Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
143 | Rujak


__ADS_3

...Terkadang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan butuh perjuangan dan pengorbanan. Tak ada yang instan. Semua butuh proses. Cintai prosentasenya, maka kamu jga akan mencintai hasilnya...


...~teh ijo~...


Rasanya sangat berat ketika harus meninggalkan Deena untuk waktu yang lama. Bahkan bisa jadi meninggalkan Deena untuk selamanya. Alzam hanya pasrah apa yang akan terjadi pada dirinya diwaktu yang akan mendatang. Jika takdir masih berpihak kepadanya, maka ia masih bisa untuk bertemu kembali dengan anaknya, tetapi jika takdir berkata lain, maka untuk selamanya ia tak akan bisa melihat Deena lagi.


"Papa jangan nangis. Kan Papa mau berobat biar sembuh," ujar Deena dengan polos.


"Iya, Sayang. Papa gak nangis kok. Papa hanya terharu masih diberikan kesempatan untuk berobat, Nak." Alzam berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.


"Mama Mela selama diluar negeri sana jaga kesehatan ya, biar adek yang di perut Mama Mela juga sehat," celotehan Deena.


"Pasti dong, Sayang. Mama akan jaga kesehatan dengan baik agar dedek cepat tumbuh besar karena dedek udah gak sabar mau bertemu dan bermain sama Kakak Deena," ujar Melani.


"Tapi Deena gak mau adik laki-laki ya, Ma. Soalnya di rumah udah ada dedek Kala yang super lasak. Bisanya cuma menyerakkan rumah gak mau bereskan!"


"Baiklah, akan Papa cetak adik perempuan yang lucu untuk Deena, tapi kelak Deena harus bisa menjaga dan menyayanginya, bagaimana?" Alzam kini menimpali.


"Siap. Deena pasti akan menjaga dan menyayangi adik-adik Deena, karena Deen adalah kakak yang baik."


Waktu yang dinantikan pun telah tiba kini saatnya pesawat yang akan dinaiki oleh Alzam sudah memanggil para penumpang untuk segera. Saat itu juga sebuah perpisahan membuat suasana menjadi haru. Dimana Alzam meminta maaf kepada Zahra dan hampir bersujud dikakinya, karena telah mengingat kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Zahra. Namun, dengan cepat Zahra mencegahnya.


"Aku sudah memaafkanmu tanpa kamu harus bersujud di kakiku, Mas."


Alzam tak bisa berkata-kata lagi. Tanpa pikir panjang ia langsung memeluk tubuh Zahra dan mengucapkan beribu kata maaf padanya.


"Ra, jika nanti aku tak kembali, tolong jaga Melani dan anaknya. Kelak katakan juga pada Deena jika aku sangat menyayanginya." Setelah mengucapkan kata itu, Alzam langsung menarik tubuhnya dan meminta maaf kepada Kanna jika telah memeluk istrinya.

__ADS_1


"Kamu adalah ayah terbaik. Aku titip Deena. Jangan pernah kamu membedakan kasih sayang antara Deena dengan adik-adiknya kelak." pesan Alzam sebelum benar-benar meninggalkan ketiga orang yang mengantarkan kepergiannya ke luar negeri.


Perasaan Zahra tiba-tiba menjadi sedih saat mendengar pesan yang dititipkan oleh Alzam. Zahra berharap itu bukanlah sebuah wasiat karena ia berharap Alzam bisa membahagiakan Melani secara lahir dan batin.


...


Setelah mengantarkan Alzam, Zahra meminta Kanna untuk singgah ke apartemen yang ditempati oleh Naura. Sudah dua hari ia tak mendapatkan kabar dari adiknya yang sedang berjuang seorang diri. Jika bukan dirinya yang peduli dengan nasib adiknya lalu siapa?


"Na, kamu gak papa?" tanya Zahra saat Naura telah membukakan pintu untuk kakaknya.


"Aku gak papa, Mbak. Cuma sedikit mual dan pusing aja."


Zahra tahu bagaimana rasanya hamil muda, karena ia juga pernah berada di posisi Naura, sama-sama perjuangan seorang diri.


Saat melihat Kanna yang juga ikut datang, dada Naura terasa ngilu. Ia teringat akan perasaannya untuk Kanna, padahal sudah jelas Kanna adalah suami kakaknya sendiri.


"Kamu udah makan apa belum?"


Naura hanya menggelengkan pelan, karena memang ia tak selera untuk makan. Masih mencium aroma nasi saja Naura sudah merasa mual.


"Aku masakin untuk kamu ya?" tawar Zahra.


"Gak usah, Mbak. Lagian aku juga nggak selera untuk makan."


Zahra tahu bagaimana tersiksanya saat awal kehamilan, karena dulu ia pun juga seperti itu. Nasib yang ia alami hampir sama seperti yang dialami oleh Naura tetapi yang membedakan adalah, Zahra yang memilih pergi dari Alzam saat itu.


"Gimana kalau kita makan rujak yang ada di simpang sana, pasti enak, Na."

__ADS_1


"Ra, kamu ini apaan, sih? Naura itu belum makan malah kamu ajak makan rujak, apa nggak tambah sakit perut nanti?"" protes Kanna.


"Ya kali aja abis makan rujak makin bersemangat. Kan dulu aku kayak gitu, Mas."


"Itu kamu, bukan Naura. Pokoknya aku gak setuju!"


"Lho ... kok mas Kanna yang gak setuju sih? Kan aku ngajak Naura, bukan mengajak Mas Kanna. Lagian aku juga dah lama gak makan rujak!" protes Zahra.


Kanna tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika Zahra sudah menginginkan apa yang ia inginkan dan harus dipenuhi. Kali ini Kanna seperti memiliki dua orang istri yang sedang sama-sama ngidam. Ia menunggu kakak dan adik itu menikmati rujak di pinggir jalan, tanpa mengenal terik mentari yang terasa menyengat.


"Ra, besok Mbak bawakan mangga muda. Kebetulan pohon mangga milik tetangga sudah mulai berbuah. Pas bangat kalau kita buat rujak."


"Mangga milik pak Hadi, maksud kamu orang?" tanya Kanna yang mendengar ucapan Zahra.


"Iya, Mas. Jadi siapa lagi, kan cuma dia satu-satunya tentang kita punya pohon mangga."


"Sampai anak Naura lahir pun gak bakalan dikasih sama pak Hadi," sambung Kanna lagi.


"Kalau gak dikasih yang dicolong aja, kok repot," celetuk Naura. Kini kakak beradik itu saling tertawa.


.


.


BERSAMBUNG


SAMBIL NUNGGU NOVEL INI UPDATE KEMBALI MAMPIR DULU YUK KE NOVEL TEMAN AUTHOR JUDULNYA DEAR, PAK BOS

__ADS_1



__ADS_2