
Zahra tidak ingin larut dalam pernikahannya dimasa lalu. Dengan tekad dan keberanian, Zahra melayangkan gugatan perceraian kepada Alzam. Semua sudah dia pikirkan matang-matang. Karena sejatinya pernikahan mereka telah usai saat Zahra memilih pergi meninggalkan Alzam.
Dengan menggantungnya status pernikahan masa lalunya hanya akan menyakiti Kanna.
"Kamu sudah yakin, Ra?" tanya Kanna yang terkejut dengan ungkapan Zahra.
"Aku yakin, Mas. Aku harus segera mengakhiri hubunganku dengan mas Alzam. Apa kata orang jika aku memiliki dua orang suami?"
"Baiklah, jika kamu sudah yakin aku akan membantumu," ucap Kanna.
Malam yang dilalui Zahra begitu panjang. Bahkan kamar yang semula dingin tiba-tiba menjadi panas. Semua itu karena Kanna sedang memproses hadiah untuk Deena.
***
Pagi ini Deena merasa heran saat melihat mamanya sudah rapi. Bahkan saat ini Deena bisa melihat aura kecantikan sang mama yang sebenarnya.
"Mama mau kemana?" tanya Deena penasaran.
"Mama ada urusan sebentar. Kamu di rumah ya, nanti Uti kesini," balas Zahra.
Deena hanya mengangguk pelan. Saat melihat papanya yang baru bergabung, Deena segera menodongnya.
"Sudah jadi atau belum?"
Kanna mengernyit. "Kamu pikir buat donat? Papa masih berusaha, Dee."
"Kenapa lama sekali, Deena udah gak sabar, Pa."
__ADS_1
Zahra hanya bisa memantau arah pembicaraan Kanna dan juga Deena.
"Memangnya papa kamu mau buatin kamu apa, Dee?" tanya Zahra.
"Papa mau buatin adik untuk Deena, Ma. Tapi kok lama ya? Mama yang bobok sama papa gak bantuin papa buat adik?"
Hampir saja Zahra tersedak. Namun, dia segera mengambil air minumnya. Kali ini matanya melihat tajam kearah Kanna yang sudah merasa gelisah.
"Jadi ini senjata kamu, Mas? Pantas saja Deena nurut," lirik Zahra pada Kanna.
"Sepertinya kita harus berangkat sekarang deh, Ra." Kanna memilih mengalihkan topik pembicaraan.
"Kita tunggu Ibu dulu, Mas. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Lagian mana ada kantor pengadilan jam segini udah buka."
"Yasudah, aku tunggu di teras ya."
***
"Mas, apakah tawaran ibu saat itu masih berlaku?"
Kanna yang sedang menyetir seketika melirik kearah Zahra. "Yang mana?" tanyanya.
"Yang ibu menanyakan apakah aku ingin melanjutkan kuliah atau tidak. Jika kamu mengizinkan aku ingin kuliah, Mas," ucap Zahra.
"Untuk masalah Deena, kamu tenang saja.. aku akan berusaha untuk membagi waktuku dengannya," lanjut Zahra lagi.
Kanna menganggukkan kepalanya pelan. "Tidak masalah. Aku akan membantumu untuk masuk ke kampusku."
__ADS_1
Senyum dibibir Zahra mengembang dengan luas. Mungkin ini adalah saatnya dia bangkit, karena tak ada gunanya untuk terus-menerus meratapi masa lalunya yang suram.
"Oke, tapi ada syaratnya," ujar Kanna dengan senyum tipis.
"Apa itu?"
"Adonan dedek untuk Deena harus jadi."
Saat itu juga mata Zahra melotot kearah Kanna. Semenjak dirinya pindah ke kota, Kanna sudah tak sepolos dulu lagi. Bahkan dia sudah tidak malu untuk meminta lebih.
"Kamu pikir seperti buat donat?"
"Anggap saja seperti itu, Ra. Ra, kamu kan tahu, semua kakakku belum masih sibuk dengan karirnya, bahkan mereka terus menunda untuk memilih anak. Saat ini hanya Deena satu-satunya yang bisa menghibur hati bapak dan ibu. Kamu gak kasihan? Terlebih saat ini Deena malah semakin sibuk dengan bonekanya," ujar Kanna.
Seketika Zahra mengingat kembali ucapan ibu Kanna yang mengatakan tidak pernah memberikan boneka yang diberi nama Calline oleh Deena. Boneka yang diberikan ibunya Kanna hanya dua dan tidak bisa bicara dengan Deena. Bulu kuduk Zahra tiba-tiba berdiri.
"Mas, kamu tahu dari mana Deena mendapatkan boneka Calline? Tadi pagi aku sudah tanyakan kepada ibu, ternyata boneka itu bukan pemberian ibu. Aku jadi takut, Mas. Jangan-jangan itu boneka kutukan."
"Kamu ngomong apa sih, Ra. Zaman sekarang mana ada boneka kutukan seperti itu. Mungkin saja itu hanya halusinasi Deena saja. Kamu kan tahu kalau Deena memiliki mata tajam yang bisa melihat keberadaan makhluk lain," ujar Kanna.
"Tapi ini beda, Mas. Boneka itu seolah bisa menebak apa yang akan terjadi."
"Sudahlah, kamu gak usah ikut-ikutan berhalusinasi seperti Deena. Makanya kita harus secepatnya memberikan adik untuk Deena agar dia tidak larut dalam halusinasinya."
.
.
__ADS_1
Eh, selagi nungguin novel ini up mampir dulu ke Novel baru teh ijo, IMAM PENGGANTI ya