Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
31 | Akhirnya Kembali


__ADS_3

Waktu demi waktu daun telah berguguran. Namun, tidak dengan rasa sakit dalam hati yang masih melekat. Seharusnya luka itu sudah terkubur oleh waktu, namun tidak dengan goresan di hatiku. Meskipun kucoba untuk menghapus jejak kenangan, Namun nyatanya aku tidak bisa. Luka yang tergores selamanya akan membekas dalam ingatan.


...~Pangeran Anyer~...


Tak hentinya Deena berdecak kagum saat melihat rumah yang sangat besar. Bahkan Halaman rumahnya hampir seperti lapangan bola. Ini adalah kali pertama Deena menginjakkan kaki di rumah papanya. Dia tidak menyangka jika rumah disini jauh lebih besar daripada yang dia tempati sebelumnya.


"Wah ... rumah papa besar sekali." Deena merasa takjub akan kebesaran rumah milik papanya.


"Bukan rumah papa, tapi rumah kita. Karena mulai saat ini kita yang akan tinggal disini," ujar Kanna dengan penuh rasa bahagia.


"Hore ... rumah Deena sekarang lebih besar," sorak Deena girang.


"Yaudah, kita masuk yuk, di dalam juga sudah ada Uti," kata Kanna.


Zahra hanya mengikuti dua orang di depannya yang saling bergandengan tangan. Dua orang yang tidak memiliki ikatan darah, tetapi mereka saling mencintai. Bahkan cinta Kanna begitu tulus kepada Deena.


Tak mudah bagi Zahra untuk melewati waktu lima tahunnya. Mungkin jika tidak ada Kanna disampingnya, Zahra sudah kehilangan arah. Kehadiran Kanna bagaikan malaikat untuk Zahra.


"Uti ... " teriak Deena sambil berlari kecil menghampiri Uti-nya.


Wanita yang dipanggil Uti tersenyum lebar dan segera merentangkan tangan untuk menyambut pelukan Deena.


"Cucu Uti sudah besar," kata ibu Kanna dengan memberikan ciuman di pipi Deena.


"Iyo dong, Uti. Kan setiap hari Deena makan nasi dan sayur," celoteh Deena.


Zahra pun segera menghampiri ibu Kanna dan langsung mengalaminya.


"Akhirnya kamu menyerah juga," kata ibu Kanna.

__ADS_1


Zahra hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia merasa malu karena sering menolak bujukan ibu Kanna untuk kembali pulang. Namun, kini Zahra telah menyerah.


"Kamu tak perlu takut. Kami semua ada untukmu," lanjutnya lagi.


Zahra hanya mengangguk pelan. Untuk saat ini dia masih bisa aman, tetapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Suasana rumah menjadi ramai karena adanya sosok Deena yang mampu menciptakan tawa. Ibu Kanna yang sudah menantikan moment ini merasa sangat bahagia.


"Bu, kak Karin gak datang?" tanya Kanna saat saat menyadari tak ada kehadiran kakaknya.


"Dia lagi sibuk syuting iklan," jawab ibunya datar.


"Terus mas Dayat juga gak datang?" tanya Kanna lagi.


Ibu Kanna membuang napas beratnya. Seperti ada beban yang sedang dia pikul, tetapi mencoba untuk menutupinya.


"Dia lagi ada pekerjaan diluar kota."


"Kalau bapak kamu nanti dia nyusul. Dia masih rapat," jelas ibunya.


"Sudahlah, ibu tidak mau memikirkan dua kakakmu yang tidak bisa memiliki waktu untuk keluarga. Mending ajak Deena melihat kamarnya," kata ibu Kanna yang kemudian meninggalkan Kanna seorang diri.


"Yang sabar ya, Mas. Suatu saat mereka pasti akan sadar, jika semakin kita mengejar dunia maka dunia itu akan semakin menjauh," hibur Zahra yang bisa memahami perasaan Kanna.


"Makasih ya, Ra. Kehadiranmu dan juga Deena mampu membuat ibu tersenyum kembali," ucap Kanna.


Zahra tak hentinya bersyukur karena ayah dan ibu Kanna bisa menerima Deena dengan baik. Bahkan mereka juga menyayangi Deena setulus hati mereka.


"Ra, jadi gimana apakah kamu masih berniat untuk melanjutkan kuliah?" tanya ibu Kanna secara tiba-tiba.

__ADS_1


Zahra yang sedang menyantap makan malamnya harus tersedak dengan pertanyaan ibu Kanna.


"Pelan-pelan. Minum dulu." Kanna segera menyadarkan gelas kepada Zahra.


"Jika kamu berminat, mungkin Kanna bisa membantumu untuk masuk ke kampusnya. Masa iya dia gak bisa masukin kamu ke kampusnya," lanjut ibu Kanna lagi.


"Tapi Zahra udah punya anak. Daya pikir Zahra juga sudah berkurang, Bu," kata Zahra.


Ibu Kanna mendengus pelan. Meskipun sudah 5 tahun berlalu, tetapi Zahra masih saja menjadi wanita yang polos, apa adanya.


"Selagi ada Kanna gak usah kamu pikirkan. Apa gunanya dia dosen jika tidak bisa membantumu."


"Bu ... kalau Zahra gak mau, gak usah dipaksakan," timpal Kanna.


"Ijazah sekarang itu tidak terlalu penting, Bu. Yang penting bisa di dapur dan di kasur," lanjutnya lagi.


"Ibu cuma nanya, kenapa kamu malah ngegas sih, Na. Ya, kali aja Zahara mau kuliah lagi, melanjutkan cita-citanya yang tertunda," sahut ibunya.


Zahra hanya tersenyum tipis saat melihat anak dan ibu saling berdebat. Tiba-tiba celetukan Deena membuat keduanya berhenti berdebat.


"Jadi dulu mama tidak lulus sekolah?" tanyanya dengan polos.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2