
Di sebuah ruangan tanpa seorang teman, seorang anak kecil hanya bisa menatap cermin yang ada didepannya. Sudah tiga bulan dia berpisah dengan ibunya. Bukan dia tidak pernah menyangka jika pria asing itu adalah papa kandungannya.
Deena tidak tahu apa yang telah terjadi kepada orang tuanya sehingga mereka memilih berpisah. Sebagai seorang anak, Deena sangat menyayangi keduanya. Dia tidak menginginkan perpisahan diantara kedua orang tuanya. Namun, Deena hanyalah anak kecil yang tidak mengerti masalah orang dewasa. Meskipun begitu dia tetap menyayangi Kanna yang selamanya akan menjadi papanya.
Boneka yang biasanya bisa diajak berbicara, kini mendadak membisu. Sudah tiga bulan Calline tidak mau berbicara kepadanya. Deena tidak tahu apa yang salah sehingga Calline tidak mau berbicara lagi.
Selama tiga bulan juga, Deena hanya menghabiskan waktunya seorang diri. Meskipun dia diajak berkeliling dunia, tetapi hatinya tetap kosong.
"Ada apa?" tanya Alzam.
Deena menoleh ke belakang. Dia melihat wajah pria yang mengaku sebagai papanya. Sedikit kerutan juga sudah terlihat diwajahnya. Bahkan Deena hampir menepis semua pengakuan yang telah diberikan kepada dirinya
"Deena mau pulang. Deena rindu mama dan papa," ujar Deena.
Hati Alzam kembali memanas ketika Deena menyebut lagi nama Kanna. "Dee, apakah kamu tidak bisa menganggap jika papa ini adalah papa kamu?" tanya Alzam yang kemudian mendekat ke arah Deena.
"Andaikan saja mama kamu tidak pergi dari papa, mungkin saat keluarga kita akan bahagia tanpa adanya pihak ketiga. Kanna adalah orang ketiga yang membuat mama kamu pergi. Lalu, apakah kamu juga ingin meninggalkan papa hanya untuk bersama Kanna?"
Deena membisu. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Meskipun Kanna bukanlah papa kandungannya, tetapi pria itu menyayanginya lebih dari segalanya. Begitu juga dengan Deena yang juga sangat menyayangi Kanna melebihi rasa sayangnya kepada papa kandungannya.
"Tapi Deena merindukan mama. Sampai kapan papa akan memisahkan Deena dengan mereka?"
"Kamu adalah milik papa. Selamanya kamu akan tetap bersama dengan papa," ujar Alzam.
__ADS_1
Deena memberanikan diri untuk menatap papanya. Selama ini hidupnya sudah dikurung dalam kesendirian. Disaat dia ingin bebas untuk melihat alam luar, tiba-tiba dia harus terkurung lagi seperti dahulu. Dan yang lebih parahnya dia harus berpisah dari papa dan mamanya.
"Kenapa papa bicara seperti itu? Apakah Papa memang sengaja ingin memisahkan Deena dengan mama? Salah Deena apa, Pa? Deena hanya ingin hidup bebas. Selama ini Deena sudah terkurung dalam kesendirian. Apakah Papa juga akan mengurung Deena dalam kesendirian lagi?"
Alzam seperti sedang ditampar keras dengan pengakuan Deena. Namun, dia tetap tidak akan melepaskan Deena begitu saja. Deena adalah bibit pertama dan bibit premium. Dia yang akan melanjutkan untuk menjadi penerusnya kelak. Meskipun bukan seorang laki-laki, tetapi Alzam yakin jika Deena mampu untuk menggantikan dirinya.
Bisa saja Alzam mencari wanita lain untuk mengandung bibitnya. Namun, cukup sekali Alzam menitipkan benihnya pada orang yang tidak dicintai. Dan ternyata hasilnya tidak sesuai yang dia inginkan.
"Maafkan Papa, Dee. Tapi kamu pewaris tunggal. Kamu harus tinggal bersama dengan papa. Kamu anak papa."
"Papa jahat!" bentak Deena yang kemudian berlari meninggalkan Alzam.
Alzam yang merasa terkejut segera mengajar Deena. Dia tidak terjadi sesuatu kepada anaknya.
Deena berlari menuruni anak tangga dengan sekuat tenaganya. Dia sangat kecewa dengan keputusan papanya yang tidak bisa membawanya pulang kepada mamanya. Deena merasa sangat menyesal telah mempercayai Alzam.
Deena berlari dan terus menyebut jika papanya jahat. Namun, karena langkah Deena yang tidak seberapa, akhirnya tubuhnya langsung bisa ditangkap oleh Alzam.
"Kamu mau kemana?" sentak Alzam.
"Lepaskan Deena! Deena benci Papa! Deena mau pulang!" Sebisa mungkin Deena memberontak. Namun, karena tenaganya tidak seberapa dia tidak bisa melawan tenaga papanya yang sudah berhasil melumpuhkannya.
"Lepaskan Deena! Deena mau pulang!" teriaknya lagi.
__ADS_1
"Kita tidak akan pulang! Kita akan tetap tinggal disini selamanya, Dee. Papa sudah membeli mama kamu untuk bisa melahirkan kamu. Selama lima tahun mama kamu bersembunyi dan papa tidak bisa menemukan keberadaan kalian. Salahkan jika saat ini papa ingin menghabiskan sisa waktu yang Papa miliki?"
Deena hanya bisa menangis karena yang ada dipikiran saat ini hanya ingin pulang dan bertemu dengan mamanya.
"Papa jahat! Deena benci Papa!" teriak Deena dengan isak tangisnya.
Alzam tak peduli, dia segera membawa Deena Kembali lagi untuk masuk ke dalam kamar. Bahkan Alzam tak peduli dengan suara tangisan anaknya. Saat yang dia inginkan hanyalah ingin memiliki Deena seutuhnya.
🍂🍂🍂
Disisi lain, Kanna telah mendapatkan aduan dari sang istri, jika kemungkinan besar Alzam yang telah membawa Deena pergi. Kanna yang sudah mengetahui sejenak awal merasa sangat terkejut mengapa Zahra bisa mengetahui jika Alzam adalah pelakunya.
"Mengapa kamu bisa yakin jika pria breng*sek itu yang telah membawa Deena pergi?" Kanna bertanya dengan rasa penasaran.
"Aku hanya menebak saja, karena mas Dayat sempat menanyakan apakah aku memiliki seorang musuh. Bisa saja jika mas Alzam tidak terima akan keputusan pengadilan lalu dia mengambil Deena secara paksa."
Kanna membenarkan ucapan Zahra. Memang seperti itulah kenyataannya. Alzam memang mengambil paksa Deena. Dia dibutakan oleh egonya sendiri. Sebenarnya jika Alzam bisa berdamai dengan masa lalu, mungkin Kanna bisa membantunya untuk mendekatkan Deena dengannya. Namun, ternyata Alzam memilih jalan lain.
"Mas Dayat? Dimana kamu bertemu dengannya?"
Zahra segera menceritakan jika siang tadi kedua kakaknya berkunjung ke rumahnya. Entah dari mana mereka juga mengetahui jika sekarang Zahra sedang hamil.
"Aku yakin jika mereka juga ada hubungannya dengan Alzam. Kamu tunggu di rumah, aku menemui mereka sekarang!" pamit Kanna
__ADS_1