
Deena dan mbak Yani terpaksa harus ikut ke rumah sakit untuk mengantarkan korban kecelakaan. Jika biasanya Calline bisa memberikan petunjuk, tetapi untuk tidak kali ini. Sudah berulang kali Deena mengajak Calline untuk berbicara, tetapi boneka itu diam tak meresponnya.
"Mbak Yani, Calline kenapa nggak bisa diajak berbicara lagi?" tanyanya pada sang pengasuh.
Mbak Yani yang tidak tahu apa-apa tidak bisa memberikan jawaban mengapa Calline tidak bisa diajak berbicara lagi.
Dengan wajah lesu Deena duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada di samping Mbak Yani. Sebenarnya Deena ingin bertanya kepada Calline siapa pria yang sedang mendapatkan penanganan dari dokter. Mengapa sebelumnya Calline meminta Deena untuk menyelamatkannya, tapi sekarang Calline malah menghilang.
"Apakah anda keluarga pasien?" tanya sang dokter ketika sudah selesai mengobati pria asing yang sama sekali tidak dikenali oleh Mbak Yani.
"Bukan, Pak. Kami hanya membantu menyelamatkannya saja," ujar Mbak Yani. "Ada apa, Pak?" tanya Mbak Yani kemudian.
"Alhamdulillah, pasien tidak mengalami luka yang serius. Beruntung saja cepat di bawah ke rumah sakit, tetapi pasien masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin sebentar lagi dia juga akan sadar. Kalau begitu saya permisi."
Mbak mendengus pelan. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh anak berusia 4 tahun sehingga dia sangat berinisiatif untuk menyelamatkan pria asing yang tidak dikenalinya.
"Dee, kita sebaiknya kita pulang aja ya. Toh kita juga nggak kenal sama orang itu. Yang penting kita udah bantu bawa dia ke rumah sakit dan dia pun juga tidak apa-apa. Mbak Yani takut nanti mama dan papa marah," kata Mbak Yani saat mengajak Deena untuk pulang.
"Tunggu dia sadar dulu mbak, kasihan dia," celoteh Deena.
"Aku juga heran kenapa tiba-tiba Calline nggak mau berbicara lagi. Apa dia lagi marah sama aku ya?" tanya Deena pada dirinya sendiri.
"Mungkin Calline sedang tidur," ujar mbak Yani.
Entah apa yang dipikirkan oleh Deena sehingga dia ingin sekali melihat keadaan pria asing yang masih terbaring di ruang rawat. Mbak Yani hanya bisa mengikuti langkah Deena saat bocah itu masuk untuk melihat keadaan yang baru saja mereka selamatkan.
"Kasihan sekali," lirih Deena saat melihat kain kasa membalut dahi pria itu.
"Dee, perasaan Mbak Yani nggak enak. Kita pulang aja ya," bujuk Mbak Yani.
"Tunggu biar Om ini sadar dulu. Kasihan Iya nggak ada yang nungguin," balas Deena dengan kepolosannya.
"Call, Kamu kenapa sih nggak mau berbicara? aku mau nanya, siapa Om ini? Kasihan dia, Call," kata Deena pada bonekanya.
__ADS_1
"Tuh kan Mbak ... Calline gak mau berbicara lagi sama aku," adu Deena pada Mbak Yani.
Hampir 1 jam Deena dan Mbak Yani menunggu pria asing itu sadar. Meskipun merasa bosan, Mbak Yani tidak bisa berbuat apa-apa karena Deena tidak mau diajak pergi.
"Kamu." Pria itu menunjuk ke arah Deena.
Deena yang duduk disampingnya merasa sangat terkejut. "Om udah sadar," tanya Dina yang langsung menghampirinya.
"Om gak papa?" tanya Deena lagi saat pria itu memegangi kepalanya.
"Tidak," ucapnya pelan.
"Maaf Tuan, apakah anda memiliki kerabat yang bisa dihubungi? kami sudah lama menunggu Anda di sini. Berhubung saat ini anda sudah sadar, kami ingin pulang," kata Mbak Yani langsung.
"Aku tidak memiliki siapa-siapa," jawab pria itu dengan lemah. Namun, matanya terfokus pada sebuah boneka yang sedang dipegang oleh Deena.
"Itu boneka kamu?"
Deena mengangguk pelan sambil mengelus rambut bonekanya. "Iya, kenapa Om?" tanya Deena.
"Dari kakek-kakek tua, Om? Kenapa Om mau boneka ini?" tanya Deena dengan lesu. "Tapi ini satu-satunya temen Deena, Om," lanjut Deena lagi.
"Deena," cicit pria itu.
"Iya Om. Namaku Deena. Nama Om siapa?"
Pria itu tersenyum tipis kepada Deena. Meskipun masih terbilang anak-anak, tetapi dia bisa melihat jika Deena tidak seperti pada seusianya.
"Alzam." Pria itu menyebutkan namanya. "Boleh kita berteman? Om juga tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kedua orang tua Om sudah meninggal. Bibi yang mengurus Om juga sudah pulang kampung. Sementara istri Om juga pergi meninggalkan Om bersama dengan anak Om." Mata Alzam berkaca-kaca saat memberikan penjelasan kepada Deena.
"Om Alzam kasihan sekali," celetuk Deena. "Baiklah mari kita berteman. Aku Deena dan ini Calline," lanjut Deena lagi.
"Baiklah, kita berteman."
__ADS_1
Ada getaran lain dalam hati Alzam saat tangannya bersalaman dengan tangan Deena yang masih mungil. Wajah dan mata Deena membuatnya teringat pada Zahra. Bahkan Alzam bisa yakin jika Deena adalah anaknya.
"Dee, kita pulang ya. Mbak Yani takut nanti kalau mama sama papa marah kalau kita nggak pulang-pulang," bujuk Mbak Yani lagi dengan melirik ke arah Alzam.
"Tapi mbak, Deena kasihan sama Om Alzam. Dia nggak punya keluarga. Kita temenin Om Alzam sebentar lagi ya," tawar Deena.
"Tapi kita nggak kenal siapa Om Alzam yang sebenarnya Dee. Bisa saja niat buruk sama kamu."
Alzam merasa tidak terima dengan ucapan mbak Yani. Dia segera mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya.
"Ini kartu namaku. Kamu bisa menuntut saya jika saya bukan orang baik," ucap Alzam dengan menyerahkan sebuah kartu nama kepada Mbak Yani.
Mata Mbak Yani hampir terlepas saat membaca nama Alzam di kartu namanya. Ternyata pria yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang pengusaha terkenal yang memiliki beberapa mall yang ada di kota.
"Jadi anda ...."
"Bagaimana? Masih meragukan identitasku. Kamu boleh mencarinya di internet jika masih meragukannya."
Mbak Yani tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam melihat Deena bercengkerama hangat dengan Alzam. Padahal keduanya baru saja bertemu, tetapi Deena sudah bisa langsung akrab dengan Alzam.
"Dee, kamu selama ini tinggal di mana? Maksud Om kamu tinggal di mana?" tanya Alzam yang kelepasan.
"Deena tinggal dimana, Mbak?" tanya Deena pada mbak Yani.
Mbak Yani pun mengatakan alamat rumah yang ditempati oleh Dina saat ini.
"Oh... agak jauh ya dari rumah Om. Kalau dekat bisa Om setiap hari main ke rumah Deena," ujar Alzam.
"Kalau Om mau main ke rumah Deena, main aja Om. Deenna juga nggak punya temen."
Alzam menangkap ada raut kesedihan dari wajah Deena. Dia tidak bisa membayangkan anak seusia Deena tidak memiliki satupun teman untuk bermain. Ada rasa sakit di relung hatinya. "Sekarang Kamu nggak sendirian lagi karena Om akan menjadi teman kamu. Jangan bersedih ya," hibur Alzam.
"Iya Om."
__ADS_1
Deena versi othor