
"Deena, Sayang. Deena keluar dulu ya, Papa mau bicara sebentar sama Mama," kata Kanna dengan lembut.
"Baik, Pa," ucap Deena patuh.
Sepeninggal Deena hanya ada keheningan diantara keduanya. Kanna masih duduk disamping Zahra, sedangkan Zahra sendiri memilih memalingkan wajahnya. Bukan benci, tetapi Zahra masih dalam kebimbangan.
"Ra, untuk kali ini, kamu nurut ya," pinta Kanna penuh harap.
Zahra masih membisu tanpa kata. Permintaan yang sangat sulit untuk Zahra terima. Dia tidak ingin mengangkat luka lama.
"Ra, kamu gak boleh egois! Jangan sampai keegoisanmu membuat Deena kehilangan masa kecilnya. Dia butuh teman, dia butuh sekolah, dia butuh alam bebas. Dengan kamu mengurung diri ditempat ini, apakah kamu tak merasa kasihan kepadanya? Empat tahun sudah dia menghabiskan waktu di tempat ini tanpa mengerti dunia luar. Ra, ku mohon untuk kali ini pertimbangan lagi keputusanmu," kata Kanna dengan mengiba.
Tangan Kanna kemudian menggenggam erat tangan Zahra. "Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sampingmu. Percayalah padaku."
Mata Zahra memerah dengan berkaca-kaca. Tak sanggup lagi dia menahan air mata yang ingin tumpah. Keputusan yang sulit dan sangat berat. Ucapan Kanna mampu menampar hatinya. Selama ini Zahra tak pernah memikirkan bagaimana dengan Deena yang sebentar lagi akan memasuki masa sekolahnya.
"Tapi, Mas. Aku takut jika sewaktu-waktu mas Alzam datang dan mengambil Deena dariku. Aku tidak sanggup untuk melepaskannya, Mas," isak Zahra. Tangisannya pecah saat membayangkan jika Alzam datang dan mengambil Deena darinya.
Kanna langsung merangkul tubuh Zahra. Kanna tahu bagaimana luka dan trauma yang dialami oleh Zahra, tetapi sampai kapan Zahra akan terus bersembunyi seperti ini. Kanna harus bisa membuat Zahra bangkit dari bayang-bayang masa lalu yang membuatnya taruma.
"Kamu tidak akan sendirian. Ada aku yang akan selalu berada di samping. Ada juga bapak dan ibu yang siap membelamu jika sampai si baji*ngan itu berani mengambil Deena," kata Kanna menyakinkan Zahra.
Zahra mengangguk pelan sambil menyeka jejak air matanya. "Makasih Mas," ucapannya dengan menarik kembali air hidung yang ingin keluar.
"Itu sudah kewajibanku, Ra. Bukankah kita keluarga?"
__ADS_1
Zahra menganguk lagi dengan senyum tipis dibibirnya.
"Nah, gitu kan cantik. Jadi setuju kan kalau kita pulang?"
💞💞💞
Hari yang telah lama dinantikan oleh bocah perempuan berusia 4 tahun itu kini telah berada di depan mata. Selama ini dia hanya bisa mendengarkan cerita dari Papanya bagaimana indahnya kota. Namun, hari ini dia benar-benar menghirup udara kota.
"Mama, terimakasih sudah mau pulang ke rumah Papa. Deena sangat bahagia sekali," ujar Deena dengan memberikan kecupan di pipi Zahra.
Kanna yang sedang menyetir sekilas melihat dan berkata, "Jadi tidak berterima kasih juga sama papa? Padahal Papa yang susah payah membujuk mama. Gak adil." Kanna berpura-pura merajuk.
"Kan Papa lagi nyetir," celoteh Deena.
"Bukan iri, tapi Deena tidak sportif. Aku yang berjuang, aku yang dilupakan," sahut Kanna.
"Baiklah, sekarang Papa cium Deena dulu sebagai tanda kalau papa itu sayang Deena. Abis itu Deena akan cium papa banyak-banyak," celoteh Deena dengan senyum yang tak ingin pudar.
"Baiklah, siapa takut."
Deena yang duduk dipangkuan Zahra terus menyunggingkan senyum dibibirnyanya saat melihat papanya sudah melepas stafety belt.
Cup.
Mata Kanna melebar saat menyadari jika bukan pipi Deena yang sedang dia cium. Begitu juga dengan Zahra yang mendadak tubuhnya seperti tersengat arus listrik.
__ADS_1
"Yes, berhasil." sorak Deena yang membuat kedua orang tuanya segera tersadar. Kanna langsung salah tingkah dan segera kembali ke posisinya. Namun, tak dapat dia pungkiri dia merasa sangat bahagia. Bibirnya terus mengembang. Detik kemudian dia diterkejutkan oleh ciuman yang menempel di pipinya.
"Papa itu harus sering-sering cium Mama biar Mama itu bahagia dicium sama Papa," kata Deena polos.
Zahra yang tidak setuju dengan ucapan anaknya segera melayangkan protesnya. "Sok tahu kamu, Dee. Siapa bilang kalau Mama bahagia saat dicium Papa? Kamu itu masih kecil, tahu apa soal cium-mencium?"
"Deena gak sok tahu, Ma. Tapi itu kenyataan. Deena aja senang kalau dicium Papa. Apalagi Papa pulangnya lama. Deena memang masih kecil, tapi Deena tahu kalau sebuah ciuman itu adalah bentuk cinta dan kasih sayang," ujar Deena.
"Perasaan Mama nggak pernah ngajarin kamu seperti ini deh. Kamu belajar dari mana?" tanya Zahra.
"Dari Papa," jawab Deena.
"Papa bilang seperti itu?" tanya Zahra dengan mata yang sudah menatap kearah Kanna.
Deena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Maksud aku itu biar selalu dapat ciuman dari Deena, Ra."
.
.
.
.
__ADS_1