadi korban keganasan dan keserakahannya.
"Pak, apa yang Bapak lakukan kepada Deena?" tanya Naura saat melihat sang bapak sedang mengikat.
"Kamu diam saja jika tidak mau benar-benar aku jual! Sebentar lagi aku akan kaya." Pak Hasan pun lantas tertawa keras saat membayangkan berapa banyak uang yang akan dia dapatkan. Kini ini bukan puluh juta yang ingin dia minta, tetapi ratusan juta.
"Astaghfirullahaladzim, Pak! Istighfar, Pak!"
"Jika kamu tak bisa diam, aku akan langsung menelepon muci.kari untuk mengangkutmu!" sentak bapak keras.
Melani hanya bisa diam dengan air mata yang menetes. Dia tak percaya jika bapaknya akan menjadi gila seperti ini karena uang.
Setelah tubuh Deena terikat, pak Hasan segera mengambil foto Deena untuk segera dikirimkan kepada Alzam. Dia yakin pria yang pernah menikah dengan Zahra tidak akan terima membiarkan anaknya dalam keadaan seperti ini.
"Sungguh luar biasa," kata pak Hasan setelah mengirimkan gambar itu kepada Melani.
"Kalian berdua jangan berisik! Aku akan cari angin seger dulu. Nanti kalau uang tebusan udah datang, kalian baru akan keluar dari sini!" Pak Hasan pun langsung meninggalkan ruangan kosong itu dengan sebuah tawa yang tidak hentinya.
Sementara itu, saat Melani dan Alzam dalam perjalanannya sebuah pesan masuk ke ponselnya. Saat Melani membuka, matanya terbelalak dan langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ada apa, Mel?" tanya Alzam heran.
"Deena, Pak," katanya sambil memperlihatkan ponselnya pada Alzam. Melihat foto yang ada ditangan Melani, Alzam langsung menginjakkan gas secara mendadak membuat kepala Melani terbentur ke dashboard.
"Jadi pelakunya adalah bapak kamu?" tanya Alzam yang juga membaca beberapa pesan yang dikirim oleh pak Hasan. "Apa jangan-jangan kalian berdua memang sekongkol merencanakan semua ini untuk meme.rasku?"
Melani dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pak. Aku tidak tahu jika bapak akan nekat untuk melakukan semua ini pada Deena. Bukan hanya Deena saja yang disandera oleh bapak, tapi mbak Na juga, Pak," jelas Melani dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Meskipun dia adalah anak dari orang yang telah menculik Deena, tetapi dalam hatinya tak pernah sedikitpun hatinya terbesit untuk melukai Deena.
Alzam mende.sah pelan dan melakukannya mobilnya ke tempat yang sudah disebutkan pak Hasan di dalam pesan singkatnya. Namun, tak lupa dia juga menghubungi Kanna agar pria itu tidak khawatir berlebihan.
Setelah mendapatkan pesan dari Alzam, Kanna segera menghubungi salah satu kenalannya yang menjadi seorang polisi untuk membantunya.
Kanna tidak tahu bagaimana Deena akan melewati keadaannya. Pasti rasa trauma itu akan muncul kembali, meskipun sudah satu tahun berlalu.
"Kenapa diusianya yang masih kecil Deena harus terus-menerus menanggung semua ini karena keserakahan seseorang? Beruntung saja ayah kandungnya sudah insaf," de.sah Kanna.
"Kamu cari dimana Deena berada, biar aku yang urus pak tua itu," ujar Alzam pada Kanna.
Tanpa kata, Kanna segera masuk kedalam untuk mencari keberadaan Deena, sementara Alzam dan Melani menemui pak Hasan yang sudah menunggunya di belakang gedung.
"Pak, tolong percayalah kepadaku jika aku tidak bersekongkol dengan bapak untuk menculik Deena, Pak! Aku memang miskin, tapi aku tidak gila uang, Pak!" kata Melani berulang kali untuk meyakinkan Alzam yang menganggap jika Melani telah bersekongkol dengan bapaknya untuk menculik Deena.
Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari Alzam. Saat ini dia hanya ingin menemui pria yang sudah berani menculik Deena.
"Pak Alzam ... percayalah padaku!"
"Diam! Atau aku akan benar-benar mencurigaimu!" sentak Alzam.
__ADS_1
Melani pun terdiam. Dia hanya bisa menelan kasar salivanya. Saat ini wajah Alzam sudah menegang membuat Melani tak berani untuk menatapnya lagi. Dia hanya mengikuti langkahnya menuju ke halaman belakang untuk menemui bapaknya.
Seorang pria tengah baya telah menunggu kedatangan Alzam. Kini senyumnya merekah, sebentar lagi dia akan mendapatkan uang yang sangat banyak dari pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Akhirnya datang juga! Sekarang mana uangnya?" Mata pak Hasan sudah sangat berbinar.
"Tapi sayangnya aku ke sini tidak membawa uang," kata Alzam dengan sinis.
Seketika senyum yang mengambang itu sirna dan digantikan dengan sorotan mata yang tajam. "Jangan bermain-main jika kamu tidak ingin kehilangan putrimu untuk!" ancam pak Hasan dengan mata yang sudah memerah.
"Pak, tolong bapak sadar dengan apa yang sudah bapak lakukan! Ini adalah tindakan kriminal, bisa-bisa bapak masuk penjara," ujar Melani.
"Diam kamu anak durhaka! Semua ini adalah salahmu! Coba kamu bisa memberikan ku uang, pasti aku tidak akan menculik bocah itu dan menyekap kakakmu! Dasar anak tidak tahu di untung. Kalau tahu akan seperti ini sudah lama aku mengirimmu ke rumah bordil!" bentak pak Hasan.
Baru kali ini Alzam melihat seorang ayah yang tega akan menjual anak kandungnya sendiri ke tempat pe la cu ran. Mungkin hanya ada pak Hasan seorang yang tega melakukan hal seperti ini kepada anaknya. Dengan senyum sinis Alzam berkata, "Lebih baik menjadi anak durhaka dari pada harus mempunyai seorang ayah yang gila seperti Anda! Atau lebih baik orang seperti Anda musnah saja dari muka bumi."
.
.
.
...🥕🥕🥕...
Sambil menunggu novel ini up, mampir dulu ke novel temen aku dulu ya. PESONA SANG DIVA.
__ADS_1