
Jika aku bisa meminta, aku hanya ingin menjadi pelangi selepas hujan. Agar mereka tahu jika badai pasti akan berlalu. Hidupku tak akan menjadi sempurna tanpamu yang tak bahagia, karena aku hanya ingin mengukir kebahagiaan disisa usiaku.
...~~~...
Beruntung saja Deena belum pulang dan Kanna bisa melanjutkan kembali untuk menghias kamar Deena yang belum sempet dia selesaikan tadi.
Kali ini Kanna memilih untuk menyelesaikan tugasnya seorang diri karena Zahra yang baru saja dinyatakan hamil. Kanna tidak ingin terjadi sesuatu terhadap janin yang baru saja berusia tiga Minggu itu.
"Kamu cukup duduk dan lihat aku saja," kata Kanna saat Zahra masih ingin membantunya.
Zahra sama sekali tak membantah ucapan Kanna, dia patuh karena tak tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Sebisa mungkin Zahra harus bisa melahirkan dan membesarkan calon adik Deena.
"Gimana kuenya, udah jadi belum? Kalau bisa sebelum Deena pulang, kue itu udah siap ya!"
Zahra mengiyakan ucapan Kanna. Beruntung saja Zahra tak membuat sediri kue ulang tahun Deena dan memilih untuk memesannya saja.
"Beres, Mas! Ini sebentar lagi juga udah mau siap," balas Zahra.
Hari ini akan menjadi hari yang sangat bahagia untuk Deena. Tepat di hari ulang tahunnya, dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Seorang adik yang kelak akan menjadi temannya bermain.
Karena hanya mengerjakan sendirian, Kanna butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saat melihat jarum jam, ternyata sebentar lagi waktunya Deena pulang.
"Akhirnya siap juga," kata Kanna saat
melihat hasil karyanya.
Kali ini ulang tahun Deena berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya hanya ada kue dan kata selamat ulang tahun, kini Kanna memberikan kejutan dengan balon-balon yang menghias di ruangan. Tak lupa Kanna juga membelikan berbagai macam boneka agar Deena tak fokus pada Calline saja.
"Mas sepertinya itu Deena," kata Zahra yang mendengar suara mobil di teras rumah.
Kanna mengintip dari balik jendela dan mengacungkan jempol untuk kearah Zahra.
"Siap-siap ya!"
Zahra mengangguk pelan. Dia pun segera mengambil posisi di samping pintu.
Saat pintu dibuka, terdengar letusan balon dan manik-manik menghujani langkah Deena yang baru saja masuk.
__ADS_1
"Happy birthday, Sayang," ucap Kanna dan Zahra serempak.
Wajah Deena yang masih terkejut masih terdiam dan melihat kedua orang tuanya bergantian. Dadanya sempat jantungan, tetapi kedua orang tuanya segera memberikan pelukan secara bersamaan.
"Kok malah bengong, sih?" tanya Zahra heran.
"Hari ulang tahun itu harus senyum dan bahagia." Kanna mencontohkan diri untuk tersenyum lebar.
"Apakah ulang tahun akan mengurangi satu umur Deena?" tanya Deena dengan wajah datar.
Kanna langsung menggendong tubuh Deena dan membawanya untuk duduk disebuah sofa. Meskipun susah untuk memberikan penjelasan kepada Deena yang mempunyai daya pikir diluar rata-rata, Kanna tetap berusaha meyakinkan Deena.
Ulang tahun bukan semata untuk merayakan hari lahir seseorang saja, tetapi juga perjuangan sang ibu. Dimana dia sedang bertaruh nyawa, berjuang dengan peluh untuk mengeluarkan buah hatinya. Namun, kadang kala kita lupa akan perjuangan ibu untuk bisa mengeluarkan kita. Seharusnya ibu yang mendapatkan kejutan dan dan ucapan selamat atas perjuangannya.
[ Jadi pesan Author, saat kalian ulang tahun jangan lupa berikan ucapan terima kasih kepada ibu yang sudah bertaruh nyawa untuk kita. Kiriman doa untuk ibu yang telah tiada. Percayalah, seorang ibu tidak akan meminta apa-apa, dia hanya ingin kita bahagia. ]
Akhirnya Deena bisa tersenyum lebar saat mendengar penjelasan dari papanya. Sebuah kecu.pan mendarat di pipi Kanna.
"Deena sayang Papa," ucapnya.
Disaat yang bersamaan, Zahra datang bersama dengan mbak Ida yang sudah membawakan kue ulang tahunnya.
Deena hanya tertawa pelan saat mamanya memasang wajah cemberutnya.
"Deena sayang Mama, kok," ujarnya. Deena pun langsung memberikan satu kecu.pan di pipi Zahra agar sang mama tak merasa cemburu.
"Terimakasih, Sayang," balas Zahra.
Deena mengangguk pelan, meskipun ada rasa yang mengganjal di hatinya.
"Selamat ulang tahun, Deena," kata mbak Ida yang sedari tadi memegangi kue ulang tahun milik Deena.
Matanya terbelalak saat melihat bentuk keu yang berada ditangan mbak Ida. Dia tidak menyangka jika kuenya berbetuk seperti boneka yang ada ditangannya. Dengan riang Deena segera mendekati mbak Ida.
"Wah ... cantik sekali." Deena merasa sangat takjub. "Call lihat kue ulang tahunku berbetuk kamu."
Acara yang jauh dari kata mewah itu berjalan dengan lancar. Bukan Kanna tak ingin menyewa gedung ataupun mengundang teman-teman Deena. Dia hanya ingin merasakan kebahagiaan yang sederhana bersama keluarganya. Kanna tidak ingin terlalu memanjakan Deena dengan kemewahan. Dia takut jika suatu saat nanti timbul rasa kurang puas dalam diri Deena. Sudah cukup kedua kakaknya merasa kurang dan selalu kurang.
__ADS_1
Sebagai orang yang bisa memahami perasaan Deena, Kanna merasa jika Deena sedang menyembunyikan perasaannya. Meskipun tertawa, tatapi menyimpan lara.
"Dee kamu kenapa? Acaranya gak meriah?" tanya Kanna.
Deena menggeleng dengan pelan. "Gak, Pa. Deena suka kok. Papa 'kan tahu kalau Deena gak suka keramaian. Tapi—"
"Tapi apa? Bilang aja sama Papa. Hari ulang tahun itu gak boleh sedih," bujuk Kanna.
"Deena juga ingin merayakan ulang tahun bersama papa Alzam, Pa."
Tubuh Kanna membeku. Mungkin Kanna bisa mengabulkan seribu permintaan Deena, tetapi tidak untuk yang satu ini. Bukan tidak mau, tetapi Kanna tidak tahu akan mencari Alzam kemana. Sampai saat inipun keberadaan Alzam belum ditemukan. Alzam hilang bak ditelan bumi.
Zahra yang membawakan air minum merasa heran karena suasana yang hening. Bahkan tubuh Kanna yang membeku.
"Ada apa ini?" tanya Zahra untuk memecahkan suasana.
Deena segera mendongak. Begitu juga dengan Kanna.
"Kok pada diam?" lanjut Zahra dengan menyodorkan gelas kearah Kanna.
"Deena juga mau merayakan ulang tahun bersama dengan papa Alzam, Ma," celetuk Deena.
Terasa sangat sulit untuk menelan salivanya, tetapi Zahra berusaha untuk tetap tenang.
"Deena Sayang, 'kan papa Alzam gak tinggal disini, Nak. Dia masih ada di Paris dan sedang berobat untuk kesembuhannya. Besok kalau udah sembuh dia pasti pulang dan bisa merayakan ulang tahun bersama Deena," kata Zahra dengan lembut. "sini Mama kasih kejutan untuk Deen."
Zahra kemudian duduk ditengah-tengah Kanna dan Deena. Menjadi pembatas untuk keduanya.
"Deena, dengerin Mama! Mama punya kejutan untuk Deena," kata Zahra dengan wajah berbinar.
"Apa itu, Ma?"
"Sebentar lagi Deena akan punya adik."
Deena yang mendengar ucapan mamanya langsung membulatkan matanya. "Beneran, Ma?" tanya Deena dengan serius.
Zahra hanya mengangguk pelan dan menempelkan tangan Deena ke perutnya.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Dia ada disini. Doain semoga dia sehat-sehat dan bisa segera ketemu sama Deena, ya."
Seketika wajah Deena mengerut. "Kok didalam perut sih, Ma? Kapan dia masuk ke perut?"