Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
101 | Patah Hati


__ADS_3

"Kamu!" tunjuk Alzam pada Melani.


Melani sedikit terkejut saat tahu pria yang sedang panik itu adalah bosnya.


"Pak Alzam."


Zahra terkejut saat Melani dan juga Alzam telah saling mengenal. Dia hanya mampu melihat bagaimana Alzam menatap Melani.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Zahra.


"Iya, Mbak. Baru dua hari Mela kenal dengan Pak Alzam. Kebetulan Mela bekerja di kantornya," jelas Mela.


"Mbak?" Alis Alzam menaut. Dia juga heran mengapa Zahra bisa mengenal Melani. terlebih saat Melani memanggil Zahra dengan panggilan 'Kak'.


"Kamu kenal dia, Ra?"


Zahra yang ditanya menganggukkan kepalanya. "Iya. Dia adikku," ucapnya.


Mata Alzam melebar saat melihat Melani. Dia tak menyangka jika akan bertemu dengan adik Zahra yang sempat menghilang selama bertahun-tahun. Padahal saat Alzam menikahi Zahra adiknya masih kecil.


Melani semakin penasaran sebenarnya ada hubungan apa antara Zahra dengan bosnya, mengapa bosnya sangat panik dengan keadaan Deena. Sejenak dia berpikir dengan pria yang ada di hadapannya saat ini. Sekilas dia mengingat kembali nama pria yang pernah dijodohkan kepada Zahra. Pria itu bernama Alzam. Jangan-jangan Alzam yang dimaksud itu memang Alzam yang ada di depannya saat ini.


Alzam. Apakah ini adalah Alzam suaminya mbak Zahra? Jika memang ini suaminya berarti mas Kanna hanya temannya Mbak Zahra. Berarti peluang ku sangat besar untuk mendapatkan mas Kanna, batin Melani


Tak lama, Kanna keluar dari kamar pemeriksaan. Sebenarnya karena sempat dilarang masuk oleh dokter, tetapi karena memaksa untuk masuk ke dalam. Dia hanya ingin memastikan jika tidak terjadi sesuatu yang fatal dengan keadaan Deena.


"Mas, bagaimana keadaan Deena?" tanya Zahra saat pria itu menghampirinya.


"Alhamdulillah, Deena baik-baik saja. Dia hanya mengalami trauma saja. Kecelakaan setahun lalu membuatnya memiliki rasa trauma. Apalagi dengan kejadian tadi," jelas Kanna.


"Apakah sudah bisa lihat?" tanya Alzam segera.


"Sudah. Dia tidak apa-apa kok," kata Kanna

__ADS_1


Alzam langsung bergegas untuk menuju kamar dimana Deena berada. Saat ini hidupnya hanya untuk Deena. Apapun akan dia lakukan demi Deena.


"Sayang, Deena gak papa. Mending kamu pulang dan beristirahat. Biar aku sama Alzam yang menunggu Deena di sini. Kasihan Kala," ujar Kanna pada istrinya.


"Tapi Mas—"


"Percayalah padaku tidak akan terjadi sesuatu kepada Deena."


Melani membeku untuk beberapa saat mendengar kata 'sayang'yang diucapkan oleh Kanna kepada Zahra. Bukankah suami Zahra itu adalah Alzam, lalu mengapa Kanna memanggilnya 'sayang'? sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa semua ini membuat kepala merah pusing.


"Tunggu dulu!" Melani menyela. "Ini konsep cerita bagaimana? Bukankah pak Alzam adalah suami mbak Ara? Lalu mengapa Mas Kanna memanggil dengan sebutan 'sayang'? Mbak Ara sedang tidak berselingkuh kan?" tanya Melani penuh rasa penasaran.


Kanna tersenyum tipis kearah Melani. Begitu juga dengan Zahra. Karena sempat dilanda panik, akhirnya Zahra belum sempat memperkenalkan Kanna kepada Melani.


"Oh iya Mel sampai lupa, kenalin dulu ini suamiku namanya Mas Arkanna, tapi dia dipanggil Kanna," kata Zahra dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Melani menahan napas untuk sesaat. Matanya tak kedip saat melihat Kanna yang ada di depannya. Ternyata Cinta pandangan pertamanya sudah ada yang memiliki, terlebih itu adalah kakaknya sendiri. Melani pun menggeleng pelan untuk menepis kenyataannya.


Zara mengangguk pelan. "Iya. tapi itu dulu karena paksaan dari ibu. Pernikahan kami hanya bertahan selama beberapa bulan saja karena Mas Alzam tidak mencintaiku. Dan aku memilih pergi dari hidupnya untuk melanjutkan hidupku. Siapa yang menyangka jika Allah telah menyiapkan sosok suami yang sempurna untukku," kenang Zahra dengan raut yang berbunga.


Saat ini Melani benar-benar terbungkam dengan penjelasan Zahra. Jadi ternyata Arkanna adalah kakak iparnya. 'Ini tidak mungkin! Melani sadarlah, dia adalah Kakak iparmu. Tak pantas untukmu merebut kebahagiaan kakakmu sendiri. Setelah apa yang dia korbankan untuk keluarga dia harus bahagia.'


Hancur sudah hatinya yang sedang ingin tumbuh.


"Mel, kamu kenapa?" tanya Zahra heran ketika Melani hanya terdiam.


"Mel!" ulang Zahra.


Seketika Melani tersentak dan menatap ke arah Zahra. "Ah iya, Mbak. Ada apa?" tanya Melani gugup.


"Kamu mikirin apa sih?" Kini Zahra baru menyadari jika dia sama sekali belum menanyakan bagaimana kabar ibunya dan juga ayah tirinya. Saat isyarat ingin menanyakannya tiba-tiba seorang perempuan datang untuk memecahkan keheningan mereka.


"Kenapa lagi? Ada apa lagi?" tanya Naura dengan panik. Naura pun segera meneliti bagian tubuh Melani apakah ada luka yang serius. Namun, saat dia menatap ke depan, dia melihat sosok Kanna yang beberapa hari lalu sempat menabrak Melani. "kamu lagi!" tunjuk Naura pada Kana.

__ADS_1


Mata Naura pun kemudian menangkap seorang wanita yang sedang duduk di kursi tunggu tunggu dengan menggendong seorang bayi. Naura mencoba untuk mempertajam penglihatannya, berharap dia benar-benar tidak selalu lihat.


"Mbak Ara," gumamnya.


Zahra pun dan mata yang berkaca-kaca. dia menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Siapa yang menyangka jika hari ini dia akan bertemu dengan dua adiknya yang sudah menghilang selama 5 tahun lebih.


"Naura," ucap Zahra yang sudah tidak bisa menahan air matanya. Kini butiran bening itu membasahi pipinya.


"Astaga ... ini bener kamu Mbak Ara?" tanya Naura yang masih tidak percaya.


"Mbak Na, gak salah. Itu memang mbak Ara," timpal Melani.


Naura pun mengalah duduk di samping Zahra. Dia segera memeluk tubuh kakaknya dengan erat, menumpahkan rasa rindunya yang teramat dalam. "Akhirnya kita dipertemukan lagi Mbak. Kami benar-benar sangat merindukanmu," kata Naura yang juga ikut menangis.


"Aku juga merindukan kalian."


Kanna tak menyangka jika penantian Zahra selama ini terkabulkan. Saat itu Zahra sudah berusaha dengan keras untuk mencari kedua adiknya, tetapi tak membuahkan hasil. Namun, siapa yang menyangka jika hari ini, keduanya akan mendatangi Zahra.


Karena Kanna terus mendesak Zahra untuk pulang, akhirnya Zahra mengajak kedua adiknya untuk singgah ke rumahnya. Dia masih ingin bertanya panjang lebar kepada kedua adiknya mengenai keluarganya.


"Jadi Mbak Ara sudah bercerai dengan mas Alzam?" tanya Naura setelah mengetahui jika Kanna adalah suami Zahra.


"Iya. Pernikahan kami tidak bertahan lama. Kalian tahu sendiri kan jika pernikahanku dengan mas Alzam hanya sebagai pelunas hutang ibu saja. Di antara kami berdua tidak ada cinta, terlebih Mas Azam memiliki wanita yang dicintainya dan itu bukan aku." Meskipun sakit Zahra kembali menceritakan bagaimana kisah hidupnya bersama Alzam.


"Mbak Ara maafkan bapak dan Ibu yang sudah membuat Mbak Ara menderita. Seburuk apapun mereka kepada kita tak akan mengubah kenyataan jika mereka adalah orang tua kita," kata Naura yang bisa merasakan perasaan Zahra.


Nasib Zahra masih mending ketimbang dia dan juga Melani. Jika Zahra dinikahkan dengan pria kaya, berbeda dengan dirinya yang harus mengemis di jalanan untuk menyambung hidupnya. Bahkan uang pemberian dari pria yang menikahi Zahra pun telah dihamburkan begitu saja oleh kedua orang tuanya.


"Jadi bagaimana keadaan ibu sekarang?" tanya Zahra dengan pelan. Sebenarnya dia kecewa tetapi seperti ucapan Naura, seberapapun dia adalah orang tua kita.


Naura mendengus pelan. Dia membuang napas beratnya. "Ibu meninggalkan kami karena tidak tahan dengan sikap bapak yang tak bisa berubah. Bahkan semakin Hari semakin menjadi."


Zahra pun hanya bisa mende.sah pelan. Dia tidak tahu bagaimana kedua adiknya untuk tetap bertahan sementara saat itu mereka masih di bawah umur.

__ADS_1


__ADS_2