
Sudah satu minggu semenjak pertemuan tak sengaja itu, Alzam terus merasa gelisah. Pikirannya terus tertuju pada bocah kecil yang membuatnya mengingatkan kembali masa lalunya.
Lima tahun telah berlalu. Seiring berjalannya waktu, roda pun juga berputar. Setelah kepergian Zahra, hidup Alzam hancur sehancur-hancurnya. Bahkan bisa dikatakan saat ini Alzam baru mulai bangkit dari keterpurukan dalam hidupnya.
Bukan hanya Zahra yang pergi meninggalkan dirinya, tetapi Aira juga ikut meninggalkannya selama-lamanya. Garis Tuhan berkata lain. Aira tidak bisa bertahan hidup karena penyakit yang dideritanya
Selama lima tahun hanya rasa sesal yang dirasakan oleh Alzam. Penyesalan terdalam karena telah menyia-nyiakan ketulusan Zahra. Alzam baru menyadari jika rasa yang dia miliki untuk Aira hanyalah sekedar rasa iba karena pengorbanan yang telah dia lakukan padanya. Namun, terlambat sudah untuk disesali. Zahra telah pergi bersama anaknya dengan goresan luka yang dia berikan.
"Ra, dimana kamu," lirih Alzam yang matanya fokus pada layar ponselnya. Sebuah foto pernikahan yang paling dia benci saat itu. Namun, nyatanya sekarang foto itu sangat berarti baginya. Sungguh penyesalan yang tiada arti.
**
"Den Al, sepertinya mbok udah nggak bisa lagi bekerja di sini, mengingat usia mbok sudah semakin bertambah dan juga harus Mbok mau mengurus orang tua di kampung. Setelah mbok tidak lagi berada disini, berjanjilah untuk tidak berbuat kebodohan lagi. Tugas den Al saat ini menemukan non Ara dan meminta maaf. Jika memang tidak saling memiliki perasaan, segera bebaskan dia dari ikatan pernikahan yang pernah terjadi diantara kalian berdua. Kasihan Non Ara, Den," pesan mbok Inah.
Alzam hanya mengiyakan saja meskipun terasa sangat sulit untuk melepaskan Zahra. Namun, Alzam akan berusaha ikhlas karena semua ini terjadi karena kebodohan dirinya.
"Mbok tenang saja. Aku tidak akan mengulangi lagi kesalahanku. Meskipun kelak aku bertemu dengannya, aku tidak akan memaksakan keinginanku. Semuanya terserah padanya," ucap Alzam sendu.
Saat ini tak ada lagi sisa kebahagiaan untuk Alzam. Satu persatu orang yang dia sayangi kini telah pergi. Namun, hanya cintanya pada Zahra yang masih tertinggal.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Berbeda dengan Alzam yang sedang terpuruk dalam penyesalannya, kini Zahra malah bahagia bersama keluarga kecilnya. Hidup bersama Kanna dan juga Deena. Meskipun hubungan mereka di tentang keras oleh kedua kakak Kanna, tetapi Zahra ingin membuktikan jika dia tak seburuk yang mereka pikirkan.
"Bagaimana jalan-jalan hari ini? Pasti sangat menyenangkan? Sayang sekali Mama tidak bisa ikut." Zahra menghampiri Deena yang sedang sibuk dengan boneka barunya.
"Seru sekali, Ma. Besok Deena mau ajak Papa untuk jalan-jalan," celoteh Deena yang tetap fokus pada bonekanya.
"Apakah hanya ingin mengajak papa saja? Mama tidak diajak?" tanya Zahra dengan alis yang menaut.
"Kalau mama ikut nanti banyak pantangannya, Ma. Mending Mama di rumah lihat resep kue aja."
Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menghadapi Deena tidaklah sama seperti menghadapi anak usianya. Pola pikir Deena sudah seperti orang dewasa.
Baru saja Zahra mau keluar kamar, Kanna sudah membuka pintu terlebih dahulu. Zahra merasa sangat terkejut karena Kanna belum mengirimkan pesan kepada dirinya jika dia akan pulang.
"Jadi, apakah aku harus menginap di kampus?" tanya Kanna balik.
Zahra tertawa kecil sambil mengambil tas kerja milik Kanna. "Bukan begitu, Mas. Kan tadi pagi udah aku bilang kalau mau pulang kirim pesan dulu, biar aku bisa siapkan makanan untuk kamu."
"Untuk apa aku memiliki asisten rumah tangga jika kamu masih turun tangan untuk memasak. Saat ini tugas kamu hanya mengawasi Deena. Aku gak mau alasan apapun," kata Kanna yang kemudian menghampiri Deena.
"Bagaimana jalan-jalanmu hari ini?" tanya Kanna yang langsung mendarat kecupan di kepala Deena.
__ADS_1
"Seru, Pa. Besok papa harus ajak Deena jalan-jalan, ya. Kata Uti, banyak tempat yang bagus."
"Boleh juga. Tapi gak bisa minggu ini ya, Sayang. Soalnya jadwal pekerjaan papa masih padat. Tapi Papa janji setelah ada waktu, kita jalan-jalan. Mama juga udah lama gak ajak jalan mama kamu," kata Kanna.
"Gak usah ajak Mama, Pa. Kalau mama ikut nanti banyak pantangan. Gak jadi merdeka dong," celetuk Deena.
Kanna tertawa pelan sambil melihat kearah Zahra yang sudah memasang wajah masam.
"Gak boleh gitu, Sayang. Niat mama itu baik kok. Kalau mama melarang itu pasti ada sebabnya. Kalau terjadi yang tidak diinginkan siapa yang repot? Mama juga kan?"
Seketika Deena mendongak dan menatap kearah Zahra. Dengan bibir polosnya dia berkata, "Ma, maafin Deena ya."
Kanna tersenyum tipis lalu ikut menghampiri Deena dalam pelukan Zahra. "Sepertinya papa yang berjuang, papa juga yang dilupakan," celetuk Kanna yang langsung ikut menghambur dalam pelukan Zahra.
"Hanya satu pintaku, aku tak akan bisa kehilangan kalian. Apapun yang terjadi kalian adalah keluarga kecilku," batin Kanna dengan tulus.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG