
Meski berat menerima kenyataan, Kanna harus ikhlas. Dia harus kuat! Saat ini dia harus bisa menjadi tempat bersandar untuk ibunya juga. Tidak mudah bagi Kanna untuk menguatkan diri.
"Bu, kami pulang ya," pamit Kanna pada ibunya.
Sebelum pulang, Kanna Kanna sempat membujuk ibunya untuk tinggal di rumahnya. Namun, sang Ibu menolak. Dia akan tetap tinggal di rumahnya sendiri.
"Pulanglah, Nak. Ibu akan baik-baik saja."
Meskipun terasa berat, Kanna harus pulang. Dia harus kembali pada rutinitas lagi. Begitu juga dengan Zahra yang harus kembali kuliah.
"Deena pulang ya, Uti." Kini giliran Deena yang berpamitan pada Uti-nya.
"Iya, Sayang. Kamu jangan nakal, ya!" pesan ibu Kanna.
"Iya, Uti. Deena gak nakal, kok."
Setelah berpamitan, Kanna langsung membawa anak dan istrinya untuk kembali pulang ke rumah.
Pikiran Kanna masih terang yang pada ucapan Deena beberapa jam yang lalu. Setelah kepergian kedua kakaknya, Kanna langsung membawa Deena ke halaman. Namun, siapa yang menyangka jika Deena terus menyebut jika kedua kakaknya adalah orang jahat. Saat Kanna meminta penjelasan kepada Deena, hanya mengatakan jika mereka jahat.
"Dee, gimana keadaan Celine? Apakah dia sudah mau berbicara denganmu. Dari tadi papa lihatin kamu fokus terus dengannya?" tanya Kanna yang sekilas melirik kearah Deena.
Deena ragu untuk menjawab karena Calline melarangnya. Entah mengapa saat ini Calline tak menginginkan orang lain mengetahui jika dirinya sudah bisa berbicara lagi.
"Belum, Pa." Deena menggeleng pelan.
🍂🍂🍂
Sesampainya di rumah, Kanna dan Zahra langsung menuju ke kamar. Rasa lelahnya sudah tak berarti lagi.
Meskipun masih dalam suasana duka, Kanna tak lantas mengabaikan Zahra begitu saja. Keinginan untuk tetap memiliki buah hati begitu menggebu. Kanna akan berusaha mematahkan vonis dokter yang mengatakan jika Zahra tak akan bisa mengandung lagi.
"Mas, kok bengong?" Zahra mengagetkan Kanna yang sedang melamun.
__ADS_1
"Kamu kok tambah kurus sih, Ra?"
Zahra yang dikatakan tambah kurus segera melihat kearah cermin untuk melihat penampilan dirinya.
"Gak, ah! Biasa aja!" sanggah Zahra.
"Tapi aku lihat seperti itu. Gimana kalau aku bantu kamu supaya badan kamu lebih berisi," saran Kanna.
Mata Zahra masih menatap pantulan dirinya dalam kaca. Mungkinkah benar jika dia memang kurus?"
"Masa sih, Mas? Perasaan berat badan udah ideal diangka 50," celetuk Zahra.
Kanna yang sudah tak sanggup untuk menahan lagi rasa yang menggebu, akhirnya berhasil melakukan penyatuan bersama dengan istrinya. Karena rasa lelah yang sudah menyelimuti, Zahra pun langsung tertidur. Namun, tidak dengan Kanna yang memilih untuk melihat Deena.
Tangan Kanna terulur pelan untuk membuka pintu kamar anaknya. Sayup-sayup dia mendengar suara Deena yang sedang berbicara. Mata Kanna akhirnya memincing saat melihat dengan jelas Deena sedang berbicara dengan Calline. Meskipun Kanna tak bisa mendengarkan suara boneka misterius itu, tetapi Kanna yakin jika saat ini Calline sudah mau berbicara dengan Deena.
"Kamu ngapain, Dee?" tanya Kanna yang membuat Deena terkejut.
"Papa ngagetin!"
"Kamu sih, asyik ngomong sendiri. Emang lagi ngomongin apa sih?"
Deena menatap lekat pada papanya dan bertanya, "Jika Deena katakan sesuatu, apakah Papa akan percaya?"
"Memangnya Deena mau bicara apa?"
"Jawab dulu pertanyaan Deena, Pa!"
Akhirnya Kanna mengangguk pelan untuk percaya kepada anaknya. Sudah lama juga Kanna tak mendengarkan celotehan anak sambungnya. Anggap saja itu untuk mengobati hatinya yang sedang rapuh.
"Apakah Papa akan percaya jika Deena mengatakan kecelakaan yang menimpa kakek itu adalah rencana seseorang?"
Kanna langsung membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika Deena mampu berpikir sampai sejauh itu. Ingin tak percaya, tetapi mata Kanna menatap lagi kearah boneka Calline.
__ADS_1
Apakah Calline mengatakan sesuatu kepada Deena? Apakah ucapan Deena bisa dipercaya? Lalu siapa pelakunya, mengapa sampai tega melakukan itu semua pada bapaknya?
"Kamu kok bisa berpikir sejauh itu, Dee? Apakah Calline yang sudah mengatakan kepada mu?"
"Papa pasti tidak akan mempercayai Deena, kan? Deena hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa," lirih Deena dengan bibir yang telah mengerucut.
Kanna yang menyadari kekecewaan anaknya, segera merangkul pelan. "Siapa yang tidak percaya sama Deena? Papa percaya kok. Deena itu anak Papa yang paling hebat, masa Papa gak percaya," ujar Kanna dengan tulus.
Hening untuk beberapa saat karena Deena memilih untuk Diam. Menyadari akan perubahan dari anaknya, Kanna segera membujuk agar Deena bisa kembali ceria lagi.
"Dee, Papa itu sayang banget sama kamu. Papa tahu jika kamu itu anak spesial yang dikirim Allah untuk menjaga mama kamu. Papa tahu jika kamu memiliki penglihatan dan pendengaran yang spesial. Papa juga tahu jika kamu itu berbeda dari anak-anak lainnya. Diusianya yang seperti kamu hanya tahu bermain-main, tapi kamu sudah mampu berpikir dewasa. Jadi apa alasan Papa tak percaya?" jelas Kanna.
"Jika Papa percaya dengan Deena, maka Papa harus menyelidikinya! Mereka udah jahat!"
"Kamu tenang saja, Dee. Jika memang ada unsur kesengajaan dalam kecelakaan itu, Papa tidak akan memaafkan pelakunya!"
🍂🍂🍂
Setelah menghabiskan waktu cutinya, kini Kanna harus kembali mengajar lagi. Begitu juga dengan Zahra yang harus kembali ke kampus. Perlahan Zahra mulai melupakan kejadian yang membuat hatinya terluka. Zahra sudah mengikhlaskan semuanya, terlebih saat ketiga mahasiswi itu langsung dikeluarkan dari kampus.
"Untuk hari ini Deena di rumah dulu dengan mbak Ida!" pesan Zahra sebelum pergi.
Bahkan hingga sampai saat ini mbak Yani, pengasuh Deena tak ada kabarnya. Entah Alzam membuangnya kemana.
"Iya, Ma," jawab Deena patuh.
"Oke, Sayang. Papa juga berangkat ya. Jika ada apa-apa segera hubungi Papa. Jika panggilan tak ada jawaban, maka cukup panggil Papa dalam hati saja, nanti Papa akan langsung menjawabnya," seloroh Kanna sebelum pergi.
"Siap, Pa. Tapi Papa juga harus ingat pesan Deena, ya!" balas Deena dengan senyuman.
"Siap, Bos!"
Zahra hanya mengernyit. Sepertinya dia telah ketinggalan berita terupdate antara Kanna dan juga Deena.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?" tanya Zahra penasaran.
"Kamu selalu saja kepo! Apakah semua wanita diluar sana juga sama seperti kamu yang kepo?" tanya Kanna dengan alis menaut. "sudahlah, ini hanya urusan anak dan ayah."